Log in | Jump |

/brahmasta/journal

Everything into a folder
This thing was constructed on November 10, 2006, and it was categorized as General, Opinion.
You can follow comments through the RSS 2.0 feed. You can leave a comment, or trackback.

Setiap akan diadakannya Shalat Jumat, di mesjid-mesjid dekat kampus sini (Salman, PDAM) pasti muncul anak-anak kecil penjual koran bekas. Selain itu, nantinya ada juga yang mengambil koran-koran bekas itu setelah selesai shalat.

Koran-koran tersebut dijual lima ratus perak per beberapa lembar. Saya nggak tau jumlahnya, yang jelas dengan lima ratus rupiah saya bisa memiliki alas untuk shalat jika sial mendapat tempat di luar.

Kalo dipikir-pikir, untung juga ya, mereka membeli koran bekas yang harganya enam ratus rupiah per kilo (kata di sini, saya nanya temen di sebelah gak ada yang tau), atau bahkan entah dari mana yang tidak jelas lalu menjualnya lima ratus rupiah per beberapa lembar. Untungnya pasti gede tuh. Makanya penjualnya banyak.

Terus nggak mau rugi juga, koran-koran yang baru aja selesai dipakai itu langsung diambil. Tapi yang ngambil kebanyakan ibu-ibu sudah tua tapi bersemangat tinggi. Tadi aja pas saya baru berdiri habis selesai shalat dan doa, langsung si salah satu dari ibu-ibu itu mengambil dengan sigapnya. Kayaknya takut diambil “pesaingnya”.

Kemudian si ibu-ibu itu mengumpulkan lagi semuanya, disusun dengan rapi, dan memasukkannya ke dalam keranjang. Mau dipakai apa ya? Dijual lagi?
Tapi intinya bukan itu sih, saya kok tiba-tiba ngerasa iba ya? Anak-anak kecil itu kenapa sih harus sampai berjualan koran segala. Emang menguntungkan sih, tapi rasanya nggak tepat aja. Saya ingat beberapa kali dirubungi oleh mereka yang menawarkan koran. Mereka terlihat sangat menginginkannya. Untuk yang ibu-ibu juga begitu, kenapa ya mereka begitu bernafsu mengambil koran-koran itu? Tampak mereka sangat membutuhkan uang untuk bertahan hidup. Dengan keuntungan yang lumayan seperti saya tulis di atas, sepertinya “bisnis” koran ini bisa menjadi penyambung hidup yang lumayan.

Kasihan nggak sih? Itu aja yang terasa.. Sepertinya itu sesuatu yang tidak layak.

This thing has 4 Comments

  1. Posted November 10, 2006 at 3:14 pm | Permalink

    Haha.., masih layak dong. Daripada org yg gak mau kerja, maunya dapet uang dari belas kasihan orang lain? :P

  2. Posted November 10, 2006 at 9:33 pm | Permalink

    ahh… salah satu dari komplikasi penyakit bangsa ini.
    gimana dong?

  3. Posted November 11, 2006 at 11:23 pm | Permalink

    brati sekarang dah tau knapa mereka ngambilin koran2 kaya gitu?

  4. Posted November 12, 2006 at 5:48 am | Permalink

    @diBond : Ya emang mendingan sih.. daripada cuma ngemis di jalanan
    @amudi : Makanya mud sebagai “putra-putri terbaik” bangsa (doktrin siapa ini coba?) lo harus memperbaiki bangsa ini.
    @bebex : Ya kira-kira sih udah tau, tapi, kasian aja.

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*