Nyalakan televisi Anda, buka halaman depan koran hari ini, atau buka situs berita Indonesia seperti detikcom atau okezone. Apa yang anda dapat? Penganiayaan, Tabrak lari, pengedaran obat-obat terlarang, pembunuhan, pemerkosaan, teroris, demo, dan seterusnya. Coba buka halaman selebriti atau nonton infotainment, banyak cerita kawin cerai.

Saya gak bilang semua, tapi berita seperti itu sangat banyak kan?

Ambil contoh lain. Umumnya televisi swasta kita punya acara khusus untuk berita-berita kriminal. Contohnya Sergap (RCTI) dan BUSER (SCTV). Saya jarang nonton acara-acara itu. Tapi setiap nonton, saya sampai bingung bagaimana sebuah kejahatan kecil di sebuah tempat entah di mana bisa diliput dengan baik.

Sementara di sisi lain, berita-berita mengenai keberhasilan, prestasi, kemajuan, atau apapunlah yang merupakan berita baik seolah tertutup di balik semua kekelaman itu. Misalnya, dulu ada seorang teman seangkatan saya yang mendapat Medali Perunggu dalam Olimpiade Matematika Internasional (CMIIW). Luar biasa. Tapi sayang, kabar itu tidak dipublikasikan bahkan oleh koran lokal Bandung.

Penyebabnya adalah semua berita buruk itu “lebih diterima” atau “lebih menyentuh” pembaca. Kita cenderung tidak peduli dengan berita baik, kecuali itu dekat dengan kehidupan kita. Anda pasti lebih tertarik baca kecelakaan pesawat daripada swasembada pangan bukan? Karena berita buruk lebih “mengancam” kita daripada berita biasa. Hal inilah yang menurut saya menyebabkan berita buruk lebih banyak. Sebab televisi butuh ditonton, koran butuh dibaca, dan situs perlu diakses agar tetap hidup. Banyak orang menggantungkan hidupnya di sana. Kalau mereka tidak bisa membuat dirinya dilihat, alamat kalah bersaing.

Media lokal kita sepertinya sudah melihat hal itu. Namun hal-hal buruk yang “menyentuh” tadi terlalu mendominasi. Entah karena negara kita emang kacau sampai banyak pembunuhan, perampokan, dan sebagainya, atau memang yang dicari itu cuma berita itu.

Menurut saya, yang terjadi adalah yang kedua. Berita buruk memang banyak, makanya masuk media. Namun, berita baik juga pasti banyak. Hanya saja, berita buruk selalu diutamakan karena lebih menyentuh pembaca, hingga mungkin berita baik hanya ada di halaman-halaman dalam atau belakang, tidak menjadi highlight, dan akhirnya tidak pernah dibicarakan oleh masyarakat kita.

Ketika kita terus membicarakan keburukan yang terjadi di negara kita? Kapan kita bisa bangga sama Indonesia?

Saya jadi teringat dengan sebuah acara di TransTV dulu, entah sekarang masih ada atau nggak, yang berjudul “Good News”. Saya nggak terlalu suka sih sebenernya dengan cara penyampaian si Indra Bekti dan Oki Lukman di sana. Tapi, idenya bagus. Menceritakan hal-hal positif yang terjadi di negeri ini.

Memang baik sekali kalau kita bisa belajar dari kesalahan di masa lalu. Tapi jangan lupa untuk menjaga hal-hal positif yang telah kita miliki agar terus berkembang menjadi hal yang lebih baik. Mungkin dari berita penyiksaan, pembunuhan, kecelakaan, dan sebagainya kita bisa belajar bahwa perlu ada perbaikan di negeri ini. Tapi jangan lupa bahwa kita punya sesuatu yang bisa kita banggakan. Sesuatu yang harus kita pertahankan. Berita-berita positif bisa membuat itu tetap ada.

Komposisinya harus seimbang lah. Yin dan Yang anakku.. :D