Akhir minggu lalu, perebutan Juara di Premiership telah berakhir. Manchester United berhasil mendapatkan gelar juara setelah menunggu sejak tahun 2003. Perebutan juara di Championship (divisi di bawah Premiership) juga ikut berakhir. Sunderland berhasil meraih titel juara untuk Divisi Championship.
Ada yang menarik ketika saya melihat siapa yang terdegradasi dari Divisi Championship ke League One (Divisi di bawah Championship). Leeds United. Klub ini berada di peringkat paling bawah. Selain itu, ternyata klub ini mendapatkan pengurangan 10 poin dari FA dikarenakan ketidakjujuran dalam memberikan laporan keuangan.
Buat saya pribadi, hal ini menyedihkan. Leeds pernah jadi klub favorit saya, selain Manchester United tentunya. Pada awal era 2000-an, Leeds merupakan tim papan atas Liga Inggris dengan sejumlah pemain muda potensial. Ada Paul Robinson, Rio Ferdinand, Jonathan Woodgate, Ian Harte, Lee Bowyer, Harry Kewell, dan Alan Smith. Bahkan James Milner dan Aaron Lennon, sebelum masing-masing di Newcastle dan Tottenham sekarang, juga berasal dari Leeds. Pada masa-masa itu Leeds sempat mencapai Semi Final Piala UEFA 1999-2000 dan Semi Final Liga Champions 2000-2001. Saya sempat mengira bahwa Leeds bakal jadi tim besar tiga-empat tahun setelah itu.
Tapi sayang, ternyata Leeds mengalami kesulitan keuangan karena kebanyakan utang. Leeds pada masa-masa naik daun itu terus mengembangkan timnya dengan membeli pemain-pemain berkelas secara berlebihan. Klub ini memperoleh dana dari meminjam. Tapi tidak mampu mengembalikan. Akhirnya satu persatu pemain pentingnya dijual. Misalkan Rio Ferdinand dan Alan Smith yang dijual ke Manchester United, Woodgate dan Bowyer ke Newcastle, Kewell ke Liverpool, Keane dan Robinson ke Tottenham, dan banyak lagi. Hasilnya klub ini turun ke papan bawah Premiership, dan akhirnya terdegradasi ke Championship. Tahun ini, seperti dijelaskan di awal, Leeds terdegradasi ke League One.
Hal ini akan terasa semakin menyedihkan mengingat Leeds sendiri sebenarnya merupakan kota yang cukup besar. Jumlah penduduknya melebihi 400 ribu jiwa. Salah satu dari sejumlah kota besar di Inggris. Elland Road, markas klub ini, juga bukan stadion kecil. Bangku penontonnya melebihi 40.000 tempat duduk. Masih seimbang dengan Everton dan lebih besar dari West Ham United.
Semoga klub ini suatu saat bisa bangkit dan bersaing di Premiership lagi. Saya sendiri dulu sudah sering berusaha membantu. Tapi di game FIFA Manager dan Football Manager doang. ![]()
Pelajaran yang bisa saya petik dari kejatuhan klub ini adalah, kita tidak bisa memaksakan sesuatu untuk menjadi besar secara cepat. Ada sesuatu yang harus membayarnya. Entah itu proses atau uang (jadi inget Chelsea). Leeds United berusaha menjadi besar dengan uang, tapi sayang mereka menjudikan masa depan sendiri. Akibatnya, klub yang sudah bagus, dengan punya banyak pemain muda potensial, dukungan publik, stadion yang besar, malah jadi hancur menjadi klub semenjana.
Kejadian ini bisa saya analogikan dengan sebuah pelajaran yang saya petik dari himpunan dalam beberapa tahun ini. Sebuah organisasi yang mungkin belum begitu matang, tapi boleh saya bilang memiliki individu-individu potensial, berusaha menyelenggarakan sesuatu yang besar, dan mungkin boleh dibilang sangat besar, sementara berfokus pada kebesaran acara tersebut, bukan esensi dari mengapa kegiatan itu harus ada terlaksana. Jauh lebih bijak jika kita membangun organisasi pelan-pelan, dengan sesuatu yang sedikit dan kecil-kecil, tapi konsisten dan membangun.
Jadi, sekian pendapat saya. Hidup Leeds United! Maju terus himpunan!

This thing has 8 Comments
Oh ya..LU tuh dulu klub keren..soalnya banyak pemain skillfulnya..
Ada ian harte euy yang kaki kirinya maut betul,m trus harry kewell juga punya tendangan kaki kiri kayak geledek..
Leeds juga mantan klubnya salah satu pemain fav gw, Eric Cantona..
Itu di paragraf kedua terakhir, lagi ngomongin kegiatan yang bikin utang itu ya?
Nyesel euy, gak ikut terlibat di dalemnya.
Ada dua kegiatan yang jadi pelajaran buat saya sih, pertama kegiatan yang bikin banyak utang itu, kedua rencana himpunan kita studi banding ke Singapura.
Saya percaya, semua pasti ada sisi positifnya sih, kegiatan pertama emang banyak banget pembelajaran yang kita dapatkan. Tapi yang saya soroti adalah keinginan untuk melakukan hal yang besar, sementara pondasi tidak kuat. itu tidak baik.
Wah.. jadi inget lagi pas Leeds lagi bagus-bagusnya.
Setuju banget tentang paragraf kedua dari terakhir Bram. Bisa dibilang kita kurang pengalaman, tul??
Istilah kata, bangunan semegah apapun akan runtuh klo pondasi nya ga betul…
Salah satu penyebab terbesarnya menurut gw adalah terlalu cepat melepas young guns2 yang mereka miliki. Strategi penjualan pemainnya kurang matang.. Salah satu julukan The Leeds saat itu kan The Young Guns.. tapi entah kenapa malah young guns nya yang dijual.. ngejual karena kurang duit? gw rasa bukan itu masalahnya.. wong masuk semifinal champion ko. hehe.. turut berduka cita atas degradasinya
gw barusan online, login ke tumblr eh mungkin karena cookies (ato entah apalah itu yang tidak gw mengerti) yang muncul malah page tumblr lu…
parah nie jaringan kampus..
tapi gw ga ngotak atik kok..secara gw orang ganteng yang baik dan setia =)
me too. Dulu juga klub jagoanq waktu maen WE 4!!!
pertama maen WE 4, Pertama ngrti sepakbola, trus pilih klub yang pemaen2nya masih muda2, but talented banget, at my age juga.
jadi gila maen WE, jadi suka sepak bola(mualaf sepak bola)
jadi ngefans LEEDS banget.
waktu LEEDS degradasi usahaku juga lagi bangkrut minus 30 jt ampe sekarang!!!!
HIDUP LEEDS HIDUP AKUU