dsc00270.JPGBeberapa hari lalu saya membeli sebuah buku berjudul Dunia Tanpa Sekolah. Buku ini ditulis oleh Muhammad Izza Ahsin, seorang penulis berusia 15 tahun asal Salatiga. Buku tersebut bercerita tentang kisah nyata kegelisahan sang penulis yang merasa “terperangkap” dalam sekolah formal, pendidikan Indonesia.

Izza sendiri akhirnya memutuskan untuk meninggalkan pendidikan formal, pada akhir kelas tiga SMP, di saat Ujian Akhir Nasional tinggal tiga bulan lagi. Hal ini dikarenakan ia telah memiliki cita-cita sendiri, yakni penulis, dan tidak nyaman dengan sistem pendidikan Indonesia. Pendidikan negeri ini menurutnya tidak memberikan manfaat apa-apa. Izza sendiri bukannya seorang manusia yang tidak suka belajar. Dia sangat mencintai aktivitas itu. Di rumahnya ada lebih kurang enam ratus koleksi buku. Dia sangat senang membaca. Pemikirannya mengenai pendidikan Indonesia yang tidak memberi manfaat tersebut justru semakin ia rasakan karena banyak membaca buku-buku pendidikan.

Jangan pula ragukan niatnya untuk menjadi penulis, draft novel pertamanya memiliki ketebalan 364 halaman. Di luar apakah tulisan itu bagus atau tidak, itu menunjuukkan kemauan yang sangat besar.

Membaca buku ini membawa kita mengikuti kehidupan Izza dari sejak bangku SD, di mana dia sangat bergairah pada pelajaran sastra dikarenakan gurunya membuat siswanya aktif berpartisipasi di dalam kelas, konflik keluarga yang dialaminya sebagai perlawanan terhadap keinginan mengundurkan diri dari sekolah, dan bagaimana ia menghadapi dunia setelah keinginannya disetujui orangtua dan benar-benar keluar dari sekolah.

Apakah pendidikan kita memang sedemikian jeleknya, sampai seseorang yang menyukai aktivitas tersebut harus mengundurkan diri?

Ada banyak aspek yang dilihat Izza dalam buku ini. Diantaranya materi pelajaran yang terlalu banyak dan tidak perlu, metode pengajaran yang membosankan dan tidak menarik dari guru (misal: mendiktekan muridnya mencatat sepanjang jam pelajaran), tingkah laku guru yang menjatuhkan mental siswa (misalnya: menjelek-jelekkan siswa karena tidak bisa mengerjakan soal di depan kelas), dan pola pikir masyarakat kita untuk sekolah setinggi-tingginya lalu kerja (ini diceritakan melalui neneknya yang sangat bangga kalau keluarganya sekolah dan lulus lalu bekerja jadi pegawai negeri).

Memang pendidikan kita tampak menyedihkan kalau kita membaca buku itu. Contoh saja, bagaimana seorang guru bisa mengatakan kata-kata berikut kepada siswanya, ketika sang siswa tidak bisa mengerjakan soal di depan.

“Bapak heran kenapa ada anak seperti Dedi. Ibunya dulu ngidam apa ya? Kok bisa melahirkan anak seperti ini?”

Bukan contoh yang baik bukan, untuk seorang guru?

Di luar semua itu, ada hal lain yang juga menarik. Membaca buku ini juga memperkenalkan kita kepada Izza yang begitu keras kepala dalam membenci pendidikan kita. Saya sungguh tidak suka dengan kenaifannya. Mungkin karena dia masih berumur 15 tahun dan merasa sudah banyak membaca buku yang dianggapnya hebat, sistem pendidikan yang telah disusun oleh pemerintah kita, terlepas itu baik atau buruk, langsung dianggap tidak berguna olehnya. Ia seperti tercuci otak dengan buku-buku modern sebangsa Quantum Learning, lantas langsung menutup mata terhadap segala yang berlawanan dengan itu.

Terlepas dari semua itu, saya sangat setuju bahwa memang ada yang salah dengan pendidikan kita. Semua yang disebutkannya entah itu pengajaran yang membosankan, materi yang terlalu banyak, dan pola pikir sekolah lalu kerja merupakan bagian-bagian buruk dari pendidikan kita. Saya juga merasakannya. Mungkin malah kita tidak perlu membahas lagi, karena sudah tahu sama tahu. Saya juga salut dengan keputusannya untuk keluar dari sekolah dikarenakan idealismenya. Dia sangat berani. Apalagi mengingat umurnya yang masih 15 tahun.

Tapi menurut saya sih, saya masih mendapatkan sesuatu dari perjalanan 12 tahun mengenyam pendidikan sekolah, dan sudah empat tahun menjadi mahasiswa. Tidak sesia-sia itu.

Hm, itu pendapat saya, dan tulisan ini banyak mengulas pendapat Izza. Kalau anda sendiri bagaimana?