Di pertigaan jalan Sumur Bandung yang bertemu dengan jalan Taman Sari, Bandung, sering saya temukan pengemis. Berhubung itu jalan utama menuju ke kampus, saya sudah hafal dengan seperti apa saja pengemis yang ada di situ.

Nah sudah seminggu ini, saya menemukan model baru mengemis di jalan itu. Sebenarnya saya nggak tahu apakah mereka benar-benar mengemis atau tidak, tapi tiga kali saya bertemu dengan tiga orang berbeda yang meminta bantuan sejenis : uang. Lebih kurang pembicaraannya seperti ini.

Orang Pertama

Seorang ibu (I) berjalan dengan tampang lesu sambil menggendong anaknya yang masih kecil dan melihat-lihat angkot yang lewat. Tibalah saya (S) secara tidak sengaja melewatinya.

I : Dek, maaf dek, saya habis jalan dari Lembang dan butuh uang buat angkot. Mohon minta seadanya dek..

S : (Serius lo? jalan dari Lembang? Yah.. sudahlah..) Hm.. yah.. Ini Bu.. seadanya..

I : Terima kasih banyak Dek..

Orang Kedua

Seorang ibu turun dari angkot dan membawa barang yang agak banyak. Kemudian bertemu lagi dengan saya

I : Maaf Mas, saya kehabisan uang buat angkot, terpaksa turun di sini, boleh minta seadanya?

S : (Kok agak banyak ya orang yang kayak gini?) … Ini bu, tolong digunakan sebaik-baiknya..

I : Terima kasih banyak Mas.. Semoga dibalas oleh Tuhan.

Orang Ketiga

Seorang Pria (P) berjalan tertatih-tatih dengan tampang cukup susah, terus berbicara kepada saya

P : Mohon bantuan a’.. saya kelaparan.. butuh uang buat makan

S : (Ya ampun.. ada lagi.. ) …

Saya pun meninggalkan dia, tapi karena iba, saya berbalik, melihat dia terduduk di pinggir jalan sambil menyandar ke tiang listrik (melankolis sekali!). Lalu saya menghampiri, dan memberikan uang.

S : Ini Pak, tolong segera bapak pakai buat makan. Bapak lapar kan?

P : Terima kasih a’, semoga Allah membalas perbuatan aa’..

Berhubung saat itu saya cuma mau pulang ke kosan sebentar, beberapa menit kemudian saya berangkat lagi ke kampus dan mendapati pria itu masih berada di sana dengan gaya tertatih-tatih.. lalu terduduk di pinggir jalan (masih dengan melankolis). Saya pun menghampiri dia

S : Pak, kok masih di sini? Uangnya sudah dipakai makan?

P : … (diam saja)

S : Pak, ini saya yang tadi, bapak sudah memakai uangnya buat makan?

P : (tampak gugup, lalu mengangguk pelan)… Sudah…

S : (agak kurang percaya..) Ya sudah pak..

Apa yang Anda lakukan jika berada di kondisi saya? Saya tahu kalau model meminta-minta seperti ini sangat mungkin merupakan penipuan. Di TransTV pernah ada liputan tentang pengemis-pengemis profesional yang memiliki trik-trik tertentu untuk membuat iba orang lain. Mulai dengan membuat luka bohongan, pura-pura cacat, dan sebagainya. Apakah Anda akan menyimpulkan apa yang saya alami ini penipuan?

Kalo saya sendiri sih, daripada mikirin itu, memilih untuk mengikhlaskan saja segala pemberian tersebut. Toh kalo dia yang berbohong dia sendiri yang menanggung akibatnya. Ya kan?