Log in | Jump |

/brahmasta/journal

Life journey and inspirations

The Only One

Posted on June 14th . 6 Comments

We know that world is full of uncertainty. Yesterday comes as a history. It has many stories to argue and understand. History is our main source for learning. We, humans, understand this. We keep our histories, learn from it, and try to figure out what inside the mystery of future.

Well, We think we understand the world. We try to make our own conclusion. We think that we know. We believe we can predict. Several economic analyses done by economic experts. Policies created by governments. Technology inventions founded by engineers. Sales forecasts made by the enterprises. We are chasing the future. Some people with optimism. Some others with fearfulness.

Some people put their passion hard work on it. Working more than twelve hours a day. They are preparing for their future. They are searching for success, a word that driving most of us now, but not many of us can really define it. But again, the world is full of uncertainty. All predictions can be wrong. Beside that, there are several occasions that you’ll never predict. People on Twin Tower didn’t know that a plane will crush World Trade Center at 9/11. If you are an entrepreneur, there must be a possibilities when even your colleague will try to bring you down. If you are an engineer, you’ll never know that your knowledge will never used anymore in the future.

In Outliers, Malcolm Gladwell tell us that all the successful people not only rely on their hard work to gained their success. One example is Bill Gates, who is one of the luckiest person in the world. He is one the first people who have skills and capabilities in microcomputers, after he and his friends have a chance to spend thousands of hours programming in several labs. It’s true that without passion and hard work he cannot be as successful as now. But instead of that, he was coming just in time. When microcomputers started to rise, and people with capabilities like him were hardly found.

So in the world of uncertainty, to whom we should rely on? We can design our life, but unexpected things keep coming. How can we manage it? How can we face it?

This question keep banging my head. It popped out several times and after that I tried to forget it. After several days, when I was driving, it popped again. But at this time. Something in my mind said to me that the answer is easy.

The answer is God.

The only one, that we can rely on is God.

I have a time when I feel I was very lucky. All the good things keep coming to me. All things that I wanted came to be true. When I tried to compare myself now, before, and at that time, there is only one difference. At that time, I put my everything to God. I kept myself praying for everything whole heartedly.

Now I realize that we are still a human, who can predict, invent, or making conclusion. We can put our hard work for everything. But the thing is, our knowledge is limited, and the future is always a mystery. Our believe could be an answer. God will help us. Sometime it feels too hard for us to understand. But that’s the beauty of it.

Our world still have many of things that have to learn. As like mentioned by Camerlengo Patrick McKenna at Angels and Demons.

Science and religion are not enemies. There are simply some things that science is too young to understand.

Susahnya Servis iPod

Posted on May 10th . 9 Comments

Saya punya iPod Nano Chromatic yang baru berumur dua bulan. Selama dua bulan ini, sang iPod sudah menemani ke mana-mana. Saya biasanya pasang di mobil untuk menemani sepanjang perjalanan. Menggantikan CD dan radio yang sudah mulai membosankan.

Namun ternyata punya iPod bisa bosan juga. Karena nggak ada lagu baru yang lagi didengerin (baca: download), akhirnya saya kembali ke radio atau malah ngobrol via speakerphone sepanjang perjalanan*. Hingga akhirnya sang iPod tergeletak tidak jelas di mobil, sampai suatu saat saya temukan mati. Saya langsung masukkan ke kantong celana, masuk ke dalam rumah, ganti baju, terus tidur.

Saya lupa kalau si iPod berada di celana. Dan sang iPod pun terendam bersama cucian.

Untungnya setelah ditemukan, dia masih bisa nyala. Setelah dikeringkan, saya coba nyalain lagi. Suaranya masih bagus. Fungsi-fungsinya masih jalan. Sayang ada kerusakan. Ada air yang mengendap di dalam dan baterainya cepat drop.

Saya akhirnya bawa si iPod ke servis resmi. Saya udah nggak peduli masalah garansi. Garansi kan berlaku untuk hal-hal yang bukan kesalahan kita. Ini jelas kesalahan saya.

Tapi sayang sekali jawaban dari tempat servis-nya adalah: Mereka tidak bisa bantu.

Saya kaget, dan menanyakan kenapa. Ternyata mereka tidak diperbolehkan untuk membuka isi iPod-nya (juga tidak dilatih untuk memperbaikinya). Jadi satu-satunya jalan adalah menukar itu dengan yang baru, yang mana selisih harganya hanya seratus ribu lebih murah dengan yang baru. Padahal kalau menurut saya (yang sok tahu) perbaikannya sederhana, bersihin kerak-kerak air di kaca dalam kemudian ganti komponen yang berhubungan dengan baterainya. Tapi ternyata nggak semudah itu. Mereka malah menyarankan saya untuk mencari tempat servis tidak resmi. Hal serupa akan terjadi buat iPhone. Mereka nggak bisa perbaiki kerusakan-kerusakan seperti itu karena tidak boleh dibuka.

Buat saya mengejutkan ya, untuk barang sekelas iPod dan iPhone, servis sederhana seperti itu tidak bisa diberikan. Sudah barangnya mahal, aksesorisnya mahal, servisnya menyulitkan. Saya jadi mikir, mungkin service seperti itu-nya belum dibuat di Indonesia ya? Atau dia memang mainnya ’sangat tertutup’ begitu?

Ya sudahlah saya nggak mau berpikir terlalu banyak dulu. Tempat-tempat servis ’swasta’ untuk sang iPod.

Mungkin pesan moralnya sementara adalah. Jangan cuci iPod Anda. :)

* Jangan ditiru ya. Berbahaya. Hehe..

Cacar

Posted on May 1st . 6 Comments

CacarSudah hampir satu minggu saya kena cacar air. Ada-ada saja. Tiba-tiba dapat penyakit yang harusnya saya alami 15 tahun lalu. Kini saya sudah memasuki hari kelima jadi tahanan rumah.

Dari tiga penyakit berat yang pernah saya alami, termasuk sekarang, pelajarannya sama. Jangan pernah anggap sepele gejala-gejala pusing, demam, dan kelelahan. Saya sering takut menjadi orang yang terlalu manja. Sedikit-sedikit pusing, sedikit-sedikit sakit. Tapi tubuh kita tidak mungkin bohong. Sakit pasti muncul karena sesuatu.

Adik saya kemarin-kemarin nelpon dan ngomong, “Bukan salah kamu kok Mas, dulu operasi amandel sih. Jadi daya tahan tubuhnya kurang”. Wallahualam. Mungkin itu juga yang bikin saya sering sakit.

Meski dua tiga hari pertama rasanya amit-amit. Gatal, demam, pusing bercampur jadi satu, lumayan deh. Setidaknya saya dapet liburan :)

n.b. Gambar diambil dari sini. Sebenarnya bukan cacar sih, tapi lucu gambarnya :)

Kisah Hidup Supir-Supir Taksi

Posted on April 14th . 13 Comments

taksi_1Kalau lagi naik taksi sendirian dan menjalani rute yang jauh, biasanya saya akan mengajak sopir taksi tersebut ngobrol ngalor ngidul. Mulai dari hal-hal yang sepele sampai serius. Biasanya yang keluar itu curhatan, kisah hidupnya, atau pandangan politik. Sampai sekarang, saya masih ingat beberapa yang menarik.

Sampel pertama adalah seorang supir taksi yang sangat uzur. Ia mengeluh kepada saya atas kesulitan ekonomi yang dia alami. Kemudian dia membandingkan masa-masa sekarang dengan orde baru dan orde lama. Dia tampaknya begitu bangga dengan Soekarno. Secara detil dia jelaskan bagaimana kehidupan masa kecilnya saat Soekarno masih berkuasa. Makan siang dan susu gratis di sekolah, sekolah libur kalau dia datang sepulang dari luar negeri untuk menyambut dia datang. Kemudian dia juga bercerita bahwa Soekarno-lah presiden terbaik, yang benar-benar memperjuangkan namanya rakyat. Terutama rakyat kecil. Soekarno tidak mau membuat rakyatnya menderita.

Sampel kedua, sopir taksi flamboyan. Dia punya tujuh istri dan berencana menambah lagi. Dia punya usaha sampingan penyewaan mobil, dan secara berulang-ulang menjelaskan kepada saya bahwa itu sangat menguntungkan. Kami sempat melakukan perhitungan berapa yang dia dapatkan sebulan dari bisnisnya itu. Satu hal yang cukup aneh adalah profesi sampingannya adalah penyanyi dangdut. Dia sempat menanyakan kepada saya apakah sudah pernah melihat video klipnya, dan sampai saya turun dari taksi pun, dia mengingatkan saya untuk melihat video klipnya.

Continue reading “Kisah Hidup Supir-Supir Taksi” →

Golput, Caleg, dan Pemilu Online

Posted on April 10th . 4 Comments

logo_pemilu2009aTahun ini, saya tidak ada di dalam daftar pemilih. Golput. Saya seharusnya terdaftar sebagai pemilih di Bekasi, karena KTP saya sekarang dari sana. Tapi katanya sih karena waktu disurvei tidak ada di tempat, saya tidak terdaftar. Sementara proses KTP di Jakarta masih butuh sekitar enam bulan lagi buat selesai. Jadilah kami sekeluarga tidak disurvei. Sekeluarga golput.

Kemarin saya dan Bapak saya sempat mendatangi TPS dekat rumah untuk memastikan nama tidak ada di daftar. Kami nggak rela kalau ternyata kami terdaftar dan nggak ada yang memberitahu. Takut surat suaranya dipakai macem-macem. Tapi ternyata memang tidak ada. Kami lalu melihat foto-foto caleg yang ada di sana, dan mengambil kesimpulan tidak salah juga kalau golput. Satu-satunya calon yang kami kenal Wanda Hamidah! Padahal entah sudah berapa hari kami melalui hari-hari dengan berbagai poster, spanduk, dan baligo caleg di sepanjang jalanan. Saya jadi merasa effort semua caleg itu sia-sia.

Ada dua pihak yang salah mungkin di sini. Pertama saya yang apatis, kedua caleg yang tidak komunikatif. Sebagai warganegara, mungkin mestinya saya proaktif. Berusaha mendaftarkan nama saya jauh-jauh hari sebelumnya, mencari info visi dan misi caleg-caleg Jakarta Selatan, dan kemarin datang untuk mencontreng dengan yakinnya. Caleg juga mestinya nggak cuma pasang poster doang. Seorang caleg idealnya menurut saya pasti punya visi yang jelas. Turun dong ke daerah-daerah. Visinya yang menyebar, bukan fotonya. Tulis di selebaran misalnya, atau kalau mau lebih canggih lagi, bikin blog atau minimal Facebook lah. Dari sekian banyak poster yang ada di jalan, sedikit sekali yang menggunakan media internet untuk berkomunikasi. Padahal sebenarnya murah dan efektif. Meski jumlah yang membaca sangat sedikit.

Continue reading “Golput, Caleg, dan Pemilu Online” →