Opinion

Bungkam di Kelas

11.07.06 | 8 Comments

Mengamati bagaimana mahasiswa belajar di kampus dalam sebuah kelas, saya menemukan kembali sebuah kenyataan tidak baik tapi terlalu biasa untuk kita, yaitu bagaimana kita tidak diberikan mentalitas untuk menunjukkan minat terhadap apa yang kita pelajari.

Hal ini kembali saya dapatkan sewaktu ngobrol-ngobrol di rumah teman Minggu malam kemarin. Ada beberapa orang di sana, dan salah satu yang kami omongin adalah bagaimana menyedihkannya proses belajar mengajar di kelas tersebut.

Mahasiswa di kelas selalu diam mendengarkan dosen. Yang ini bagus sih. Tapi apakah mereka mendengarkan? Apakah mereka memikirkan kata-kata dosen di depannya? Pertanyaan terakhir ini seringkali terjawab dengan kata tidak karena setiap suatu materi selesai diterangkan, biasanya dosen akan menanyakan apakah ada pertanyaan, dan sebagian besar kuliah yang saya ikuti selalu mahasiswanya diem aja. Mungkin mereka udah ngerti semua, mungkin mereka mengerti sedikit terus tidak ingin berpikir lebih lanjut sampai menimbulkan sesuatu yang ingin ditanyakan, mungkin juga mereka mengerti dan tidak berani bertanya, mungkin juga tidak mengerti sama sekali. Kemungkinan besar sih, menurut saya yang tiga terakhir.

Untuk kasus mahasiswa tidak mengerti sama sekali, yah kemungkinan besar dia tidak mendengarkan. Tapi kalo tidak berani bertanya dan bahkan tidak bertanya padahal tidak mengerti, salah satu sebabnya adalah mentalitas belajar yang di kelas itu.

Sering banget, sewaktu ada mahasiswa yang benar-benar mendengarkan dosen dan mengajukan pertanyaan bagus, jadi bahan “cemoohan” di kelas. Cemoohan ini bukan penghinaan, tapi biasanya dalam bentuk pujian seperti : “Cieeeeee..”, “Weis… (sambil menunjukkan muka terkagum-kagum)”, dan “Ckckckck.. (dengan ekspresi kagum yang hiperbolis)”. Saya nggak tau kenapa budaya ini bisa muncul, tapi itu jelas menekan orang yang bertanya, meskipun itu maksudnya memuji, sehingga akhirnya untuk selanjutnya memilih untuk tidak bertanya. Jika misalnya dosen mengajukan sebuah persoalan dan seorang mahasiswa mengangkat tangan untuk menjawab, “cemoohan” itu bakal lebih keras lagi dan semakin ramai. Mahasiswa yang serius belajar pun, akhirnya jadi malas untuk turut aktif di dalam kelas, yang mengakibatkan kita bungkam di kelas. Dosen-dosen kita pun akhirnya bingung karena mereka merasa mengajarkan sesuatu pada benda mati.

Oh iya, satu lagi hal yang mematikan dari diskusi kemarin itu adalah metode pengajaran sang dosen sendiri yang tidak baik. Salah satunya adalah tidak adanya penghargaan seorang dosen terhadap keberanian bertanya seorang mahasiswa, seperti “Itu pertanyaan bodoh..” atau “Itu jawaban bodoh..”. Mengerikan sekali. Niat seorang mahasiswa untuk belajar dirusak dengan cemoohan dosen. Kita nggak pernah tau kan, hal-hal besar selalu dimulai dari hal-hal kecil. Pemikiran besar selalu dimulai dari pemikiran sederhana. Jika sebuah ide atau pertanyaan sederhana sudah dimatikan, bagaimana kita bisa terus maju menjadi yang besar.

Jadi bagaimana? Yah, turut aktif di kelas untuk belajar bersama merupakan sesuatu yang baik. Jangan cuma bisa diskusi mati-matian di himpunan atau organisasi aja dong. Mestinya kan di kelas juga begitu, setidaknya berani bertanya dan berpartisipasi. Karena ilmu tidak baik untuk dimakan sendiri, dan tidak baik juga kalo kita tidak punya ilmu. Selain itu tunjukkan penghargaan kita terhadap ide, pemikiran, atau pertanyaan, meskipun itu sederhana. Sehingga iklim belajar kita bisa lebih baik, dan kita menjadi orang yang lebih baik.

Terkait dengan pembahasan ini, saya baru saja membaca tulisan dari Nofie Iman mengenai lulusan jaman sekarang

8 Comments

speak up

Add your comment below, or trackback from your own site.
Subscribe to these comments.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:

:


« Es Teh Manis
» Penjual dan Pengambil Koran Bekas
Copyright © 2007 Brahmasta. All rights reserved.