Fun, General

Ngemeng Engineering

01.12.07 | 21 Comments

Ngemeng? Yup.. Ngemeng. Buat yang nggak tahu arti kata ini, mungkin lebih baik melihat penjelasan di bawah terlebih dahulu. Diperoleh dari malesbanget.com

  1. kata ngemeng merupakan pelesetan dari ngomong…biasanya diucapkan kepada orang atau teman dengan maksud “capek mendengar kata-katanya atau cerita nya”
  2. ngemeng : plesetan dari kata ” ngomong “. biasanya di pakai buat negur orang yg banyak omong atau suka ngomong seenaknya gitu….
  3. berbicara bohong

Contoh dalam kalimat : ah.. ngemeng doang luh!

Ngemeng merupakan kata yang sangat umum dipakai di lingkungan saya. Artinya bisa ngebacot, ngomong tidak penting, ngomong tapi gak dilakukan, macem-macem. Maknanya juga meluas untuk tidak sekedar ngomong, tapi sampai pada tingkatan menulis. Contohnya:

A : B, gimana tugas lo? Udah beres?
B : Yah lumayan, bahannya gak cukup.. Tapi gw ngemeng-ngemengin jadilah..

Belakangan skill ngemeng mahasiswa IF semakin terasah dalam menulis. Kenapa disebut ngemeng? Apakah mereka mengerjakan tapi isinya ngebacot semua? Tidak, tidak ngebacot. Ngemeng yang kami lakukan adalah membahas hal-hal yang kurang esensial, sehingga jumlah halaman pada laporan/jawaban ujian/makalah bisa menjadi lebih banyak. Hal ini terjadi di banyak mata kuliah yang memberikan tugas yang berbentuk seperti makalah, paper, laporan, dan apapunlah namanya.

Kenapa kami melakukan itu semua? Sebab sepertinya kami tertangkap dalam paradigma bahwa Semakin tebal sebuah laporan/jawaban ujian/makalah maka semakin bermutulah laporan/jawaban ujian/makalah tersebut. Apakah anda akrab dengan paradigma ini? Kalau gitu selamat. Anda berada di dunia nyata. Hehehe..

Paradigmanya salah? Jelas. Kita semua punya akal sehat untuk menyatakan itu salah. Tapi kita semua khawatir apakah sang pemberi dan pemeriksa tugas (dosen/asisten) berpendapat sama dengan kita. Jika mereka menggunakan paradigma yang salah tersebut, implikasinya adalah nilai kita yang jelek. Untuk mendapatkan keamanan nilai, maka mau tak mau kita berkorban dong. Ngemeng lah..!

Berikut contoh fakta yang mengarahkan kepada bukti bahwa kuantitas tulisan lebih berharga dari kualitas tulisan:

  1. Ada sebuah mata kuliah yang mengharuskan mahasiswanya merangkum materi kuliah hari itu dalam lima halaman setiap minggunya, dengan format tertentu (yang saya ingat harus satu spasi). Padahal, sang dosen sendiri di kelas tidak memberikan materi yang cukup berbobot untuk dibahas sampai lima halaman. Mungkin ada sih yang bisa dimasukin, tapi sayangnya kurang relevan. Misalnya berapa IPK dosen itu waktu kuliah, apakah si dosen aktif berkegiatan dalam kuliah, siapa nama dosen itu, dan seterusnya.. Materi ini memang cukup memakan waktu di kelas.
  2. Ada sebuah mata kuliah yang mengharuskan mahasiswanya membuat sebuah makalah dengan jumlah halaman minimal 15. Seorang mahasiswa yang mengerjakan dengan bantuan Transtool (menerjemahkan langsung dari paper aslinya) dan bahkan dalam pengumpulan masih mengandung paragraf bahasa Inggris yang belum sempat diterjemahkan (tapi jumlah halamannya mencapai lima belas) mendapatkan nilai yang sama dengan mahasiswa lain yang telah menyusun dengan seksama dari berbagai sumber sehingga papernya terstruktur dan bagus. Mahasiswa pertama tersebut juga memiliki nilai lebih tinggi daripada seorang mahasiswa lainnya yang hanya mampu menyusun sekitar 11 halaman, tapi dengan pembelajaran dan penyusunan yang lebih baik daripada sekedar menerjemahkan.

Kalau sudah begini? Mau apa lagi? Ngemeng rules! Jadi kalo ada yang bilang kalo kuliah di IF itu 10% theory, 25% coding, dan 65% luck (mengutip bajunya Mukrab 2006 kemarin), saya kurang setuju. IF itu, 15% coding, 10% theory, 7% luck, dan 68% ngemeng! Loh kok 68%? Gapapa biar seru aja. Hehe..

Jadi dari hasil analisis di atas (ceileeh..) jelas bahwa Teknik Ngemeng, atau saya sebut di sini dengan Ngemeng Engineering (Mengambil sampel Teknik Informatika adalah Informatics Engineering) diperkenalkan untuk menjamin keberlangsungan hidup mahasiswa-mahasiswa kita! Berikut sebagian teknik yang dapat kita gunakan:

  1. Bahaslah hal-hal yang tidak terlalu relevan secara terlalu mendetail di awal-awal laporan/jawaban ujian/makalah. Hal ini bisa dilakukan untuk membuat dasar teori atau pendahuluan. Manfaatnya selain jumlah halaman kita bertambah, terlihat agak smart gitu, karena banyak tahunya..
  2. Bahaslah sesuatu secara berulang-ulang. Misalkan di bab satu sudah dibahas dengan agak detail, di bab dua lebih didetailkan lagi, terus berlanjut di bab berikutnya sampai pada pembahasan utama
  3. Gunakan gambar-gambar yang banyak dan besar. Selain membuat laporan/jawaban ujian/makalah kita menjadi lebih menarik, jumlah halaman bisa bertambah dengan drastis. Lebih terlihat smart kalau ada data statistik entah dari mana gitu.
  4. Perbanyak paragraf, Antar paragraf kan biasanya ada spasi tuh, itu bisa meningkatkan jumlah halaman.
  5. Buatlah kesimpulan yang membahas lagi dari awal. Hal ini cukup efektif untuk meningkatkan jumlah halaman
  6. … (Silakan sumbangkan teknik anda!)

Dengan adanya teknik-teknik ini, kita bisa bertahan hidup di tengah dunia yang menilai secara kualitatif ini. Setuju? Take it, and enjoy it.. Teknik ini sangat efektif! Meski anda harus mengorbankan makna dari tugas anda.

Long live Ngemeng Engineering!

21 Comments

speak up

Add your comment below, or trackback from your own site.
Subscribe to these comments.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:

:


« Detikcom yang Tidak Nyaman
» Isi Tas
Copyright © 2007 Jurnal Brahmasta. All rights reserved.