Log in | Jump |

/brahmasta/journal

Everything into a folder
This thing was constructed on May 5, 2007, and it was categorized as General.
You can follow comments through the RSS 2.0 feed. You can leave a comment, or trackback.

Setiap awal bab pada buku Operating Systems : A Modern Perspective karya G.J Nutt, selalu ada sebuah quote. Sebenarnya penulisan quote ini tidak hanya ada pada buku tersebut. Misalnya buku-buku diktat kuliah Pak Rinaldi, yang punya kata-kata bijak setiap awal bab. Pada buku Operating Systems : A Modern Perspective tersebut ada satu quote yang teringat terus oleh saya, yang mengambil sebagian dari bait di bawah.

“The time has come,” the Walrus said,
“To talk of many things:
Of shoes and ships and sealing-wax
Of cabbages-and kings
And why the sea is boiling hot
And whether pigs have wings.”

Sebenarnya saya inget quote itu karena ada salah seorang teman yang dijuluki “Walrus” oleh yang lain. Kalo nggak salah penyebabnya adalah waktu lagi rapat dia mendemonstrasikan posisi duduk yang mirip anjing laut. Jadilah kami menjulukinya “Walrus”. Padahal arti walrus sebenarnya bukan anjing laut. Walrus itu beruang laut.

Kemarin saya mencari sumber yang berkaitan dengan quote tersebut. Ternyata tulisan itu merupakan sebuah puisi berjudul “The Walrus and The Carpenter” yang dikarang oleh Lewis Caroll, pada buku Through the Looking-Glass, yang dipublikasikan pada bulan Desember tahun 1871. Sang penulis asal Inggris ini sendiri memiliki nama asli Charles Lutwidge Dodgson. Salah satu karya lainnya yang terkenal adalah Alice’s Adventures in Wonderland.

Tulisan lengkap dari puisi The Walrus and the Carpenter ini dapat dilihat di sini.

glass21.gif

Ilustrasi The Walrus and the Carpenter

Cerita yang dikandung oleh puisi tersebut lebih kurang sebagai berikut. Walrus dan Carpenter, dua tokoh antagonis, berjalan menyisiri pantai di sebuah malam yang terang (bingung ga?). Kemudian mereka mendatangi sekumpulan Oyster (Tiram) dan mengajak tiram-tiram tersebut untuk bergabung bersama mereka. Oyster sulung tidak menanggapi mereka, tapi yang lain akhirnya ikut. Pada akhirnya, semua tiram tersebut dimakan oleh Walrus dan Carpenter tersebut. Walrus pun akhirnya menyesali tindakannya, lebih karena sudah tidak ada makanan lagi.

Ada berbagai interpretasi dari puisi ini. Ada yang melihat dari sisi politik, bisnis, bahkan agama. Saya berhasil menemukan penjelasan dari sisi politiknya di sini. Contoh interpretasinya, misalnya pada bait “The time has come…” di atas:

This is an example of a politicians sirens call to the people, once they have gathered their flock they keep them entranced with tales of the basic essentials. They start off making promises of things that appealto their listners.Or rather the things that the listners think they need, but in actality don’t - oysters have no need for shoes, ships, and sealing wax. Eventually the politicians degenerate into babbeling over overt useless issues, such as as flying pigs. Carroll also makes the point that if you pay special attention to their speeches, one can find subcurrents of issues that are in fact threatening your very happiness - i.e. seas that boil would make an oyster’s life hellish.

Setelah menipu para Oyster tersebut dengan janji-janji yang sebenarnya tidak mereka butuhkan, akhirnya Walrus dan Carpenter memakan mereka. Menyedihkan. Termakan oleh omongan dan kepolosan. Kepolosan ini juga digambarkan dengan adanya Oyster, yang paling tua, yang tidak mempedulikan tawaran Walrus dan Carpenter, sementara Oyster yang lain, yang masih muda pada ikut pada Walrus dan Carpenter tersebut. Oyster yang tertua sudah punya pengalaman, namun sayang pengalamannya tidak cukup untuk meyakinkan teman-temannya untuk tidak ikut.

Tiba-tiba saya jadi kepikiran, ada nggak sih image baik untuk politisi? Kok kesannya buruk terus? Ada yang berminat jadi politisi? :D

This thing has 12 Comments

  1. Posted May 5, 2007 at 4:22 pm | Permalink

    klo soal image siy, seringnya emang denger yang jelek2 aja. Padahal klo dari artinya kan politisi itu maksudnya orang yang terjun di dunia politik (arti kata berdasarkan pemikiran sendiri :) ). Berarti, Bung Hatta, Syahrir, Bung Karno n tokoh-tokoh negarawan yang hidup di jaman dahulu ga jelek kan imagenya.

    Klo politisi yang sekarang imagenya kebanyakan jelek … itu mah karena ulah mereka sendiri aja ..

  2. Posted May 5, 2007 at 4:27 pm | Permalink

    hooo… jadi tertarik baca buku “through the looking-glass” :D saya pernah bacanya “alice’s adventures in wonderland” doang soalnya. di situ juga suka ada puisi atau plesetan lirik lagu yang kurang saya ngerti :P
    btw, kalo meneg kebudayaan dan pariwisata dibilang “politisi” bukan? soalnya menurut saya, jero wacik itu image-nya bagus sih… hehehe…

  3. Posted May 5, 2007 at 5:59 pm | Permalink

    males jadi politisi, gak punya gelar Ngemeng Engineer

  4. Posted May 5, 2007 at 6:32 pm | Permalink

    @widya : iya ya wid, ternyata itu hanya pemikiran sempit sesaat.. :D

  5. Posted May 5, 2007 at 9:29 pm | Permalink

    “waktu lagi rapat dia mendemonstrasikan posisi duduk yang mirip anjing laut. Jadilah kami menjulukinya “Walrus” “.

    hwhwhw.. lucu banget bram.. :)

  6. Posted May 6, 2007 at 5:32 pm | Permalink

    >>“waktu lagi rapat dia mendemonstrasikan posisi duduk yang mirip anjing laut. Jadilah kami menjulukinya “Walrus” “
    siapa sih walrus yang dimaksud?

    kalo menurut saya mah,
    politisi busuk = politisi jeblosan ipdn

    pis ah.

  7. Posted May 7, 2007 at 8:21 am | Permalink

    wah, bagus2, nemu aja bahan2 menarik kayak gini ^_^

  8. Posted May 7, 2007 at 4:03 pm | Permalink

    Entah kenapa? Gw agak2 alergi berbicara mengenai politik, walaupun gw sering mengikuti hingar bingar politik di negeri kita. Jadi, ya gw ga berminat bram.

    Omong2, klo diinterpretasiin dalam bisnis gmn tuh? Gw berpikir (jir, peristiwa langka nih bram) klo maksudnya dalam bisnis jangan terlalu ikut arus dan jangan percaya kata orang sebelum mencoba sendiri. Bener ga nih?

  9. Posted May 7, 2007 at 4:18 pm | Permalink

    Walrus = beruang laut atau singa laut ya?
    Hebat ya sastra itu… Padahal Caroll membuatnya untuk cerita anak-anak. Tapi orang-orang bisa menginterpretasikannya ke dalam berbagai hal…

  10. Posted May 7, 2007 at 4:54 pm | Permalink

    @dende : Ada deh.. :D @tyo : Terimakasih…
    @orangculun : Wah bagus do.. mulai berpikir. Boong lo ga pernah mikir. Skill gitu :))
    @Syahdana : Hebat wen.. tapi malah itu juga yang suka bikin bingung.. :D

  11. Posted May 9, 2007 at 1:45 pm | Permalink

    Nice story. Di awal masuk kerja yang baru ini, ada pesan dari bapak-bapak di sini.

    ” bekerja dengan jujur”

    Saya yakin bila semua orang berlaku jujur, insya Allah masalah bisa selesai.

  12. Posted November 8, 2007 at 8:43 am | Permalink

    Ternyata dari buku Os-nya, hasil enkripsinya ya… Hehe… Tadi disuruh ngerjain soal kripto gitu dari buku OS, terus nemu kata-kata walrus, terus jadi inget postingan ini, dan ternyata benar, hehe…

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*