Kemarin malam saya sempat ngobrol dengan teman di kosan. Dia memilih untuk tetap di Bandung karena tanggung kalau pulang. Seminggu lagi urusan kuliah dan sebagainya bakal datang menghampiri. “Sayang kalau bolak-balik, bisa habis seratus ribu. Itu duit juga Bram.”, begitu katanya.

Saya cuma mengomentari dengan senyum dan berkata, “Bisa buat macem-macem ya?”. Sangat kontras dengan saya yang baru saja bela-belain kemarin pulang ke Jakarta selama dua hari kurang. Habis duitnya segitu juga. Hanya saja dia punya kesempatan seminggu, sementara saya cuma bisa dua hari.

Well, saya pulang memang karena ada acara keluarga, untuk merayakan ulang tahun adik saya yang paling kecil. Acaranya cuma makan-makan saja. Tapi saya merasa perlu pulang. Sudah terlalu sering hari-hari ini lewat tanpa orangtua dan adik-adik sejak kuliah. Wajar, karena waktu itu rumah saya masih di Pekanbaru. Sekarang ketika sudah pindah ke Jakarta, saya jadi sering menyisihkan waktu buat pulang.

Ketika pulang, saya jadi bisa tahu ada kejadian apa di rumah dan keluarga, gimana sekolah adik-adik, juga kerjaan bapak saya. Selain itu bisa curhat lagi sama adik yang pertama, nemanin adik yang paling kecil belanja, dan ngobrol-ngobrol sama orangtua.

Dan semua itu, membuat saya tidak perlu berpikir ulang untuk pulang, meski harus keluar duit dan bolak-balik dalam waktu singkat. Seratus ribu ga sebanding bagi saya dengan kepercayaan orangtua dan adik-adik ke saya, yang mana bisa diperoleh jika kita rajin berjumpa dan berbicara dengan mereka. Saya nggak mau adik-adik bakal jauh dari saya, dan orang tua kecewa dengan segala tingkah laku saya.

So that’s my point of view, sedikit cerita tentang duit dan keluarga. Sebenarnya banyak hal lain yang lebih berharga daripada uang. Kesehatan, teman-teman, integritas, dan lain-lain. Cerita di atas mengingatkan saya tentang itu.

Pendapat?