The Six Steps of Problem Solving
11 Comments
Several days ago I had a training for problem solving and decision making. It was a great and important training. Because I think these steps are very important, especially for people who are working.
I believe every people has his or her kind of problems. It could be related with work, family, money, and many more. And that’s why, skill and knowledge about how to solve your own problem is very important.
So these are the steps. Basically, In the simple ways, the steps are consists of six steps: problem identification, root cause definition, solution generation, solution decision, implementation, and result monitoring. Let’s take a brief look of each of this.
Profesi Scalable dan Non-Scalable
18 CommentsSudah pernah baca The Black Swan? Ada sebuah sudut pandang menarik dari Nicholas Taleb mengenai segala sesuatu (ia menyebutnya variabel). Segala variabel dapat dipisahkan antara scalable dan non scalable.
Non-scalable mewakili hal-hal yang bisa diukur. Ia memiliki sifat-sifat mendekati kepastian. Sementara scalable mewakili hal-hal yang tidak terukur. Tingkat keacakannya tinggi. Anda tidak bisa memprediksi semua hal di sini.
Salah satu contoh yang menarik dari Taleb di bukunya itu adalah pembahasan mengenai profesi. Ada profesi yang sifatnya non-scalable. Kontraktor, akuntan, dokter, dan konsultan misalnya. Penghasilan dalam profesi ini secara kasar akan sejajar dengan sesuatu yang bisa diukur seperti jam kerja, jumlah pasien, keberhasilan kasus-kasus yang diselesaikan, dan jumlah client. Sementara profesi yang scalable, seperti pemusik, penulis buku, dan artis, jumlah penghasilannya dapat jauh berlipat ganda meski jam kerja yang digunakannya sedikit atau sama dengan rekan-rekan seprofesinya. Semua penulis cukup menulis satu kali untuk sebuah buku. Tapi lihat perbedaan penghasilan di antara mereka. Pemusik cukup sama-sama merekam lagu dan mengeluarkan album. Tapi kita semua tahu bedanya penghasilan artis top dengan bukan kan? Mereka tidak dilihat berdasarkan jam kerjanya. Tapi idenya.
Mungkin Anda mengira tulisan ini dibuat untuk merekomendasikan profesi yang scalable. Tapi bahkan Taleb di bukunya sendiri tidak merekomendasikan seperti itu. Profesi scalable bisa memberikan Anda jumlah jam kerja yang lebih sedikit dan penghasilan yang berlimpah. Tapi berapa persen yang sukses? Berapa banyak pengusaha perangkat lunak yang sukses seperti Bill Gates, berapa banyak penulis yang menjual buku sebanyak J.K. Rowling, dan berapa banyak penyanyi yang menginspirasi seperti Michael Jackson?
Berikut kutipannya *
A scalable profession is good only if you are successful; they are more competitive, produce monstrous inequalities, and are far more random with huge disparities between efforts and rewards — a few can take a large share of the pie, leaving others out entirely at no fault of their own.
Pembagian kue di dalam profesi yang sifatnya non-scalable terproporsi yang sama rata, dan kita tidak bisa berbuat banyak untuk itu. Sementara kue untuk hal-hal yang scalable dapat menjadi sangat tidak adil. Satu pihak bisa mendapat lebih dari separuhnya untuk diri sendiri, sementara yang lainnya berusaha mengais sisanya.
Ulasan mengenai scalable dan non-scalable ini mengingatkan saya akan perdebatan antara pilihan karir yang saya kira hadir di banyak diri orang. Apakah berkarir dengan bekerja atau berwirausaha? Sepertinya pembahasan plus minusnya sudah banyak dan kita semua tahu. Mungkin yang saya seringkali ingin tahu adalah, Anda cenderung ke mana?
Indonesia butuh banyak pengusaha loh. Penganggurannya banyak sekali.
* Dikutip dari Ben Casnocha, yang juga dikutip dari buku The Black Swan: The Impact of Highly Improbable.
Belajar dengan Berbagi
17 Comments
Saya diingatkan atas satu hal hari ini. Salah satu cara belajar yang paling efektif adalah dengan berbagi.
Tadi sore saya mendapat instruksi mendadak untuk mempresentasikan beberapa buah kasus. Sejujurnya sedikit merasa tidak siap plus grogi karena beberapa orang dari regional akan ikut serta dan ada top manajer pula.
Dari beberapa kasus tersebut, ada dua buah kasus yang saya presentasikan secara benar-benar berbeda. Kasus pertama saya paparkan dengan bahasa yang terbata-bata dan tidak jelas. Sering sekali kehilangan kata. Setiap ditanya, saya selalu bingung. Rasanya ingin cepat selesai saja. Sementara di kasus kedua, saya bisa menjelaskannya dengan sangat lancar, bahkan sempat berargumen segala.
Ketika meetingnya selesai, sejenak terpikir di oleh saya. Kenapa output di keduanya berbeda sekali? Padahal sama-sama dikerjakan, sama-sama menghabiskan waktu, dan sama- sama cukup sulit.
Jawabannya ternyata sederhana. Untuk kasus kedua, saya menjelaskan kepada orang lain jauh lebih banyak daripada kasus pertama.
Kasus kedua saya presentasikan dan paparkan dalam dua meeting, dokumentasi, juga penjelasan informal ke sejumlah orang. Sementara kasus kedua saya kebanyakan saya pegang sendiri dan paling jauh simpan di catatan saja.
Dari sini apa yang bisa dilihat? Berbagi sebenarnya merupakan proses pembelajaran yang baik. Ketika berbagi, saya merasa terpacu untuk berpikir. Ini seperti proses latihan. Semakin sering kita berbagi, kita akan mendapatkan hal-hal baru yang tidak terpikirkan sebelumnya. Kita pun akan bisa melihat korelasi antara satu hal dengan yang lain secara lebih luas sehingga memperkuat pemahaman. Pemahaman akan konsep pun makin teruji karena dengan berbagi kemungkinan besar diskusi juga akan terjadi.
Berbagi itu salah satu bagian dari latihan, dan practice makes perfect. Jadi mungkin saran saya dari apa yang saya alami adalah, jika ada media yang dapat digunakan untuk berbagi, adalah satu hal yang sangat baik untuk menggunakannya. Karena pelajaran yang kita peroleh dari berbagi tidak akan merugikan kita, tapi justru membawa kita ke level pemikiran baru yang tidak kita miliki sebelumnya.
n.b. Gambar diambil dari sini.
Konsistensi
6 Comments
Konsistensi mahal harganya. Sesuatu yang tidak banyak orang punya.
Boleh kita punya visi hebat, perencanaan yang detil dan terarah, tim yang kuat, dan semangat yang menggebu-gebu. Tapi tanpa kekuatan konsistensi, segalanya akan percuma. Visi tinggallah impian, rencana hanya tertulis di atas kertas, tim yang kuat kehilangan arah, dan semangat pun hilang perlahan-lahan.
Bicara mengenai konsistensi mengingatkan saya akan empat komponen di The 8th Habit yang akan mendorong kita menemukan suara kita (to find our voice), yaitu vision, passion, conscience, and discipline. Konsistensi merupakan bagian dari disiplin. Tanpa sikap disiplin, semua komponen yang lain akan sia-sia. Karena usaha kita tidak akan berkelanjutan. Sementara apapun yang kita alami di hidup ini ada prosesnya.
Tak percaya? Give ‘consistency’ a try. Mencari bukti dari saya? Nggak ada. Saya masih belajar kok untuk bersikap konsisten.
Salah satunya adalah konsisten mengisi artikel di blog ini
Saatnya Mendukung Hasil Pemilu
7 CommentsSedikit uneg-uneg dan pemikiran dari hasil pemilu hari ini.
Saya yakin semua orang Indonesia minimal memiliki kepercayaan di dalam hatinya bahwa pasangan capres no. 2, Susilo Bambang Yudhoyono – Budiono memiliki peluang terbesar untuk memenangi perebutan suara di pemilu presiden hari ini.
Kalau kita menilik hasil quick count dari keempat lembaga survei hari ini, kepercayaan di atas semakin terbukti kebenarannya. SBY-Budiono meraih suara lebih dari 50% di keempat hasil quick count tersebut. Bahkan tiga di antaranya mencapai 60%. Megawati-Prabowo menduduki peringkat kedua dengan suara sebanyak 25%, sementara JK-Wiranto di tempat ketiga dengan kisaran suara 12-15%.
Mengherankan. In my humble opinion, hasil ini tidak mempresentasikan ekspektasi pribadi. Bagi saya. Mega-Prabowo bukan calon favorit. Saya rasa kita semua tahu bagaimana kualitasnya ‘terbanting’ di seluruh debat pilpres. SBY-Budiono memang favorit, tapi saya tidak melihat pasangan ini harus menang telak mengingat beberapa kali kampanyenya tidak mencerminkan kenyataan sebenarnya (dengan memaparkan hasil pemerintahan seolah-olah sukses) dan ulah tim suksesnya yang tidak simpatik. Di tengah situasi seperti itu, saya memandang JK-Win seperti sesuatu yang fresh di tengah carut marut contoh yang lain itu, meski banyak kekurangannya. Kampanyenya menarik, dia bisa menyelesaikan masalah-masalah dengan solusi yang praktis. Bukan konseptual dan mengawang-awang seperti calon lainnya. Dari hal-hal yang saya lihat itu, rasanya kok hasil calon Mega-Prabowo dan SBY-Budiono terasa terlalu tinggi, dan calon JK-Wiranto terlalu kecil.
Hasil yang mengherankan ini bagi saya seolah didukung dengan masalah-masalah yang muncul beberapa hari menjelang pemilu hingga hari ini. Kadang dalam hati ini bertanya-tanya. Apakah ada kecurangan dalam proses pemilihan kali ini? Apakah ada rencana besar yang tersembunyi di balik pemilu yang bersih dan demokratis?
Semua itu bisa membawa kita ke dalam kesimpulan kalau pemilu ini tidak sempurna. Ada pelanggaran terjadi, ada kecurangan terjadi. KPU sebagai penyelenggara juga tidak sempurna karena masih menyisakan masalah DPT hingga detik-detik terakhir.
Tapi di luar itu semua, saya cukup takjub dengan pemilu tahun ini. Sebuah kemajuan yang luar biasa nggak sih? Coba saja bandingkan dengan pemilu tahun 2004 kemarin. Sekarang ada debat capres. Quick count dilakukan beberapa lembaga survei dan bisa menjadi acuan. Kalau kita melihat ke pemilu legislatif, kini setiap orang punya hak untuk mencalonkan diri dan mengkampanyekan dirinya untuk menjadi wakil rakyat. Selain itu ada fenomena menarik juga di dunia maya dengan hadirnya Politikana, yang kini jadi sarapan saya setiap hari.
Negeri ini seperti sedang belajar, dengan berawal dari sesuatu yang awalnya tidak sempurna, penuh tambal sulam, dihadiri ketidakkompetenan, tapi on track. Pelan-pelan saya merasa proses ini akan bisa membawa Indonesia ke negara yang lebih demokratis. Asal kualitas prosesnya tidak jalan di tempat.
OK, kita boleh optimis melihat demokratisasi. Tapi hal lain saya rasa juga penting adalah dukungan ke presiden terpilih. Seperti apapun presidennya, sehebat apapun visi dan misinya, jika tidak ada dukungan dari seluruh elemen pemerintahan dan rakyat, bakal tidak ada artinya. Itu yang saya rasakan ketika debat capres kemarin. Calon-calon presiden kita itu punya konsep-konsep yang bagus untuk menyelesaikan masalah-masalah bangsa ini. Bahkan jika tidak terlalu bagus, minimal pasti ada perbaikan jika semuanya berjalan dengan baik. Tapi sayangnya, semuanya masih dalam tataran konsep. Siapa yang menjamin bisa berjalan benar saat eksekusinya?
Well.. that’s all. Selamat untuk SBY-Budiono karena memenangi quick count hari ini. Siapapun presiden yang terpilih, mari kita dukung dengan segenap hati. Karena negara kita tidak akan maju kalau kita tidak bahu membahu membangun negeri ini.
Sekian uneg-unegnya.

Comments