Beberapa hari lalu saya membeli sebuah buku berjudul Dunia Tanpa Sekolah. Buku ini ditulis oleh Muhammad Izza Ahsin, seorang penulis berusia 15 tahun asal Salatiga. Buku tersebut bercerita tentang kisah nyata kegelisahan sang penulis yang merasa “terperangkap” dalam sekolah formal, pendidikan Indonesia.
Izza sendiri akhirnya memutuskan untuk meninggalkan pendidikan formal, pada akhir kelas tiga SMP, di saat Ujian Akhir Nasional tinggal tiga bulan lagi. Hal ini dikarenakan ia telah memiliki cita-cita sendiri, yakni penulis, dan tidak nyaman dengan sistem pendidikan Indonesia. Pendidikan negeri ini menurutnya tidak memberikan manfaat apa-apa. Izza sendiri bukannya seorang manusia yang tidak suka belajar. Dia sangat mencintai aktivitas itu. Di rumahnya ada lebih kurang enam ratus koleksi buku. Dia sangat senang membaca. Pemikirannya mengenai pendidikan Indonesia yang tidak memberi manfaat tersebut justru semakin ia rasakan karena banyak membaca buku-buku pendidikan.
Jangan pula ragukan niatnya untuk menjadi penulis, draft novel pertamanya memiliki ketebalan 364 halaman. Di luar apakah tulisan itu bagus atau tidak, itu menunjuukkan kemauan yang sangat besar.
Membaca buku ini membawa kita mengikuti kehidupan Izza dari sejak bangku SD, di mana dia sangat bergairah pada pelajaran sastra dikarenakan gurunya membuat siswanya aktif berpartisipasi di dalam kelas, konflik keluarga yang dialaminya sebagai perlawanan terhadap keinginan mengundurkan diri dari sekolah, dan bagaimana ia menghadapi dunia setelah keinginannya disetujui orangtua dan benar-benar keluar dari sekolah.
Apakah pendidikan kita memang sedemikian jeleknya, sampai seseorang yang menyukai aktivitas tersebut harus mengundurkan diri?
Ada banyak aspek yang dilihat Izza dalam buku ini. Diantaranya materi pelajaran yang terlalu banyak dan tidak perlu, metode pengajaran yang membosankan dan tidak menarik dari guru (misal: mendiktekan muridnya mencatat sepanjang jam pelajaran), tingkah laku guru yang menjatuhkan mental siswa (misalnya: menjelek-jelekkan siswa karena tidak bisa mengerjakan soal di depan kelas), dan pola pikir masyarakat kita untuk sekolah setinggi-tingginya lalu kerja (ini diceritakan melalui neneknya yang sangat bangga kalau keluarganya sekolah dan lulus lalu bekerja jadi pegawai negeri).
Memang pendidikan kita tampak menyedihkan kalau kita membaca buku itu. Contoh saja, bagaimana seorang guru bisa mengatakan kata-kata berikut kepada siswanya, ketika sang siswa tidak bisa mengerjakan soal di depan.
“Bapak heran kenapa ada anak seperti Dedi. Ibunya dulu ngidam apa ya? Kok bisa melahirkan anak seperti ini?”
Bukan contoh yang baik bukan, untuk seorang guru?
Di luar semua itu, ada hal lain yang juga menarik. Membaca buku ini juga memperkenalkan kita kepada Izza yang begitu keras kepala dalam membenci pendidikan kita. Saya sungguh tidak suka dengan kenaifannya. Mungkin karena dia masih berumur 15 tahun dan merasa sudah banyak membaca buku yang dianggapnya hebat, sistem pendidikan yang telah disusun oleh pemerintah kita, terlepas itu baik atau buruk, langsung dianggap tidak berguna olehnya. Ia seperti tercuci otak dengan buku-buku modern sebangsa Quantum Learning, lantas langsung menutup mata terhadap segala yang berlawanan dengan itu.
Terlepas dari semua itu, saya sangat setuju bahwa memang ada yang salah dengan pendidikan kita. Semua yang disebutkannya entah itu pengajaran yang membosankan, materi yang terlalu banyak, dan pola pikir sekolah lalu kerja merupakan bagian-bagian buruk dari pendidikan kita. Saya juga merasakannya. Mungkin malah kita tidak perlu membahas lagi, karena sudah tahu sama tahu. Saya juga salut dengan keputusannya untuk keluar dari sekolah dikarenakan idealismenya. Dia sangat berani. Apalagi mengingat umurnya yang masih 15 tahun.
Tapi menurut saya sih, saya masih mendapatkan sesuatu dari perjalanan 12 tahun mengenyam pendidikan sekolah, dan sudah empat tahun menjadi mahasiswa. Tidak sesia-sia itu.
Hm, itu pendapat saya, dan tulisan ini banyak mengulas pendapat Izza. Kalau anda sendiri bagaimana?

This thing has 31 Comments
Kita lihat saja 10 tahun lagi.
Time will tell…
jadi pengen baca nehhh ..;-)
thanks infonya
Sama kaya cahyo, jadi pengen baca. IMHO, terlalu banyak di pendidikan kita yang menekankan pada hafalan dan nilai ujian, bukan kreativitas, originalitas, pemahaman, dan kerja keras. Buku tentang pendidikan (atau nyerempet-nyerempet lah paling ga) yang terakhir yang pernah aku baca:
Totto-chan, the Little Girl at the Window
The World is Flat [Updated and Expanded]: A Brief History of the Twenty-first Century
Dari buku yang pertama, yang bisa di ambil (yang inget ya) pendidikan di masa kecil (TK/SD) itu harus bisa dinikmati, bukan dengan hitungan matematika, bukan dengan bisa membaca pada waktu umur 4 tahun. Tapi dengan bermain, mengenal lingkungan, berteman, mengenal nilai-nilai sosial.
Dari buku yang kedua, kerja keras jadi suatu hal penting dalam pendidikan, karena sekarang, the world is flat, orang yang asal Cina bisa “setara” dengan orang asal Amerika. Buku ini nyeritain kalau Amerika tidak merubah sistem pendidikannya sehingga bisa “mencetak” lebih banyak lulusan dengan kualitas tinggi, bisa-bisa pekerjaan di amerika di-outsource semua ke India atau Cina, yang orang-orangnya bekerja lebih keras mengejar “ketertinggalannya” sekaligus “lebih murah”.
pendidikan di Indonesia sebenarnya ok..cukup maju malah.
hanya saja seringkali terjebak pada…err…apa ya namanya, pokoknya jadi muter2 ga keruan gitu deh..
akibatnya, outputnya tidak maksimal dan cenderung ingin jadi buruh…
*halah, malah ngeblog di blog orang, xixixi..*
Nemu blognya di google niy.
Hoo..tebel yah novelnya, tapi gw juga gak kalah loh dengan calon skripsi yang tebelnya udah 190 halaman. Hehe. Persamaan yang laen, gw juga gak setuju dengan sistem pendidikan di Indonesia esp pembuatan SKRIPSI
@roberto:
Mau pinjem? Halah..
10 tahun lagi apa nih? si Izza atau pendidikan kita?
@raizamn:
Setuju sama raizamn. Kita terlalu ditekankan dari sisi akademisnya, untuk tahu segala sesuatu. Bahkan terpola menjadi lebih jelek lagi, yaitu ngafalin, biar nilai bagus. Nilai-nilai pendidikan seperti kerja keras dsb yang disebutkan di komentar raizamn tidak bisa, atau malah sedikit sekali bisa kita dapatkan dari bangku sekolah.
@cahyo
Sama-sama
@junkerz:
Jadi muter-muter ga karuan maksudnya?
@dona
Ada apa dengan pembuatan skripsi? Tebel juga tuh 190 halaman..
Pembuatan skripsi? Menguras otak, ibaratnya cucian udah diperes sampe terakhir tanpa tetes air tapi masih dipaksa meres lagi. Kalo dijemur bentar udah langsung kering kan? Begitu juga dengan otak gw, udah diperes masih dipaksain diperes juga. Jadi udah kering. Yah, semoga 190 halaman itu udah klimax dan pembimbing gw gak minta nambah2in lagi.
Regards
Dan lagi, kalo kerja toh skripsi juga udah gak dipake ato ditanyain. Gw malah lebih suka penilaian terakhir itu dengan sistem magang ato KP karena lebih ke prakteknya. Ini buat sosial loh, gw gak tau kalo eksak macam teknik kaya gitu juga apa ngga.
(Kok gw malah curhat di sini ya?)
‘Ada apa dengan pembuatan skripsi?’
Sepertinya senada dengan:
‘Ada apa dengan pengerjaan TA?’
hmmm,,,, let see,,, jadi pengin,, beli buku dimana Bram?
kalo menurut gua sih ‘balik lagi ke sekolahannya’ –> ini kalimat yang selalu diucapkan saat diskusi PPKn waktu SMA dulu.
menurut gua sekarang udah banyak sekolah2 yang punya sistem pendidikan yang bagus, yang merangsang kerja kedua belah otak.
ya sayangnya kebanyakan cuman sekolah-sekolah swasta aja. sekolahan negri pasti masih banyak yang menganut sistem seperti yang dimaksud oleh Izza, apalagi sekolah Inpres mungkin.
ngemeng-ngemeng tentang skripsi… emang hari gini masih penting ya jumlah halaman? bukankah konten lebih penting?
ya kalo saya ngerasa pendidikan yang telah diambil tidak sia-sia kok. banyak waktu yang dilewatkan tidak hanya belajar. kalo tidak puas dengan satu guru, bisa ke guru lain. kalau tidak puas dengan satu dosen, ya masih bisa ke dosen yang lain. tidak puas dengan kuliah satu bisa ke kuliah yang lain.
kalo di smp dan sma rasanya memang ada yang kurang. tapi entah kenapa kekurangan itu bisa diatasi dengan kegiatan yang lain yang tentu saja orang perorang yang bisa mencari. bukan diberikan oleh semua guru. kegiatan ekstra kurikuler, hobi dan lomba mungkin bisa jadi “pelarian” dari kekurangan itu. bukan terus lari dari sekolah dan trus DO.
kalo ada guru dan dosen yang “nyeleneh” ya namanya juga manusia. diimbangi dengan keluarga dan pertemanan masalah di sekolah sepertinya tidak akan begitu menyakitkan.
kalau ada guru yang jahat di SMP atopun di SMA sekarang bahkan bisa jadi bahan nostalgia yang menarik…. bener ngga ? pernah dihina-hina di depan kelas ? justru kenangan itu bisa jadi cerita yang menarik di saat reuni. pasti semua juga mengalami nya…:D
Bagus tuh infonya, penerbitnya apa yah? klo saya sih pendapat hanya saja saya nggak bisa seidealis dia…
Memang sih sekolah nggak sesia-sia itu soalnya banyak hal yang bisa didapatkan tetapi bisa dibilang kurang “optimal”..karena dengan jangka waktu yang cukup panjang (12 Tahun/16 tahun)…yang dihasilkan hanya berupa wawasan saja, tingkat keahlian baru diajarkan pada kuliah S1 itupun tidak terlalu mendalam sehingga dibutuhkan waktu lagi untuk menjadi seseorang yang ahli dalam suatu bidang
padahal umur 5-25 kan usia potensial banget, sayang jika tidak digunakan secara optimal gara2 hanya mengikuti “jadwal” kurikulum pendidikan nasional
sebagai mahasiswa yg tidak baik, saya nggak bisa berkomentar banyak, kecuali: belajar memang nggak mesti di sekolah atau perguruan tinggi kok.
Sedikit merasa kasihan sama Izza. Kok kayanya alesan dia keluar skolah kurang jelas. Jadi langkah2 apa yang mau dia ambil untuk ikut memperbaiki sistem pendidikan indonesia yang jelek? Kalau langkah dia hanya menunjukkan ketidaksetujuan dengan keluar sekolah itu kan beda tipis sama anak kecil yang lagi ngambek.
@Vidia:
Saya setuju, kalo diibaratkan seperti anak kecil yang ngambek. Emang ada dua pilihan sih, keluar dari sistem atau tetap berada di dalamnya dan memperbaikinya. Tapi mungkin juga dia ingin melakukan perbaikan, tapi ia ingin keluar dari sistem dulu. Tidak ada penjelasan setahu saya di buku itu.
Yang jelas dia masih sangat muda.
Jadi ingat… di Traveler’s Tale… si Andre dari Brazil… disuruh traveling ke Eropa dulu setahun… sebelum kuliah… katanya bisa lebih banyak belajar…
Hm… pendidikan formal, perlukah? Toh filsuf juga ada yang “lahir” di jalanan… (siapa itu namanya ya?)
seru ya? D8
OOT:
Bram, dirimu taplok OSKM 2004 ya?
pernah berpasangan dengan Ulan Bio 2003 kan?
kita pernah sekelompok loh…
*itu juga kalo bener, hehehe*
@rime:
Iya, betul, taplok OSKM 2004. Tapi pasangannya bukan Ulan Bio03, tapi Karina Ayu AR03. Hehe..
Pernah sekelompok kita?
Baca totto-chan deh ^^ keren bgt cara belajar nya, bole milih pelajaran yang disukai untuk dipelajari dulu. Pengen deh bikin SD kayak sekolah nya totto-chan itu.
mebuat pendidikan yang sempurna untuk semua jenjang pendidikan memang tidak semudah membalik telapak tangan. saking bingungnya pemerintah mengupayakan segala cara bahkan sampai yang bertentangan dalam satu payung pendundangan sehingga justru bikin siswa dan guru makin puyeng. saya tidak menyalahkan izza dengan pendapatnya karena tidak izza saja yang bingung melihat sistem pendidkan di ind, tapi guru izza pun mungkin lebih sangat bingung….so, keep fighting where and whatever you do. it’s your own future not others.
iya, gua tau lu berpasangan sama Ayu AR ‘03…
tapi dulu waktu diklat, kalo ga salah lu pernah bareng Ulan…
Iya, kita pernah sekelompok, waktu lomba ‘17-an’ itu lho… masih inget ga? pasti udah lupa deh, hehehe…
Saya dapat buku itu dari Gramedia tanggal 21 Juni 2007. Karena isinya cukup membikin penasaran, dengan segera saya kebut biar segera tahu endingnya.
Benar2 inspiratif!!..
Dengan segala keterbatasan sebagai seorang ABG. Seorang anak usia 15 tahun. Ia berani mengambil keputusan yang sangat rumit untuk ukuran anak sesuai itu. Inilah kelebihannya.
Saya seakan melihat dia sudah jadi pahlawan negeri ini. Berlebihankah? mungkin, karena semua kemungkinan bisa terjadi dalam perjalanan hidup semua manusia. Tetapi setidaknya sudah ia sudah menebarkan gagasan progresifnya ke seluruh negeri melalui buku ini.
Saya yakin akan ada pengaruhnya dalam beberapa tahun kedepan. Setidaknya bagi saya, karena telah memberikan pandangan yang berbeda thdp seorang anak.
Anak saya baru tiga. Untuk tambah anak, sebelumnya saya merasa takut karena sampai sekarang masih belum bisa jadi ayah yang bijak thd mereka.
Tetapi sekarang saya punya pandangan lain. Tentunya lebih bisa memahami idealita ttg anak. Sebelumnya saya benar2 telah jadikan anak sebagai objek ambisi orang tua yang kadang dibungkus istilah2 agamis dan obsesif.
Terima kasih Izza…
Semoga Allah SWT senantiasa melindungi dan senantiasa membimbing ananda..
Mmm, banyak banget pemikiran kritis yang diutarakan oleh ABG Izza tersebut (seperti yang bram rangkum).Cuma menurut ku boleh saja seseorang yang memiliki pendapat seperti dia ( yah dikarenakan dia sudah memiliki pemikiran yang dibentuknya sendiri dari pengaruh bacaan yang dia baca lebih banyak dari anak seusianya), bagus, tetap saja maupun metode belajar seperti apa pun, pasti memiliki kelebihan dan kekurangan. Tidak ada yang mutlak di muka bumi ini. Begitu juga dengan sebuah kata yang disebut “metode”. Aku jadi ingat dosen ku pernah mengatakan metode hanya sebuah pendekatan untuk melakukan sesuatu hal. Jaraknya bisa jauh atau lebih dekat. Jadi kita tidak bisa menganggap satu metode tidak lebih baik bila dibandingkan dengan yang lain. Perlu diingat tidak semua anak mendapatkan kondisi hidup sama seperti Izza. Sehingga tidak memungkinkan untuk berkembang sama dengan Izza. Zaman berkembang terus, tidak memungkinkan hal itu bisa berubah. salam
he he… bodohnya aku, kalimat terakhirku diralat ya. zaman berkembang terus, dan memungkinkan hal itu bisa berubah.. maaf ya….udah lewat jam malamku nih, jadi pusing gitu.
lagi baca,,inspiring loh..kata-katanya nonjok “ada anak yang keluar dari sekolah tapi ingin tetap belajar dianggap lelucon, namun anak-anak yang tetep sekolah tapi ga belajar apapun dianggap biasa aja”. Sindiran bwt pemerintah tu..mencanangkan wajib belajar 9 tahun, mustinya wajib belajar sepanjang hayat!!
encore pada keberanian izza untuk memilih jalur kehidupannya sendiri pada umur segitu.
pendidikan adalah investasi masa depan..
tapi orang indonesia bilang : “pendidikan tuh cuma ngabisin uang, paling2 lulus juga jadi pengangguran…”
ane satuju sama bang Izza. walopun umurnya terpaut limataun dibawah ane,tapi kedewasaan dia lebih baik daripada orang orang yang sudah menganggap dirinya dewasa.
Bravo! inilah sang PEMBAHARU INDONESIA!
Belajar bukan sekedar urusan kognitif (berpikir) yang lebih dari itu adalah ketrampilan sosial, soft skill, dll. diskusi lebih lanjut ditunggu di http://www.baskoro1.blogspot.com
thanks…
Maju pendidikan Indonesia…!!!
wow. . .
keren tuch. . tapi tlat ya. . gpp wes.
baca ach. .
ups. cari bunya dulu dunk.
ok, makasih ya infonya.