Ngemeng? Yup.. Ngemeng. Buat yang nggak tahu arti kata ini, mungkin lebih baik melihat penjelasan di bawah terlebih dahulu. Diperoleh dari malesbanget.com
- kata ngemeng merupakan pelesetan dari ngomong…biasanya diucapkan kepada orang atau teman dengan maksud “capek mendengar kata-katanya atau cerita nya”
- ngemeng : plesetan dari kata ” ngomong “. biasanya di pakai buat negur orang yg banyak omong atau suka ngomong seenaknya gitu….
- berbicara bohong
Contoh dalam kalimat : ah.. ngemeng doang luh!
Ngemeng merupakan kata yang sangat umum dipakai di lingkungan saya. Artinya bisa ngebacot, ngomong tidak penting, ngomong tapi gak dilakukan, macem-macem. Maknanya juga meluas untuk tidak sekedar ngomong, tapi sampai pada tingkatan menulis. Contohnya:
A : B, gimana tugas lo? Udah beres?
B : Yah lumayan, bahannya gak cukup.. Tapi gw ngemeng-ngemengin jadilah..
Belakangan skill ngemeng mahasiswa IF semakin terasah dalam menulis. Kenapa disebut ngemeng? Apakah mereka mengerjakan tapi isinya ngebacot semua? Tidak, tidak ngebacot. Ngemeng yang kami lakukan adalah membahas hal-hal yang kurang esensial, sehingga jumlah halaman pada laporan/jawaban ujian/makalah bisa menjadi lebih banyak. Hal ini terjadi di banyak mata kuliah yang memberikan tugas yang berbentuk seperti makalah, paper, laporan, dan apapunlah namanya.
Kenapa kami melakukan itu semua? Sebab sepertinya kami tertangkap dalam paradigma bahwa Semakin tebal sebuah laporan/jawaban ujian/makalah maka semakin bermutulah laporan/jawaban ujian/makalah tersebut. Apakah anda akrab dengan paradigma ini? Kalau gitu selamat. Anda berada di dunia nyata. Hehehe..
Paradigmanya salah? Jelas. Kita semua punya akal sehat untuk menyatakan itu salah. Tapi kita semua khawatir apakah sang pemberi dan pemeriksa tugas (dosen/asisten) berpendapat sama dengan kita. Jika mereka menggunakan paradigma yang salah tersebut, implikasinya adalah nilai kita yang jelek. Untuk mendapatkan keamanan nilai, maka mau tak mau kita berkorban dong. Ngemeng lah..!
Berikut contoh fakta yang mengarahkan kepada bukti bahwa kuantitas tulisan lebih berharga dari kualitas tulisan:
- Ada sebuah mata kuliah yang mengharuskan mahasiswanya merangkum materi kuliah hari itu dalam lima halaman setiap minggunya, dengan format tertentu (yang saya ingat harus satu spasi). Padahal, sang dosen sendiri di kelas tidak memberikan materi yang cukup berbobot untuk dibahas sampai lima halaman. Mungkin ada sih yang bisa dimasukin, tapi sayangnya kurang relevan. Misalnya berapa IPK dosen itu waktu kuliah, apakah si dosen aktif berkegiatan dalam kuliah, siapa nama dosen itu, dan seterusnya.. Materi ini memang cukup memakan waktu di kelas.
- Ada sebuah mata kuliah yang mengharuskan mahasiswanya membuat sebuah makalah dengan jumlah halaman minimal 15. Seorang mahasiswa yang mengerjakan dengan bantuan Transtool (menerjemahkan langsung dari paper aslinya) dan bahkan dalam pengumpulan masih mengandung paragraf bahasa Inggris yang belum sempat diterjemahkan (tapi jumlah halamannya mencapai lima belas) mendapatkan nilai yang sama dengan mahasiswa lain yang telah menyusun dengan seksama dari berbagai sumber sehingga papernya terstruktur dan bagus. Mahasiswa pertama tersebut juga memiliki nilai lebih tinggi daripada seorang mahasiswa lainnya yang hanya mampu menyusun sekitar 11 halaman, tapi dengan pembelajaran dan penyusunan yang lebih baik daripada sekedar menerjemahkan.
Kalau sudah begini? Mau apa lagi? Ngemeng rules! Jadi kalo ada yang bilang kalo kuliah di IF itu 10% theory, 25% coding, dan 65% luck (mengutip bajunya Mukrab 2006 kemarin), saya kurang setuju. IF itu, 15% coding, 10% theory, 7% luck, dan 68% ngemeng! Loh kok 68%? Gapapa biar seru aja. Hehe..
Jadi dari hasil analisis di atas (ceileeh..) jelas bahwa Teknik Ngemeng, atau saya sebut di sini dengan Ngemeng Engineering (Mengambil sampel Teknik Informatika adalah Informatics Engineering) diperkenalkan untuk menjamin keberlangsungan hidup mahasiswa-mahasiswa kita! Berikut sebagian teknik yang dapat kita gunakan:
- Bahaslah hal-hal yang tidak terlalu relevan secara terlalu mendetail di awal-awal laporan/jawaban ujian/makalah. Hal ini bisa dilakukan untuk membuat dasar teori atau pendahuluan. Manfaatnya selain jumlah halaman kita bertambah, terlihat agak smart gitu, karena banyak tahunya..
- Bahaslah sesuatu secara berulang-ulang. Misalkan di bab satu sudah dibahas dengan agak detail, di bab dua lebih didetailkan lagi, terus berlanjut di bab berikutnya sampai pada pembahasan utama
- Gunakan gambar-gambar yang banyak dan besar. Selain membuat laporan/jawaban ujian/makalah kita menjadi lebih menarik, jumlah halaman bisa bertambah dengan drastis. Lebih terlihat smart kalau ada data statistik entah dari mana gitu.
- Perbanyak paragraf, Antar paragraf kan biasanya ada spasi tuh, itu bisa meningkatkan jumlah halaman.
- Buatlah kesimpulan yang membahas lagi dari awal. Hal ini cukup efektif untuk meningkatkan jumlah halaman
- … (Silakan sumbangkan teknik anda!)
Dengan adanya teknik-teknik ini, kita bisa bertahan hidup di tengah dunia yang menilai secara kualitatif ini. Setuju? Take it, and enjoy it.. Teknik ini sangat efektif! Meski anda harus mengorbankan makna dari tugas anda.
Long live Ngemeng Engineering!
On 01.12.07 said: 
Pertama-tama saya ucapkan selamat kepada Brahm yang sepertinya sudah siap lulus dari Prodi Ngemeng Engineering –mengingat penguasaannya terhadap materi Ngemeng Engineering ini.
Kenapa paradigma kuantitas masih digunakan? Menurut saya karena:
1. Untuk menilai kualitas diperlukan usaha yang lebih sulit (baca: mesti mikir) dan tentu saja waktu yang tidak sedikit.
2. Jumlah subjek (tugas, berkas ujian) yang harus dinilai. Bayangkan suatu mata kuliah yang diikuti 100 orang saja. Berarti ada 100 subjek yang harus dinilai si pemeriksa. Jika menilik pada kasus yang disebutkan di atas (makalah), maka ada 1500 halaman yang harus diperiksa (membaca novel setebal 1500 halaman? it’s OK… Tapi kalau tulisan ilmiah dengan font 10???).
Mungkin itu juga sebabnya terjadi kasus Ujian Akhir bertipe soal Benar/Salah. Biar gampang dan cepat meriksanya.
Ingin menyalahkan dosen? Nggak bisa juga sih… kan dosen juga manusia…
Kalau pendapat saya, ada dua solusi yang gampang: peserta kelasnya saja dikurangi. Atau dosennya ditambah (yang bisa juga berarti kelasnya ditambah).
Hmmm… apakah Kaprodi memikirkan masalah seperti ini ya?
On 01.12.07 said: 
@Syahdana:
Wah saya sadar di atas langit masih ada langit. Jadi pasti saya harus berguru lebih banyak mengenai Ngemeng Engineering ini.
Saya mikirnya gini sih Bung Syahdana, kita harus bisa menanggung konsekuensi dari pilihan.. Jika kita bisa memutuskan untuk memberikan tugas tentang sesuatu, maka kita harus bisa menilai dengan adil untuk tugas itu. Itu tanggung jawabnya.
Masalahnya pemberian nilai dengan kuantitas itu tidak adil. Itu saja.
Mengenai penambahan kelas atau pengajar, saya setuju. Beberapa kuliah yang saya ikuti kemarin memang terasa tidak efektif karena kebanyakan mahasiswa. Coba deh sekali-sekali kuliah SBP.. Enak banget (Tapi tetep dapet B :D). Dan masalah ini nggak cuma di kampus kita. Di Indonesia. Negara kita kekurangan tenaga pengajar.
On 01.12.07 said: 
“Ada sebuah mata kuliah yang mengharuskan mahasiswanya merangkum materi kuliah hari itu dalam lima halaman setiap minggunya…”
tengkyu buat teknik2 ngemengnya, mudah2an bisa saya terapkan pada tugas matkul yang bersangkutan…
hahaha… saya inget banget ini matkul apa :p emang paling males kalo tugas menulis itu udah dipatok mesti sekian halaman. masa mikir aja mesti dipaksain atau dibatesin. saking malesnya, saya ga pernah ngerjain tugas menulis matkul ini dan mesti ngulang semester depan
On 01.12.07 said: 
@giaferdi
Tenang mbak gia.. Saya bersamamu. Tahun lalu saya nggak jadi ngambil.. Hehehehe.. Moga-moga tugas itu nggak ada lagi ya..
On 01.12.07 said: 
trik dari saya:
Tulis kembali suatu kalimat yang intinya sama dengan kata-kata yang berbeda. Jadi, kita dapat menuliskannya dengan sedikit tambahan kata-kata atau pakai kata-kata yang sama tapi diubah-ubah urutannya. Sehingga, dengan ditambahkan kata-kata yang sama dan tentunya dengan bumbu berupa kata sambung atau sejenisnya, kita dapat melakukan penambahan kalimat dengan sangat cepat. Jadi pada akhirnya, dengan menuliskan banyak kalimat yang sebenarnya intinya sama dapat disebut mengemeng.
Nah, terlihat kan seperti contoh diatas
On 01.13.07 said: 
Pertama gw jelasin dulu kenapa gw make nama pramana yang untuk menulisnya jadi membutuhkan tiga karakter lebih banyak dari pada klo gw cuma menuliskan identitas gw sebagai pram. Biasanya untuk menuliskan nama ataupun identitas gw di suatu tempat di mana orang lain sudah dapat menebak bahwa itu adalah gw, saya tidak pernah menggunakan nama ataupun identitas gw seperti bagaimana yang gw tulis di comment ini. Biasanya gw cukup menuliskan identitas gw dengan ‘pram’ saja, bukan ‘pramana’. Pertanyaan yang muncul ialah : kenapa sekarang gwmenuliskan ‘pramana’, bukan ‘pram’? Jawabannya sebenarnya cukup pendek, tetapi saya akn mencoba menjelaskannya dengan baik, sehingga tidak akan muncul pertanyaan-pertanyaan lain tentang identitas gw ini.
Alasan saya yang pertama ialah karena saya suka sesuatu yang “berima”. Berima berasal dari kata rima yang diberi imbuhan ber. Berdasarkan ejaan bahasa indonesia yang baik dan benar, jika kata dengan karakter pertama berupa huruf r, lalu diberi imbuhan yang berakhiran huruf r juga, maka satu r akan hilang. sehingga ber rima menjadi berima. Arti dari kata tersebut ialah memiliki rima. Maksudnya ialah dua kata yang memiliki bunyi akhir yang sama. Jadi gw menerapkan rima itu disini. Komentator pertama kan bernama syahdana jadi, biar berima gw menggunakan nama pramana.
Alasan berikutnya dan alasan yang paling penting sebenarnya ialah karena subjek dari blog ini ialah ngemeng engineering, sehingga gw juga menerapkan skill sngemeng yang telah gw dapetkan dikuliah IF50X4, Ngemenggrafi untuk mengomentari post ini.
On 01.15.07 said: 
@amudi
Wah, teknik yang baik sekali!
@pramana
Hm.. terlalu kurang relevan. Tapi yah.. bolehlah..
On 01.15.07 said: 
Bisa lebih spesifik ga Bram?? Mata kuliah apa yang ngasih tugas seperti itu tuh?? Penasaran banget gue nih… kekekekekek….
On 01.15.07 said: 
@dee
Bukannya terlalu jelas? Bisa dicari di antara semua mata kuliah di kur2003. Yang pertama mata kuliah wajib, yang kedua mata kuliah pilihan. Pramana juga sudah sedikit memberikan clue di komentarnya (ngemengannya).
On 01.16.07 said: 
ooT
wah kirain ada prodi baru di itebe …
prodi teknik perngemengan
fakultas ilmu keperngemengan dan teknologi ngelantur
/ooT
*krik..krik..krik.. garink ya*
On 01.17.07 said: 
@anggriawan
Nggak prodi baru kok, cuma teknik. Boleh juga sih jadi prodi, tapi saya lebih megusulkan itu menjadi mata kuliah umum dengan kode kuliah KUXXXX sehingga dapat dinikmati oleh rekan-rekan sekampus yang membutuhkannya
On 01.20.07 said: 
[...] Besok-besok saya mulai baca OLE Nasional ah.. , terus ngikutin Liga Indonesia dan timnas, main FM pake Liga Indonesia.. (Yang terakhir ngemeng doang. Gak sempat bung) Maju Sepakbola Indonesia! Dukung Sepakbola Indonesia! [...]
On 01.24.07 said: 
gmana kalo kita juga bisa ngemeng waktu nulis kode??
[quote]
Paradigmanya salah? Jelas. Kita semua punya akal sehat untuk menyatakan itu salah. Tapi kita semua khawatir apakah sang pemberi dan pemeriksa tugas (dosen/asisten) berpendapat sama dengan kita. Jika mereka menggunakan paradigma yang salah tersebut, implikasinya adalah nilai kita yang jelek. Untuk mendapatkan keamanan nilai, maka mau tak mau kita berkorban dong. Ngemeng lah..!
[/quote]
kenapa si dosen ngasih tugas paper kalo dia juga pake paradigma yang sama. bukannya mengajarkan mahasiswa menulis jurnal/karya ilmiah yang baik, malah menjerumuskan mahasiswa. gmana kalo di masa yg akan datang banyak profesor yang nerbitin publikasi ilmiahnya isinya banyakan ngemeng doank…
tp ga bisa muna si, gw juga menganut paradigma yg sama..
On 01.25.07 said: 
quoted: 3. Gunakan gambar-gambar yang banyak dan besar. [cut] Lebih terlihat smart kalau ada data statistik entah dari mana gitu.
Heahahahahaa… lucu banget yg “data statistik entah dari mana gitu” :)) :)) Betul sekali.
Komentator seblumnya: Amudi & Pramana got your point perfectly
Teman seperjuangan ya? Ehehehe.. 
On 03.19.07 said: 
Di sini semua tugas biasanya diperiksa sedetail-detailnya dan jumlah halaman maksimal dibatasi (tapi nggak ada minimalnya). Pekerjaan yang dipenuhi dengan “ngemeng-ngemeng” akan diberi bonus berupa pengurangan nilai… jadi segera lupakan jurus ngemeng ASAP setelah anda lulus… hehehe
On 03.30.07 said: 
Wah… Ada ya Ngemeng Engineeering… Dasar anak ITB…
Tapi, sekarang sudah ada dosen IF yang mencium kemunculan Ngemeng Engineering ini dalam pengerjaan makalah…
Dari sekian tugas makalah yang telah beliau berikan, beliau bisa melihat bahwa kebanyakan makalah yang ditulis mahasiswa, memang lebih banyak mengandung emeng-emengan daripada isi sebenarnya. Ya, kalau untuk level anak ITB, IF pula, emengan yang dimaksud adalah dasar teori dari pembahasan di makalahnya, padahal sebenarnya dasar teori tidak perlu dijelaskan panjang-panjang, apalagi melebihi panjang dari pembahasan makalahnya sendiri.
Dosen tersebut memang sepertinya memperhatikan sekali tugas-tugas mahasiswa, atau mungkin beliau memang membaca hingga mendalami, lalu menghayati tugas-tugas yang telah dibuat… (Naon…)
Dan taukah Anda dampaknya terhadap kami IF’05? Dalam kuliah yang beliau berikan, S**M*K, kami tahu bahwa IF’03 dan IF’04 mengerjakan makalah tersebut secara berkelompok. Dan sekarang, special for IF’05, makalah dikerjakan individu.
Dalam kuliah S**M*K, beliau juga memperlihatkan contoh makalah IF’03 yang menerapkan Ngemeng Engineering ini. Dulu beliau memang memberikan spesifikasi tugas yang lengkap dengan jumlah minimum halaman, tata cara penulisannya, dan sebagainya. Yah… justru spesifikasi seperti ini yang memaksa mahasiswa IF-yang deadliner dan sepertinya juga kurang suka menulis-akhirnya menerapkan Ngemeng Engineering… Jumlah minimum tidak akan bermasalah jika saja spesifikasi penulisannya BUKAN Times New Roman 10, spasi 1, dan format 2 kolom.
Spesifikasi seperti tersebut di atas masih kami terima sampai kuliah M*tD**. Dan sekarang… Untuk S*M*K, jumlah halaman dikurangi, belum tau kalau format penulisan. Tujuan dari pengurangan jumlah halaman ini adalah agar tidak ditemukan atau paling tidak bisa mengurangi penerapan Ngemeng Engineering dalam membuat makalah…
Bukan berarti dengan jumlah halaman yang lebih sedikit, pengerjaan makalah akan jadi lebih gampang, karena jika ditemukan lagi aplikasi Ngemeng Engineering ini, yang ada nilainya malah jelek. Nilai yang bagus adalah buat makalah yang di dalamnya benar-benar terlihat kontribusi mahasiswa tersebut dalam pembuatannya…
Nah, dari manakah beliau bisa melihat kontribusi mahasiswa yang bersangkutan? Ga tau ya, yang jelas, orang yang suka membaca dan menulis seperti beliau pasti bisa mengetahui lah mana tulisan yang bermutu, mana yang kurang bermutu…
Yah, kalau kondisinya sudah seperti ini, mungkin teknik yang harus dikuasai adalah teknik mengkompilasi sumber-sumber yang ada, bagaimana caranya menggabungkan semua sumber menjadi makalah yang bermutu, jelas, singkat, padat, dan berisi… Karena bagaimanapun, untuk makalah yang dikerjakan oleh para deadliner (saya tidak menyebut semua mahasiswa IF, yang merasa aja :p), tidak mungkin mengerjakannya seperti mahasiswa yang sedang mengerjakan TA, yang memang benar-benar harus menunjukkan buah pikirannya di TA yang dia tulis…
Sekian dulu aplikasi Ngemeng Engineering dari saya. Terima kasih…
On 06.19.07 said: 
hohoho. eiya, yg buat contoh kasus itu mata kuliah wajb? no!!! I was just thinking to not ever take it… .
On 07.06.07 said: 
Hoooo…
Memang ngemeng itu menjadi sebuah ilmu yang sangat duniawi (apa sih?…)
Mengambil contoh dari apa yang terjadi di pemerintahan (koreksi jika salah), supaya bisa memenangkan suatu pemilihan, yangg paling digunakan adalah ngemeng engineering… Pas dia udah dipilih, yang dingemenginnya cuma dikit yang terealisasi… Yaaa… Kalo ga terealisasi karena sudah diusahakan ya gapapalah… Tapi kalo ga diusahakan, itumah Ngemeng Engineering…
On 07.08.08 said: 
Oh, sekarang namanya ngemeng engineering toh, dulu sih namanya Sastra Informatika…
ngemeng emang penting, buat bikin skripsi jadi tebal
On 07.18.08 said: 
[...] menyibukkan. Bukan, bukan sibuk kerja praktek. Kerja prakteknya sih dah beres-beres aja, tinggal ngemeng engineering di laporan. Hal-hal yang mesti [...]
On 07.23.08 said: 
Wah, kayaknya problem semua kampus hampir sama yach.. di kmpus gw dulu jug gituh.. yang nyontek (mbacem) ama yang lurus, nilainya ga beda.. hwuuhh jd males bikin tugas..