Log in | Jump |

/brahmasta/journal

Everything into a folder
This thing was constructed on November 12, 2006, and it was categorized as General, Technology.
You can follow comments through the RSS 2.0 feed. You can leave a comment, or trackback.

Baru-baru ini, saya menemui kenyataan untuk pertama kalinya bagaimana menghadapi seseorang client yang cukup menyebalkan dalam pekerjaan perangkat lunak.

Alkisah ada sebuah software yang dikerjakan untuk sebuah instansi di dalam kampus di yang kebanyakan dikerjakan oleh alumni-alumni (baru lulus) dan mahasiswa di laboratorium RPL. Software tersebut sudah dikerjakan sesuai jadwal dan meski masih punya kekurangan di sana-sini, siang client tersebut ingin datang untuk melihat bagaimana progressnya.

Setelah datang dan sempat berbincang-bincang mengenai sejauh mana perkembangannya, akhirnya dia ditawarkan untuk melihat versi demo dari perangkat lunak tersebut. Bayangan saya sih, nantinya dia pasti emang banyak mengkritik, seperti: “Wah prosesnya yang terjadi tidak begini.. seharusnya begitu..”, kalau nggak “Tampilannya terlalu rumit untuk dimengerti, bisa disederhanakan?”

Namun, setelah melihat bagaimana demo itu benar-benar terjadi, akhirnya beberapa hal yang terjadi adalah sebagai berikut:

  1. Dia bener-bener melihat tampilan dulu. Kira-kira hampir lima menit dia menjelaskan pentingnya sebuah icon dalam notifikasi. Udah gitu bandingin dengan produk-produk Microsoft lagi. Kalo nggak salah seperti ini: “Microsoft itu sangat bagus dalam membuat tampilan! Mungkin lebih baik kalo kita mencontoh mereka”.
  2. Sebelum benar-benar mengerti fitur dari perangkat lunak kita dan proses dan cara memakai untuk setiap fungsi, dia cerita dulu bagaimana software yang biasa dia pakai, kelebihan-kelebihannya, dan perbandingannya terhadap asumsinya terhadap software yang didemokan. Pas awalnya saya sempat kesel sih, tapi setelah ingat-ingat bahwa kita memang harus mendengarkan terlebih dahulu baru didengarkan, saya jadi biasa aja. Teman-teman yang mendemokan begitu sabar sehingga komunikasi bisa berjalan dengan lancar selanjutnya.
  3. Sang client tampaknya begitu senang dengan fitur-fitur Microsoft, dia bercerita tentang fitur-fitur Outlook, terus apapun yang lain yang baru di Microsoft. Terus berharap kita bisa mencari source dari fitur tersebut dari aplikasi-aplikasi open source. Beberapa memang penting sih, tapi beberapa yang lain buat saya mengesankan dia begitu ingin banyak fitur, tapi sebenarnya dia tidak butuh itu.
  4. Akhirnya sih kita mendapatkan banyak feedback dari aplikasi tersebut, setelah berusaha berkomunikasi dengan baik. Dia memang lebih banyak berbicara, meski terlalu sering di luar konteks. Bahkan buat saya jadi terkesan menggurui. Sampai-sampai demo tersebut memanjang dari rencana setengah jam menjadi satu setengah jam.

Kalau kata temen saya yang sudah alumni (baru kemarin sih lulusnya.. bener-bener kemarin..), dia memang sudah banyak bertemu dengan orang seperti itu. Menurutnya orang tersebut tidak berlatarbelakang yang sama dengan kita, dalam hal ini IT. Makanya jadinya kayak gitu.

Kalo dipikir-pikir bener juga, kalo saya menjadi melihat sesuatu yang bukan bidang saya, pasti cuma berkomentar mengenai hal-hal yang saya ketahui. Misalnya kalo liat mobil, pasti nggak banyak komentar tentang mesinnya, pasti tentang bentuk dan fitur-fitur pengendaranya. Bahkan mungkin saya menginginkan fitur-fitur yang tidak terlalu penting seperti ada TV di dalam mobil, tape mobilnya bisa memutar MP3, dan sebagainya.
Jadi, kesimpulannya, kalo menghadapi hal-hal seperti ini, ya sabar aja. Mendengarkan terlebih dahulu, baru didengarkan. Prinsipnya Stephen R. Covey dalam 7 Habits itu berguna di sini. Komunikasi itu penting dan kita harus sedikit menyingkirkan egoisme kita untuk mencapai tujuan bersama.

Tapi saya tetep nggak terima.. Kenapa Microsoft mulu sih?

This thing has 3 Comments

  1. Posted November 14, 2006 at 10:55 am | Permalink

    Si client belum pernah lihat Mac?

    iPod?

    Desain adalah fungsi. Fungsi adalah desain.

  2. Posted November 21, 2006 at 5:11 pm | Permalink

    teror ajha clientnya…!! bex bantuin gimana?
    bex punya..
    4 pistol
    3 ranjau
    5 bom
    2 clurit
    6 kampak
    waaaah,,pokoknya masih banyak lagi de…

  3. Posted November 22, 2006 at 6:56 pm | Permalink

    Client’s in control. Jadi menurut gw, beri aja semua yang dia minta, penting ataupun tak penting. Tapi baiknya kasih alasan dulu why it should be this way, not that way. Tapi kalo dia tetap maksa ya eksekusi aja yang dia bilang. :D

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*