Log in | Jump |

/brahmasta/journal

Living In The Information Age – An Ad Hoc Approach
This thing was constructed on January 23, 2008, and it was categorized as Internet, Rambling Thoughts.
You can follow comments through the RSS 2.0 feed. You can leave a comment, or trackback.

acf52c3.jpg

Perlahan tapi pasti, saya mulai pusing dengan namanya banyaknya informasi yang masuk ke kehidupan saya. Aggregator udah mulai jarang saya baca, televisi cuma kepakai buat siaran sepakbola dan film-film favorit, dan surat kabar kebanyakan cuma dibaca headlinenya. Plus Benny and Mice deh kalo lagi hari Minggu.

Salahkah saya? Saya sadar banyak membaca itu baik. Karena pasti akan menambah wawasan. Tapi ketika bacaan menjadi terlalu banyak. Saya jadi berhenti membaca.

Sekarang sumber informasi sangat beragam. Ada banyak media, seperti saya sebutkan di atas. Khusus internet, pertumbuhannya tidak terkendali. Setiap orang aja udah ngeblog. Situs berita ada banyak banget. Masing-masing situs bahkan bisa menghadirkan ratusan artikel per harinya. Menjelaskan bahwa setiap orang punya pandangan masing-masing dan setiap orang akan mengakses informasi yang berbeda. Beda banget kan sama jaman orde baru dulu, di mana semua orang nonton Dunia Dalam Berita?

Dengan adanya banyak informasi ini, banyak hal yang baik bermunculan. Dunia menjadi datar. Persaingan menjadi terbuka. Anda tidak perlu menyentuh banyak birokrasi untuk mendapatkan informasi. Anda bisa sama pintarnya dengan orang yang berada di seberang samudera.

Tapi akhirnya akan ada pertanyaan baru: Dari sekian banyak berita atau artikel baru yang muncul di dunia maya, yang mana sih yang akurat dan penting? Nggak semuanya kan? Masalah validitas dan akurasi itu yang jadi penting. Informasi juga jadi tersebar. Ada di mana-mana. Butuh usaha lebih untuk mengumpulkannya.

Saya jadi teringat suatu kalimat dalam tulisan Seno Gumira Ajidarma dari milis ITB yang berjudul Kematian Paman Gober. Tulisan lengkapnya dapat dilihat di blog ini. Tulisan itu nggak ada hubungannya sama artikel ini. Tapi ada sebuah kalimat di sana yang mengingatkan saya akan banjir informasi yang terjadi.

Donal segera membuang lagi Koran itu dengan kesal. Karena memang tiada lagi berita yang bisa dibaca di Koran. Banyak kabar, tapi bukan berita. Banyak kalimat, tapi bukan informasi. Banyak huruf, tapi bukan pengetahuan.

Terkadang saya merasakan perasaan yang sama dengan Donal ketika membaca koran-koran atau situs-situs berita tertentu. Isinya nggak penting semua.

Tapi di sisi lain ada orang yang bingung karena ketidaktahuan saya terhadap sesuatu. Misalnya tentang film ini, artis ini pernah main film apa kek, ga tahu game itu kek, dan banyak yang lain. Saya memang nggak tertarik buat cari tahu ke sana. Belakangan saya jadi percaya itu karena makin tingginya keberagaman saat ini (Bukan pembenaran ya…). Menguatkan konsep tentang Long Tail. Jadi apa yang saya anggap penting beda dengan yang Anda anggap penting. Apa yang saya suka juga beda dengan yang anda suka. Jaman sekarang semua selera terakomodir. Siapa tahu koran yang saya anggap ga penting jadi sangat penting buat anda.

Saya jadi pengen tahu. Dari mana saja anda mendapatkan informasi? Nonton TV? Baca koran? Internet? Ngobrol sama teman? Atau ikutan SMS selebriti? :D

This thing has 5 Comments

  1. Posted January 23, 2008 at 9:09 pm | Permalink

    dari radio dan podcast! soalnya saya lebih seneng denger berita daripada baca berita. hehehe… buat berita politik dunia, tinggal denger world briefing-nya bbc 15 menit. buat berita teknologi, tinggal denger tech5-nya john c dvorak 5 menit. ringkas, padat, dan penting (paling ngga buat selera saya. hehe…) yang pasti pilih source beritanya yang udah terkenal/bonafid.

    tapi kalo gosip2 terkini dapetnya dari ngobrol sama temen laaa :D

  2. Posted January 23, 2008 at 9:51 pm | Permalink

    wah setuju banget ….

    Jadi apa yang saya anggap penting beda dengan yang Anda anggap penting. Apa yang saya suka juga beda dengan yang anda suka.

    Tapi kadang … pengetahuan terlalu dipaksakan .. sesuatu yang tidak diketahui oleh seseorang karena merasa tidak tertarik malah dianggap sebagai orang yang tidak berwawasan luas dan tidak kompeten …

    kalau sudah dianggap begitu … saya cuman bilang “ya so?”

    jangan ditiru bram ..!

  3. Posted January 24, 2008 at 2:48 am | Permalink

    nooo, sama sekali nggak salah! jangan berpikir begitu dong.

    Saya mendapat informasi dari mulut ke mulut, surat kabar, dan internet.

    anyway, theme baru bos? keren. :)

  4. Posted January 28, 2008 at 3:52 pm | Permalink

    Kalo dulu iklan bilang “Ga semua yang lo denger itu bener”, sekarang jadi “Ga semua yang lo baca itu bener” :)

  5. Posted January 28, 2008 at 10:22 pm | Permalink

    Sudah lama baca tapi baru sempat komentar. Tulisan yang bagus Bram! Banjir informasi ya.

    Kalau saya tak salah ingat, kata Farid Gaban, tugas wartawanlah “menyaring” informasi supaya pembaca tidak terhanyut…

This thing has 2 Trackbacks

  1. Posted April 14, 2008 at 7:18 pm | Permalink

    [...] RSS Feed atau email. Seperti kita ketahui, saat ini informasi yang berada di sekitar kita sudah terlalu banyak, dan mereka ingin mendapatkan yang perlu dan penting saja. Danny sendiri akhirnya mempresentasikan [...]

  2. Posted September 27, 2008 at 10:58 pm | Permalink

    [...] kesimpulannya, Evernote is highly recommended. Seperti saya pernah tulis sebelumnya, saat ini kita kebanjiran informasi. Entah yang mana yang penting, yang mana yang tidak. Juga entah bagaimana mengingat sesuatu, jika [...]

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*