Kemarin, saya mengikuti sebuah seminar yang diadain Kedutaan Besar Australia. Judulnya IT Job Myth, 21st Century Career in IT. Saya datang bersama beberapa teman, ada Ridwan, Yudi, Miri, Ronny, Febrian, Aulia, dan Helen. Kami juga ditemani oleh Kaprodi Informatika, Pak Sukrisno. Kok saya bisa ikut? Kebetulan waktu itu ada email yang nawarin delapan pendaftar pertama buat ikut cuma-cuma seminar ini. Iseng-iseng berhadiah, saya pun daftar aja, setelah diajakin Miri.
Ketika mendengar judul dari seminar itu pertama kali, saya punya ekspektasi tinggi. Saya membayangkan bakal ada sebuah pencerdasan kepada saya tentang mitos-mitos pekerja IT dan kemampuan apa saja yang harus dimiliki oleh orang IT saat ini. Terus saya membayangkan juga bakal ada gambaran trend perkembangan IT di masa depan seperti apa.
Tapi ternyata itu berlebihan.
Jadi sebenarnya apa yang terjadi? Kemarin itu adalah sebuah seminar yang mengundang mahasiswa-mahasiswa IT dari berbagai kampus di Indonesia. Ada dari UI, Maranatha, Budi Luhur, banyak deh. Entah ada berapa warna jas almamater di sana. Kami disuguhkan dua buah presentasi. Emang ada sih konten presentasi yang nyenggol-nyenggol ke arah judulnya, tapi sedikit.
Presentasi pertama adalah dari seorang Doktor dari Bond University Australia, mengenai IT Job Myth ini. Slide presentasinya dilengkapi dengan gambar-gambar dan logo universitas tersebut. Tadinya sih saya pikir yah mungkin karena dia dari sana. Tapi tiba-tiba pada akhir presentasi, dia bercerita tentang bagaimana universitasnya menyelesaikan masalah-masalah yang dia ceritakan. Pada saat itu saya masih berpikir wajar, mungkin sekalian promosi.
Presentasi kedua disajikan oleh mahasiswa Indonesia yang melakukan studi di Australia. Dan betapa kagetnya saya ketika tahu bahwa yang dia presentasikan itu adalah bagaimana dia kuliah di Bond University ini! Mulai dari berapa hari kuliah di sini, akomodasinya gimana, fasilitas-fasilitas di Bond University seperti apa, tempat wisata di dekat situ apa aja, dan lain-lain. Dia menceritakan betapa “wah”-nya kuliah di sana. Promosi banget. Promosi tentang bagaimana kita bisa menjalani “hidup enak” di sana. Tidak ada penjelasan dari sisi akademis sama sekali mengenai apa yang diajarkan, penelitian apa aja yang sedang berjalan di sana, atau apapun deh yang berbau akademis. Padahal dia mestinya tahu kan kalo penontonnya mahasiswa IT semua?
Total jendral, seluruh acara berlangsung sekitar dua jam lebih. Mulai jam 9 sampai jam 11 lewat. Ada sesi tanya jawabnya yang anehnya cuma 15 menit. Udah gitu, moderator sesi tanya jawabnya menasehati kami untuk lebih banyak bertanya sebelum langsung menutup acara tanya jawab. Jadi kapan mau nanya? Setelah tanya jawab, acara terakhir kami dapat sedikit makanan dan minuman dalam sesi acara yang disebut Morning Tea. Habis itu pulang deh.
Jadi apa aja yang saya dapet dari materi IT Job Myth ini? Beberapa yang saya inget sih,
- Saat ini perkembangan IT kembali meningkat setelah kejatuhan era dotcom pada sekitar tahun 2000, yang membuat orang berpikir bahwa IT tidak penting. Perkembangan ini tidak akan mengalami kejatuhan lagi, karena pendekatannya berbeda. Jika pada era dotcom tersebut, bisnis didasarkan pada teknologi apa yang muncul dan dikembangkan, maka saat ini teknologi yang dikendalikan oleh bisnis. Jadi teknologi besar penggunaannya karena bisnis butuh itu. Makanya tidak akan sampai terjadi di mana teknologi canggih dijual, sementara ga ada yang bisa dan perlu memakainya.
- Menjadi pekerja IT itu gak selalu terlibat dengan pembangunan dan pengembangan perangkat lunak. Saat ini jenis pekerjaan IT semakin meluas. Contoh yang disebut adalah Customer Relationship Manager, yang mengelola hubungan dengan pelanggan, berkaitan dengan penggunaan CRM di perusahaannya.
- Ada beberapa hal yang perlu dipelajari sebab akan banyak digunakan di masa datang, beberapa yang saya inget sih ada Knowledge Management, IT Infrastructure, dan terakhir Business Process. Dia menyebut bahwa orang IT sangat perlu memahami apa itu proses bisnis dan bagaimana itu berjalan.
Itulah beberapa yang saya ingat dari materi kemarin. Lumayan sih, jadi nambah wawasan, tapi tetap menyebalkan karena seperti ada “penipuan” di sana. Jadi moralnya, kalo bikin seminar atau promosi, jelasin sebenarnya tujuan acaranya apa, sehingga penonton tidak salah presepsi. Orang mengekspektasi ada pembahasan ilmiah, ternyata dapetnya promosi studi ke Australia. Cuma satu universitas lagi.
Btw, informasi tambahan, kemarin kan acaranya berlangsung di Kedubes Australia di Jakarta. Prosedur pemeriksaan untuk masuk ke sana itu ketat banget. Mulai dari minta KTP, pemeriksaan tas, sampai ada pengambilan DNA (lewat scan tangan, ini kata Yudi sih..). Temboknya juga berlapis-lapis. Kadang saya berpikir mereka seperti tinggal di penjara. Tapi belakangan saya sadar sih, mereka wajar takut, soalnya pernah dibom tahun 2004 dulu.

This thing has 5 Comments
haha tak kirain penting seminarnya..
ternyata.. (rolan dah sempet cerita siy)
parah yakk..
itu mah yang ada orang senep, bukannya jadi pengen kuliah..
iyee Brahm betul, mereka emg lebih sering bahas ttg trik2 ‘menjalani hidup’ disono drpd mbahas cara belajar yang efektif biar ga ketinggalan dan ttp ningkatin prestasi.
- talk show di scholarship exhibition di Paris Van Java kmrin itu -
kalo perkara prosedur yang belibet utk masuk ke kedutaan, mungkin diberlakukan di semua kedutaan kali y. super duper kuetaatt.
soalnya dulu pas jaman2 smu mo ikutan monbusho, cm dikonsulat lho y. Itu jg harus dicek2 kelengkapan identitasnya. masuknya harus satu2, pake di scanning2 sgala…
ooww, scanning itu maksudnya ngambil DNA gt y? baru tahu. hehe
dudul banget. kasian udah datang jauh2 hanya disuguhi seminar seperti itu
yang penting, gratis makan tho mas?
Ternyata orang sana demen promosi juga ya….!