Mengamati bagaimana mahasiswa belajar di kampus dalam sebuah kelas, saya menemukan kembali sebuah kenyataan tidak baik tapi terlalu biasa untuk kita, yaitu bagaimana kita tidak diberikan mentalitas untuk menunjukkan minat terhadap apa yang kita pelajari.
Hal ini kembali saya dapatkan sewaktu ngobrol-ngobrol di rumah teman Minggu malam kemarin. Ada beberapa orang di sana, dan salah satu yang kami omongin adalah bagaimana menyedihkannya proses belajar mengajar di kelas tersebut.
Mahasiswa di kelas selalu diam mendengarkan dosen. Yang ini bagus sih. Tapi apakah mereka mendengarkan? Apakah mereka memikirkan kata-kata dosen di depannya? Pertanyaan terakhir ini seringkali terjawab dengan kata tidak karena setiap suatu materi selesai diterangkan, biasanya dosen akan menanyakan apakah ada pertanyaan, dan sebagian besar kuliah yang saya ikuti selalu mahasiswanya diem aja. Mungkin mereka udah ngerti semua, mungkin mereka mengerti sedikit terus tidak ingin berpikir lebih lanjut sampai menimbulkan sesuatu yang ingin ditanyakan, mungkin juga mereka mengerti dan tidak berani bertanya, mungkin juga tidak mengerti sama sekali. Kemungkinan besar sih, menurut saya yang tiga terakhir.
Untuk kasus mahasiswa tidak mengerti sama sekali, yah kemungkinan besar dia tidak mendengarkan. Tapi kalo tidak berani bertanya dan bahkan tidak bertanya padahal tidak mengerti, salah satu sebabnya adalah mentalitas belajar yang di kelas itu.
Sering banget, sewaktu ada mahasiswa yang benar-benar mendengarkan dosen dan mengajukan pertanyaan bagus, jadi bahan “cemoohan” di kelas. Cemoohan ini bukan penghinaan, tapi biasanya dalam bentuk pujian seperti : “Cieeeeee..”, “Weis… (sambil menunjukkan muka terkagum-kagum)”, dan “Ckckckck.. (dengan ekspresi kagum yang hiperbolis)”. Saya nggak tau kenapa budaya ini bisa muncul, tapi itu jelas menekan orang yang bertanya, meskipun itu maksudnya memuji, sehingga akhirnya untuk selanjutnya memilih untuk tidak bertanya. Jika misalnya dosen mengajukan sebuah persoalan dan seorang mahasiswa mengangkat tangan untuk menjawab, “cemoohan” itu bakal lebih keras lagi dan semakin ramai. Mahasiswa yang serius belajar pun, akhirnya jadi malas untuk turut aktif di dalam kelas, yang mengakibatkan kita bungkam di kelas. Dosen-dosen kita pun akhirnya bingung karena mereka merasa mengajarkan sesuatu pada benda mati.
Oh iya, satu lagi hal yang mematikan dari diskusi kemarin itu adalah metode pengajaran sang dosen sendiri yang tidak baik. Salah satunya adalah tidak adanya penghargaan seorang dosen terhadap keberanian bertanya seorang mahasiswa, seperti “Itu pertanyaan bodoh..” atau “Itu jawaban bodoh..”. Mengerikan sekali. Niat seorang mahasiswa untuk belajar dirusak dengan cemoohan dosen. Kita nggak pernah tau kan, hal-hal besar selalu dimulai dari hal-hal kecil. Pemikiran besar selalu dimulai dari pemikiran sederhana. Jika sebuah ide atau pertanyaan sederhana sudah dimatikan, bagaimana kita bisa terus maju menjadi yang besar.
Jadi bagaimana? Yah, turut aktif di kelas untuk belajar bersama merupakan sesuatu yang baik. Jangan cuma bisa diskusi mati-matian di himpunan atau organisasi aja dong. Mestinya kan di kelas juga begitu, setidaknya berani bertanya dan berpartisipasi. Karena ilmu tidak baik untuk dimakan sendiri, dan tidak baik juga kalo kita tidak punya ilmu. Selain itu tunjukkan penghargaan kita terhadap ide, pemikiran, atau pertanyaan, meskipun itu sederhana. Sehingga iklim belajar kita bisa lebih baik, dan kita menjadi orang yang lebih baik.
Terkait dengan pembahasan ini, saya baru saja membaca tulisan dari Nofie Iman mengenai lulusan jaman sekarang
On 11.07.06 said: 
setuju Bram, budaya diskusi di Indonesia emang masih amat kurang, banyak mahasiswa yang ga brani nanya gr2 takut pertanyaannya dianggap bodoh, padahal mungkin ga seperti itu…yah,dunia pendidikan Indonesia emang masih banyak kurangnya…perlu waktu dan effort yang luar biasa untuk memeperbaikinya…semoga..
On 11.07.06 said: 
Gw ga pernah / jarang nanya, soalnya menurut gw ngga semua yang diajarkan/dikatakan dosen di kelas penting. Jadi, ngga semuanya perlu dipahami sampai sedalam-dalamnya. Kalo ada yang kelewat, yasudahlah, kalau memang suatu saat dirasa penting, ya pelajari lagi. Apa salahnya? Kalo dosen aja bisa ngerti, mahasiswa bisa lah, kan harusnya mahasiswanya lebih hebat dari dosennya (katanya lho).
Jadi, gw biasanya lebih suka diam/tidak bertanya.
Oiya, setahu gw, jarang ada orang yang meng-’weiss’ atau meng-’ciee’-kan orang yang bertanya, biasanya kata-kata itu untuk mengagumi orang yang menjawab pertanyaan dosen, baik pertanyaan sulit maupun retoris.
On 11.09.06 said: 
ga tanya saat kuliah berarti ada dua posisi yaitu 100 atau 0… 100 adalah mengerti semuanya yg diceramahkan… diajarkan… diterangkan… serta 0 berarti tidak mengerti sama sekali hehehe… molor terus dikelas… kalau anda bgmn?
On 11.09.06 said: 
Bagi saya mah posisi menentukan IPK….
On 11.10.06 said: 
Salah dosennya tuh.
Seorang guru mestinya mampu menstimulasi daya pikir kritis anak didiknya.
Kalo anak didiknya jadi begitu, ya bukan salah mereka.
On 11.13.06 said: 
Inget banget dulu pas sd ada guru yg slalu ngasih pertanyaan2 spontan di kelas. Dengan pedenya saya angkat tangan dan menjawab, eh tp karena ngejawabnya salah malah di setrap di depan kelas. Akibatnya semua murid jadi keringat dingin stiap si guru nanya dan ga ada yg berani tunjuk tangan kalo ga tau jawaban yg persis spt di dlm buku. Coba ajah kalo murid ngejawabnya lain, dia ga usah nyalahin, tp dibimbing ke arah yg bener. Tanyain, maksud kamu gimana? Kamu punya pandangan lain? Kan kalo gituh kita lebih berani mengutarakan pikiran kita.
Kalo temen2 nyorakin pas kita nanya ato ngejawab? Ga tau juga budaya drmn, tp pede aja deh, huehe.. Harusnya guru punya wibawa sih untuk ngontrol yang gituan. Di lain sisi, Guru yang bikin takut ituh yg bilang ginih kalo kita nanya : Kamu kemana tadi pas ibu nerangin hah?? Sibuk ngobrol kamu??†atau â€Gitu aja ga tau??â€
Huuhh..Iyah deh bu’, besok2 ga nanya lagiih… huhuhu.. ibu jahat deh, bikin saya malu ajahh..
On 11.13.06 said: 
Ini memang salah satu dari budaya jelek khas Indonesia. Kalau bisa berubah di tengah-tengah kondisi yang tidak kondisif seperti ini saya kasih jempol deh…
On 06.07.07 said: 
Setuju……Saya seakan hampir kehilangan akal bagaimana sebaiknya menghadapi/mengajar di kelas yg mahasiswanya seperti ini. Jika dilakukan diskusi kelompok (presentasi) di kelas, yg tampil ngomong hanya satu dua org saja itupun terkesan seperti kebingungan apa yg akan mereka sampaikan (gugup). Terkadang sy beri motivasi untuk menambah nilainya bagi mereka yg aktif berargumen, tp masih saja seperti apa adanya. Konon, ada yg berpendapat; kondisi ini terjadi disebabkan sistem pembelajaran yg mereka alami ketika di SLTP & SLTA yg menempatkan siswa sebagai objek yg harus didisiplinkan dan tercipta suasana ketertakutan yg tinggi terhadap guru. Mereka tidak diberi keleluasaan dalam berinteraksi dan berkomunikasi di kelas melalui diskusi dan berpendapat.