Do less, show more.
Tipu-tipu, atau biasa disebut aksi tipu-tipu, bisa ditemukan dalam setiap elemen kehidupan Anda. Pekerjaan, tugas, lomba, laporan pertanggungjawaban, diskusi, macam-macam. Pada awalnya kelakuan ini terlihat sangat bisa dimaafkan. Hanya sebuah kebohongan kecil, yang tidak dipikirkan oleh orang lain, atau si orang lain tidak memiliki kapasitas untuk itu. Kegiatan ini dilakukan untuk mencapai sesuatu dengan jalan pintas. Rasanya begitu nikmat di awal, sebab yang diraih banyak, usaha sedikit.
Menarik bukan? Tapi sayangnya dunia masih memiliki keadilan. Kita memang harus membayar apa yang kita dapatkan. Dan ketika mendapatkan sesuatu dengan bayaran yang tidak sepantasnya, kita akan sejajar dengan pencuri. Pencuri yang nantinya akan ketahuan secara perlahan-lahan.
Pada awalnya saya memandang kegiatan tipu-tipu ini hanya kebiasaan yang terjadi oleh sebagian orang, lalu orang tersebut malu mengakuinya, dan pada akhirnya tidak akan mengulanginya di masa yang akan mendatang. Tapi lama kelamaan saya mulai merasakannya sebagai budaya. Budaya yang dimiliki bangsa kita. Sesuatu yang sudah biasa dilakukan oleh semua orang di sini.
Pada Akhirnya Bukan Keberhasilan yang Dicapai
Saya terinspirasi oleh tulisan di Kompas, 6 Desember 2007 kemarin, yang berjudul “Pembinaan Tipu-Tipu”. Di sana dijelaskan bahwa sejak tahun 1997, pasca krisis moneter, Indonesia tidak pernah bersungguh-sungguh dalam melakukan pembinaan olahragawannya. Kebanyakan pembinaan dilakukan dengan metode instan. Kirim saja atlet ke luar negeri buat ketika waktu sudah mepet. Tidak ada program jangka panjang. Bahkan, mengutip dari tulisan tersebut, ‘pembinaan’ tersebut juga ditambahkan kebohongan. Simak pendapat Wakil Ketua Umum Komite Olimpiade Indonesia, Indra Kartasamita:
Sering kali mereka (pengurus induk olahraga yang mengajukan proposal uji coba) mengatakan atletnya menduduki peringkat atas di Asia dalam kejuaraan anu. Ternyata, si atlet hanya diturunkan di kejuaraan tingkat daerah dan itu pun hanya untuk para pelajar. Ditambah lagi mereka dengan yakin mengatakan akan meraih prestasi tertentu dengan latihan singkat.
Yakin bakal meraih prestasi? Coba saja lihat hasil yang kita dapat di SEA Games 2007 sekarang. Saat tulisan ini dibuat, medali emas baru satu. Indonesia masih berada di peringkat tujuh dalam perolehan medali. Timnas sepakbola kita juga gagal lolos dari penyisihan grup. Padahal udah latihan sampai ke Argentina segala.
Contoh lain yang menarik, adalah website Visit Indonesia 2008 yang dibangun Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia. Berapa dana yang dihabiskan untuk itu? 17,5 miliar! Apa saja kelebihannya? Katanya sih, ada database yang beragam, empat server di dunia, hasil pencarian paling atas di Google.
Mungkin kedengarannya begitu wah. Saat saya melihat screenshot dari website tersebut via situs lain, saya langsung tertarik. Desainnya tampak bagus di screenshot yang kecil itu. Tapi, begitu masuk ke dalamnya, pandangan saya langsung berubah 180 derajat. Jauh lebih cantik tampilan blog-blog lokal favorit saya, yang pastinya nggak ngeluarin dana segitu. Navigasinya juga membingungkan. Sampai akhir tahun 2007 sudah menganggarkan 7,5 miliar. Ke mana aja tuh duit? Saya jadi khawatir situs ini seperti Mentawai Online dulu, yang dibuat dengan 2 Miliar, tapi hasilnya tidak sebanding.
Bagaimana dengan kelebihan-kelebihannya itu? Database tujuan yang beragam? Mana? Propinsi Riau masih kosong tuh. Udah gitu empat server dari seluruh dunia? Berlebihan ah. Perlu segitunya ya? Hasil pencarian teratas? Setelah saya coba pencarian dengan kata “indonesian tourism” (sesuai dengan artikel 17,5 miliar tersebut), ternyata cuma dapet peringkat empat. Lumayan deh.
Mendengar berita dari detik mengenai situs ini membuat saya senang akan niat Indonesia untuk mengelola potensi pariwisatanya yang luar biasa. Tapi begitu melihat ke situsnya, yang merupakan perwujudan nyata dari niat itu, saya langsung kecewa. Saya yakin banyak yang kecewa. Pemerintah tidak berhasil mengambil hati rakyatnya. Bahkan saya yakin kalau situs itu tidak segera diperbaiki, akan menjadi sampah di internet saja. Begitu pula dengan pelatihan atlet kita. Terdengar begitu indah karena berlatih di luar, tapi hasilnya sekarang mengecewakan.
Dua contoh di atas merupakan sebagian kecil dari kebiasaan bangsa kita yang sering saya rasakan belakangan ini. Ngomongnya wah, kenyataannya mengejutkan. Pada saat idenya muncul mengagumkan, namun pada fase pembuktian gagal.
Jika Semua Sudah Tipu-Tipu…
Seperti saya sebutkan sebelumnya, saya sudah terlalu sering melihat ini. Bahkan mungkin saya juga pernah melakukannya. Saya pun jadi khawatir kalau ini sudah menjadi budaya. Apa yang terjadi kalau semua orang melakukannya?
Contoh kecil. Misalkan ada sebuah tugas membuat paper yang diberikan oleh dosen kepada mahasiswanya di kelas. Beberapa mahasiswa melakukan tipu-tipu sehingga bisa membuat paper yang bagus, misalnya copy paste dari internet. Sang dosen tidak tahu akan hal ini, dan akhirnya memberikan nilai yang lebih tinggi pada sang plagiator, dibandingkan yang membuat secara jujur. Akhirnya si jujur menjadi kehilangan idealisme dan mulai ikutan tipu-tipu. Atau akhirnya pasrah tetap membuat dengan jujur tapi kehilangan motivasi. Anak-anak yang lain pun banyak yang ikutan menyadur, atau mengembangkan cara lain, menyadur dari berbagai sumber. Pada akhirnya, apa keluaran dari kuliah tersebut? Bukan mahasiswa yang memahami materi kuliah dan memiliki kreativitas dan ide untuk mengolah pengetahuannya menjadi penemuan yang berarti, tapi menjadi para plagiat jitu. Apa yang terjadi jika pada semua mata kuliah mahasiswanya seperti itu? Kampus jadi korban, menghasilkan mahasiswa-mahasiswa yang bisanya plagiat. Kalau semua mahasiswa seperti itu? Pendidikan kita jadi korban.
Apa yang terjadi kalau seluruh orang di negeri ini tipu-tipu? Kita tidak punya kualitas. Selamat tinggal kemajuan.
Apa Adanya
Tentunya kita akan lebih nyaman jika memiliki sesuatu yang tampak indah dari luar, dan ketika di lihat dalamnya, sesuatu itu ternyata benar-benar indah. Misalnya dalam contoh mahasiswa sebelumnya, kita punya mahasiswa yang memiliki tulisan luar biasa, dan setelah berbicara dengannya, ternyata kita memang menemukan seseorang yang memiliki pemikiran luar biasa pula. Untuk mencapai titik-titik seperti ini tentunya dibutuhkan usaha lebih. Dan itu berat.
Budaya ‘apa adanya’ jauh lebih indah. Kalau kita mengatakan apa yang benar-benar kita punya, kita akan merasa nyaman. Tidak perlu takut dibongkar. Secara tidak langsung kita juga menjadi terbuka terhadap apa yang kita punya. Begitu semuanya terbuka, kita bisa bersama-sama melihat secara global sebuah permasalahannya dan mencari solusi konkrit untuk itu. Mungkin kita tidak akan berada pada standar yang tinggi, namun kita jadi tahu, bagaimana mencapai sebuah titik yang tinggi.
Jadi, apa adanya lebih baik. Tapi bukan yang tidak mau berusaha. Berusaha yang tidak lupa untuk jujur.
Maju terus Indonesia.

This thing has 9 Comments
Iya sih Bram. Memang tampaknya dari kecil budaya kita memang ada “tipu2″nya.. Gw masih inget waktu di SD dulu, ketika mau dikunjungi tim penilai, baru guru2 nyuruh murid2nya supaya keliatan serius belajar. Tah papa ini.. Masih kecil udah ditunjukkin budaya tipu2..
Btw, tapi entah kenapa, gw yakin emang bagsa indonesia ini akan menjadi bangsa yang maju dengan cara yang unik. Mungkin sama budaya tipu2 itu kali ya
Betul, emang sangat menyedihkan bangsa ini…
hemmm menarik… jarang gw mikirin soal ginian
Berat… Dan dalem…


Soal web Visit Indonesia 2008, beneran tuh 17,5 miliar? GILA… Setuju, web nya juga ga bagus. Ga kuliah IMK kayanya yang bikin web
Hmm… Tampaknya bangsa ini sudah sedemikian bobroknya…
@Budi
Wah bud, saya ga pengen bangsa ini maju karena tipu-tipunya. Hehe.. Jadinya bakal tambal sulam.
@Zakka dan Reisha
Saya cuma menulis satu sisi jelek aja kok. Masih ada hal-hal yang baik dari bangsa ini. Saya percaya itu
@Rika Safrina
Mikirin harry potter mulu sih..
geblek, bram .. masa bikin situs aja ampe bilangan miliar sih. (teurs di bagian bawah situsnya ada warna ijo2 gonjreng, maksudnya apa tuh ya? hihihihi)
Terus yang soal atlet indonesia pada ga berjaya di sea games, itu emang menyedihkan banget. Padahal dulu indonesia prestasinya bagus ya. Keknya orang kita emang juga cepet berpuas diri kali ya. Terlalu berpangku sama kejayaan masa lalu…
opsss…..17,5 miliar….????wahhh kayak na tuh web bakalan jadi no 1…..maksud na no 1 dalam tipu-menipu….hahaha…yang buat web jadi OKB dunk dia…mo dunkk bagi-bagi hasil buat dandanin kompi gw…maklum gw org gak punya/miskin cuman punya 1 BMW, 1 Mercy C Class, jeep Humvee, villa di puncak n 1 supermarket
Mas, Artikelnya saya copy yak..??
Mau saya pajang di Forum anak2 Chatters ybter.net
biar temen2 kita pada tau,, gni lho salah satu budaya bangsa kita yg wajib di berantas.. hehehe
hai
leh knlan gx??????????
u kul dmn?????