Status Update
One CommentWriting is hard. I mean it, seriously. But I always enjoy it.
The biggest problem is the spirit, which mostly come from the people around you (or maybe around you ‘virtually’). If they blog, maybe I can give myself a time to blog too. If they don’t, I believe they will not spend their time for blogwalking like in the good old days. So, who will read my post?
That is what happened in the blogosphere. We still can found blogs everywhere, but only some of them are updated regularly. The others are not.
Some days ago I checked my RSS links and found that most blogs that I’ve subscribed was already dead. Some of them were not updated for even more than a year! In the other hand, there were some blogs that are still existed. In the other hand, I found many blogs have been starting to raise, which has different approaches. Now, blogs are less personal. Most of them now managed by a group of people or a company, for a specific topic.
But, since this blog is still alive, why don’t I give you my status updates? Why I look like a ‘busy’ man these days? Below are the things that I remember.
Work. I kept blaming work for all of the other things that I not pay attention for. But now the good thing is, it started to be more enjoyable. I don’t know why. Is it because I already passed the ‘acceptance’ phase? No. It is just because now I already know my destination. When you know your destination, it’s becoming easier to chase it, right?
English Course. It has been a year and a half. I don’t know if my English is already transformed into a better one – I bet it’s still bad. But anyway, Wall Street Institute is a very good environment to study. I recommend it. If you decide to take it, spend as much as your time to train your English there. The environment is great. Full English, highly competent teacher, supportive personal tutor, and flexible schedule. What else do you want?
Personal MBA. I am a huge fan of Personal MBA. That’s why when Josh Kaufman (the author) released Personal MBA Business Crash Course, it didn’t take much time for me to decide registering myself on it. So far, the course has been giving me a lot of new perspectives in business basics and human minds. It is simple and essential. Keep rockin’ Josh!
Android. Yes I am using a phone with this platform again. After a disappointment with G1 and later on Blackberry Bold, I decided to buy Nexus One. I love this phone! it gives me a lot of fun in using it and exploring it.
Last but not least, Her. Spending quality time with her. Watching movies, shopping, and exploring new restaurants are the list of activities we often have during the weekends. Sometimes we just travel to Bandung or Bogor to get away from Jakarta. It’s great when you have someone that you can share your life of, isn’t it?
That’s my status updates for today. Hopefully will be a first step to other articles next time. Have a nice day everyone!
* Picture is taken from here.
The Six Steps of Problem Solving
12 Comments
Several days ago I had a training for problem solving and decision making. It was a great and important training. Because I think these steps are very important, especially for people who are working.
I believe every people has his or her kind of problems. It could be related with work, family, money, and many more. And that’s why, skill and knowledge about how to solve your own problem is very important.
So these are the steps. Basically, In the simple ways, the steps are consists of six steps: problem identification, root cause definition, solution generation, solution decision, implementation, and result monitoring. Let’s take a brief look of each of this.
Profesi Scalable dan Non-Scalable
19 CommentsSudah pernah baca The Black Swan? Ada sebuah sudut pandang menarik dari Nicholas Taleb mengenai segala sesuatu (ia menyebutnya variabel). Segala variabel dapat dipisahkan antara scalable dan non scalable.
Non-scalable mewakili hal-hal yang bisa diukur. Ia memiliki sifat-sifat mendekati kepastian. Sementara scalable mewakili hal-hal yang tidak terukur. Tingkat keacakannya tinggi. Anda tidak bisa memprediksi semua hal di sini.
Salah satu contoh yang menarik dari Taleb di bukunya itu adalah pembahasan mengenai profesi. Ada profesi yang sifatnya non-scalable. Kontraktor, akuntan, dokter, dan konsultan misalnya. Penghasilan dalam profesi ini secara kasar akan sejajar dengan sesuatu yang bisa diukur seperti jam kerja, jumlah pasien, keberhasilan kasus-kasus yang diselesaikan, dan jumlah client. Sementara profesi yang scalable, seperti pemusik, penulis buku, dan artis, jumlah penghasilannya dapat jauh berlipat ganda meski jam kerja yang digunakannya sedikit atau sama dengan rekan-rekan seprofesinya. Semua penulis cukup menulis satu kali untuk sebuah buku. Tapi lihat perbedaan penghasilan di antara mereka. Pemusik cukup sama-sama merekam lagu dan mengeluarkan album. Tapi kita semua tahu bedanya penghasilan artis top dengan bukan kan? Mereka tidak dilihat berdasarkan jam kerjanya. Tapi idenya.
Mungkin Anda mengira tulisan ini dibuat untuk merekomendasikan profesi yang scalable. Tapi bahkan Taleb di bukunya sendiri tidak merekomendasikan seperti itu. Profesi scalable bisa memberikan Anda jumlah jam kerja yang lebih sedikit dan penghasilan yang berlimpah. Tapi berapa persen yang sukses? Berapa banyak pengusaha perangkat lunak yang sukses seperti Bill Gates, berapa banyak penulis yang menjual buku sebanyak J.K. Rowling, dan berapa banyak penyanyi yang menginspirasi seperti Michael Jackson?
Berikut kutipannya *
A scalable profession is good only if you are successful; they are more competitive, produce monstrous inequalities, and are far more random with huge disparities between efforts and rewards — a few can take a large share of the pie, leaving others out entirely at no fault of their own.
Pembagian kue di dalam profesi yang sifatnya non-scalable terproporsi yang sama rata, dan kita tidak bisa berbuat banyak untuk itu. Sementara kue untuk hal-hal yang scalable dapat menjadi sangat tidak adil. Satu pihak bisa mendapat lebih dari separuhnya untuk diri sendiri, sementara yang lainnya berusaha mengais sisanya.
Ulasan mengenai scalable dan non-scalable ini mengingatkan saya akan perdebatan antara pilihan karir yang saya kira hadir di banyak diri orang. Apakah berkarir dengan bekerja atau berwirausaha? Sepertinya pembahasan plus minusnya sudah banyak dan kita semua tahu. Mungkin yang saya seringkali ingin tahu adalah, Anda cenderung ke mana?
Indonesia butuh banyak pengusaha loh. Penganggurannya banyak sekali.
* Dikutip dari Ben Casnocha, yang juga dikutip dari buku The Black Swan: The Impact of Highly Improbable.
Belajar dengan Berbagi
18 CommentsSaya diingatkan atas satu hal hari ini. Salah satu cara belajar yang paling efektif adalah dengan berbagi.
Tadi sore saya mendapat instruksi mendadak untuk mempresentasikan beberapa buah kasus. Sejujurnya sedikit merasa tidak siap plus grogi karena beberapa orang dari regional akan ikut serta dan ada top manajer pula.
Dari beberapa kasus tersebut, ada dua buah kasus yang saya presentasikan secara benar-benar berbeda. Kasus pertama saya paparkan dengan bahasa yang terbata-bata dan tidak jelas. Sering sekali kehilangan kata. Setiap ditanya, saya selalu bingung. Rasanya ingin cepat selesai saja. Sementara di kasus kedua, saya bisa menjelaskannya dengan sangat lancar, bahkan sempat berargumen segala.
Ketika meetingnya selesai, sejenak terpikir di oleh saya. Kenapa output di keduanya berbeda sekali? Padahal sama-sama dikerjakan, sama-sama menghabiskan waktu, dan sama- sama cukup sulit.
Jawabannya ternyata sederhana. Untuk kasus kedua, saya menjelaskan kepada orang lain jauh lebih banyak daripada kasus pertama.
Kasus kedua saya presentasikan dan paparkan dalam dua meeting, dokumentasi, juga penjelasan informal ke sejumlah orang. Sementara kasus kedua saya kebanyakan saya pegang sendiri dan paling jauh simpan di catatan saja.
Dari sini apa yang bisa dilihat? Berbagi sebenarnya merupakan proses pembelajaran yang baik. Ketika berbagi, saya merasa terpacu untuk berpikir. Ini seperti proses latihan. Semakin sering kita berbagi, kita akan mendapatkan hal-hal baru yang tidak terpikirkan sebelumnya. Kita pun akan bisa melihat korelasi antara satu hal dengan yang lain secara lebih luas sehingga memperkuat pemahaman. Pemahaman akan konsep pun makin teruji karena dengan berbagi kemungkinan besar diskusi juga akan terjadi.
Berbagi itu salah satu bagian dari latihan, dan practice makes perfect. Jadi mungkin saran saya dari apa yang saya alami adalah, jika ada media yang dapat digunakan untuk berbagi, adalah satu hal yang sangat baik untuk menggunakannya. Karena pelajaran yang kita peroleh dari berbagi tidak akan merugikan kita, tapi justru membawa kita ke level pemikiran baru yang tidak kita miliki sebelumnya.
n.b. Gambar diambil dari sini.
Konsistensi
6 Comments
Konsistensi mahal harganya. Sesuatu yang tidak banyak orang punya.
Boleh kita punya visi hebat, perencanaan yang detil dan terarah, tim yang kuat, dan semangat yang menggebu-gebu. Tapi tanpa kekuatan konsistensi, segalanya akan percuma. Visi tinggallah impian, rencana hanya tertulis di atas kertas, tim yang kuat kehilangan arah, dan semangat pun hilang perlahan-lahan.
Bicara mengenai konsistensi mengingatkan saya akan empat komponen di The 8th Habit yang akan mendorong kita menemukan suara kita (to find our voice), yaitu vision, passion, conscience, and discipline. Konsistensi merupakan bagian dari disiplin. Tanpa sikap disiplin, semua komponen yang lain akan sia-sia. Karena usaha kita tidak akan berkelanjutan. Sementara apapun yang kita alami di hidup ini ada prosesnya.
Tak percaya? Give ‘consistency’ a try. Mencari bukti dari saya? Nggak ada. Saya masih belajar kok untuk bersikap konsisten.
Salah satunya adalah konsisten mengisi artikel di blog ini

Comments