Beberapa hari lalu, terdengar sebuah berita mengejutkan dari Bandara Adi Sucipto Jogjakarta. Sebuah pesawat Garuda terbakar di landasan. Penyebabnya masih belum jelas. Bahkan ada yang bilang itu sabotase. Tapi pastinya, bencana ini mengingatkan saya akan bencana-bencana sebelumnya yang ada.
Ada apa negeri ini? Masih hangat kabar mengenai gempa di Padang dibicarakan, sudah terjadi musibah pesawat ini. Kemudian sebelumnya terjadi insiden tenggelamnya kapal Levina, yang belum diketahui penyebabnya. Sebelumnya lagi, ada bencana banjir yang melanda ibukota Metropolitan kita, Jakarta. Tak jauh dari bencana itu, sebelumnya kita memiliki kisah pilu lainnya mengenai hilangnya Adam Air, Jatuhnya Kereta Api, dan Tenggelamnya Senopati.
Saya sampai sudah lupa dengan bencana lainnya. Tapi rasanya sejak Tsunami menyapu Aceh pada Desember 2004, Indonesia tak henti dilanda bencana.
Pertanyaannya, siapa yang salah? Apakah Yang Mahakuasa sedang mengingatkan kita? Atau memang kita telah menuai dari segala tingkah yang kita buat sebelumnya?
Tsunami dan Gempa mungkin tidak bisa kita atasi. Itu kuasa Tuhan. Kita mungkin hanya bisa berdoa dan berlari jika itu terjadi pada kita.
Tapi bagaimana dengan insiden transportasi kita? Bencana longsor? Banjir? Itu sebuah bencana yang harusnya bisa kita hindari. Bukan begitu? Saya yakin semua orang juga tahu.
Saya jadi teringat sebuah pembicaraan makan siang bersama Ujay dan Weno beberapa hari lalu. Kami membahas masalah ketidaksempurnaannya kinerja masyarakat Indonesia dan tidak pedulinya bangsa kita ini terhadap prosedur-prosedur keamanan standar, yang jelas-jelas bakal menyelamatkan kita.
Mulai dari hal yang sederhana. Berapa orang sih yang memakai sabuk pengaman setiap saat? Memakai helm di jalan-jalan kecil yang tidak berpolisi? Menyebrang jalanan tidak melalui Zebra Cross? Berapa jumlah penumpang kereta ekonomi? Apakah melebihi daya tampungnya?
Beberapa hari lalu, di mana Presiden SBY mengadakan sidak ke beberapa kapal di pelabuhan entah di mana. Di berita tersebut diceritakan bagaimana kecewanya SBY karena kapal-kapal tersebut beroperasi tapi tidak mengikuti standar operasi.
Contoh kesembronoan yang lain juga ada di pesawat Adam Air, seperti pernah ditulis oleh Nofie Iman di sini. Ada salah satu kejadian ‘lucu’ yang dibahas di sana, yang mana ketika ada lubang di sayap, penanganannya adalah dengan menambal pakai isolasi.
Kejadian-kejadian di atas adalah bentuk nyata bahwa kebanyakan pekerjaan yang kita lakukan tidak dikerjakan dengan sempurna. Yang penting asal jalan aja. Soal kualitas ntarlah. Emang kualitas perlu ya?
Kualitas. Sesuatu yang sudah seringkali kita abaikan. Di saat seperti ini lah muncul kesadaran bahwa orang-orang yang perfeksionis diperlukan.
Ayo Indonesia, kerja yang bener dan jujur!
nb. gambar diambil dari sini.
On 03.09.07 said: 
Ayoo.. punya saran atau tindakan nyata yang udah dilakuin?? Kebanyakan orang Indonesia itu NATO, semoga kita tidak termasuk salah satunya Bram. Ayo mulai taat peraturan dari hal-hal kecil. Gue sedang berusaha keras nyebrang jalan di tempatnya, walopun kadang-kadang suka curi-curi kalo lagi males lewat jembatan penyebrangan atau zebra cross
On 03.11.07 said: 
Wahai Bram..
Namaku disebut lagi dalam blogmu.
Memang bener Bram, gw setuju banget sama tulisan lo. Walau sejujurnya gw pun terkadang suka melanggar (kan ga ada yang jaga.. :D). Memang kesadaran orang Indonesia itu masih rendah bangat. Susah untuk menjadi orang yang bener-bener disiplin karena lingkungan ngga mendukung. Mengenai bencana, gw juga sempat berpikir untuk membuat postingan untuk membahas hal ini. Menurut gw yang salah manusia Indonesia, karena ngga menganggap lingkungan itu sesuatu yang patut dijaga dan dirawat.
On 03.11.07 said: 
Baiklah..
Kemaren aku baru aja terbang malam hari, sepertinya memang cuaca Indonesia sedang buruk (apalagi malam hari) jadi buat yang mau pelesir ya ditunda dulu lah.
Mungkin ini cobaan dan mungkin juga hukuman. Jadi berbuat baiklah selagi punya umur.
Mengenai lubang di pesawat itu, sepanjang yang aku pernah baca, sebenarnya lubang itu ga masalah bila terbuka (ga perlu ditutup) tapi yang bikin miris ya kenapa ditutupnya harus pake selotip.
Mari tinggalkan hal-hal negatif… =D
On 03.12.07 said: 
@dee
Yah, langkah konkritnya.. Ikuti kata hati! Hehehe..
@ujay
Lo kan calon artis jay, supaya peringkat blog gw naik, gw sebut-sebut deh nama lo terus. Hehehehe..
@Frilo
Mari bos.. mulai dari diri sendiri