Log in | Jump |

/brahmasta/journal

Everything into a folder
This thing was constructed on April 6, 2007, and it was categorized as Indonesiana.
You can follow comments through the RSS 2.0 feed. You can leave a comment, or trackback.

Nyalakan televisi Anda, buka halaman depan koran hari ini, atau buka situs berita Indonesia seperti detikcom atau okezone. Apa yang anda dapat? Penganiayaan, Tabrak lari, pengedaran obat-obat terlarang, pembunuhan, pemerkosaan, teroris, demo, dan seterusnya. Coba buka halaman selebriti atau nonton infotainment, banyak cerita kawin cerai.

Saya gak bilang semua, tapi berita seperti itu sangat banyak kan?

Ambil contoh lain. Umumnya televisi swasta kita punya acara khusus untuk berita-berita kriminal. Contohnya Sergap (RCTI) dan BUSER (SCTV). Saya jarang nonton acara-acara itu. Tapi setiap nonton, saya sampai bingung bagaimana sebuah kejahatan kecil di sebuah tempat entah di mana bisa diliput dengan baik.

Sementara di sisi lain, berita-berita mengenai keberhasilan, prestasi, kemajuan, atau apapunlah yang merupakan berita baik seolah tertutup di balik semua kekelaman itu. Misalnya, dulu ada seorang teman seangkatan saya yang mendapat Medali Perunggu dalam Olimpiade Matematika Internasional (CMIIW). Luar biasa. Tapi sayang, kabar itu tidak dipublikasikan bahkan oleh koran lokal Bandung.

Penyebabnya adalah semua berita buruk itu “lebih diterima” atau “lebih menyentuh” pembaca. Kita cenderung tidak peduli dengan berita baik, kecuali itu dekat dengan kehidupan kita. Anda pasti lebih tertarik baca kecelakaan pesawat daripada swasembada pangan bukan? Karena berita buruk lebih “mengancam” kita daripada berita biasa. Hal inilah yang menurut saya menyebabkan berita buruk lebih banyak. Sebab televisi butuh ditonton, koran butuh dibaca, dan situs perlu diakses agar tetap hidup. Banyak orang menggantungkan hidupnya di sana. Kalau mereka tidak bisa membuat dirinya dilihat, alamat kalah bersaing.

Media lokal kita sepertinya sudah melihat hal itu. Namun hal-hal buruk yang “menyentuh” tadi terlalu mendominasi. Entah karena negara kita emang kacau sampai banyak pembunuhan, perampokan, dan sebagainya, atau memang yang dicari itu cuma berita itu.

Menurut saya, yang terjadi adalah yang kedua. Berita buruk memang banyak, makanya masuk media. Namun, berita baik juga pasti banyak. Hanya saja, berita buruk selalu diutamakan karena lebih menyentuh pembaca, hingga mungkin berita baik hanya ada di halaman-halaman dalam atau belakang, tidak menjadi highlight, dan akhirnya tidak pernah dibicarakan oleh masyarakat kita.

Ketika kita terus membicarakan keburukan yang terjadi di negara kita? Kapan kita bisa bangga sama Indonesia?

Saya jadi teringat dengan sebuah acara di TransTV dulu, entah sekarang masih ada atau nggak, yang berjudul “Good News”. Saya nggak terlalu suka sih sebenernya dengan cara penyampaian si Indra Bekti dan Oki Lukman di sana. Tapi, idenya bagus. Menceritakan hal-hal positif yang terjadi di negeri ini.

Memang baik sekali kalau kita bisa belajar dari kesalahan di masa lalu. Tapi jangan lupa untuk menjaga hal-hal positif yang telah kita miliki agar terus berkembang menjadi hal yang lebih baik. Mungkin dari berita penyiksaan, pembunuhan, kecelakaan, dan sebagainya kita bisa belajar bahwa perlu ada perbaikan di negeri ini. Tapi jangan lupa bahwa kita punya sesuatu yang bisa kita banggakan. Sesuatu yang harus kita pertahankan. Berita-berita positif bisa membuat itu tetap ada.

Komposisinya harus seimbang lah. Yin dan Yang anakku.. :D

This thing has 8 Comments

  1. Posted April 7, 2007 at 5:29 pm | Permalink

    Iya, memang fenomena yang menyedihkan. Dampak lainnya, kesannya Indonesia tu jelek amat kondisinya. Apa saudara2 qt di mancanegara mikirnya juga gitu ya?
    Btw, kalo disebut Yin dan Yang jadi inget seseorang :p

  2. Posted April 7, 2007 at 10:23 pm | Permalink

    betul Brahm! harusnya kita bisa lebih bangga ya sama negeri ini, karena sebenarnya masih ada banyak hal baik yang kurang diperbincangkan..dan akhirnya hal2 baik tsb jadi ga diperduliin dh..
    pembahasan lo bagus2 brahm..diteruskan! :)

  3. Posted April 8, 2007 at 10:56 am | Permalink

    kemaren pas nonton good news yang di trans tv itu. Hostnya udah bukan okki lukman-indra bekti, tapi jadi entah-siapa-kayanya-gak-ngetop-deh. Pembawaannya, lebih parah dari okki-indra. Yang cewe terutama, narsis berlebihan.

    The point is, kalo acara2 yang membawa berita bagus dikemasnya jelek kaya gitu. Ya tetep aja berita buruk akan selalu menang…

  4. mina
    Posted April 10, 2007 at 8:56 am | Permalink

    Hmm.. tapi kok kayaknya emang lebih banyak berita buruk yah.. Ato mungkin berita2 bagusnya ga sesegnificant berita buruk. Mungkin kalo berita bagusnya sangat mengesankan, baru bisa nandingin kehebatan berita buruk. Makanya ayo kita bikin prestasi dan ngebuat bangsa kita terkenal dengan berita2 baik.. cie..

    btw, waktu aku liburan ke indo kemaren, tmn2 bule ku pada takut. Mereka takut aku ga akan kembali ke sini dengan selamat; aku sampe bingung. soalnya di media2 kesannya indo mengkhawatirkan sekali T_T

  5. Posted April 13, 2007 at 4:40 pm | Permalink

    Hmmm,,, sepakat Bram,, setuju banget,,, semoga orang-orang pertelevisian membaca blog ini,, and Thanks sudah mengingatkan pada Yin dan Yang hahahaha

  6. Posted April 18, 2007 at 8:49 am | Permalink

    some people says, no news is good news…

    jadi kalo ada news, pasti bad news… bukan begitu?

  7. Posted April 18, 2007 at 11:28 am | Permalink

    Jadi inget, gua lebih sering menulis hal yang jelek2 di blog. Mesti seimbang ya Bram? Oke deh! Haha.

  8. Posted April 18, 2007 at 11:32 am | Permalink

    @amudi
    Ya.. kalo kalimat awal bener, yang kedua jadi bener. Jawabannya A, Dua-duanya benar dan berhubungan. :D @ikram
    Menurut saya sih bos.. Masa jelek-jelek semua. :D “Yin dan Yang” kalo kata dosen “The Great” di IF.. :p

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*