Awal tahun ini saya membuat resolusi. Salah satunya adalah menjadi orang yang lebih dewasa. Jauh lebih dewasa.

Menjadi dewasa merupakan tantangan hebat, karena sebelumnya saya harus menerima kenyataan bahwa diri ini belum dewasa. Setelah itu, saya harus belajar lagi, mengubah definisi saya tentang seperti apa pria dewasa itu, dan menggerakkan diri ke sana.

Seperti apa sih orang yang dewasa? Seorang teman pernah berkata pada saya bahwa orang yang dewasa itu tahu tujuan hidupnya dan bisa membawa dirinya ke sana. Dia juga bisa bertanggungjawab atas dirinya dan segala keputusan yang pernah dia buat. Cukupkah itu? Saya merasa masih ada yang kurang.

Ah kata dewasa itu benar-benar abstrak. Setiap orang punya definisi masing-masing. Semua orang berhak menilai apakah seseorang itu dewasa atau tidak. Bukankah kita memang selalu menilai orang lain? Hal yang biasanya tidak bisa kita lakukan adalah menilai diri sendiri.

Ketika saya kecil, saya melihat seorang pria berumur 23 tahun adalah sosok di mana seorang manusia akan menjadi tokoh mengagumkan. Sosok yang begitu matang. Siap menghadapi hidup. Siap pula untuk mengisi dunia dengan karyanya.

Ketika sudah hampir berumur 23 tahun saat ini, saya terkejut. Saya merasa tidak mengalami banyak perubahan. Hanya umur saja yang bertambah. Ini mengerikan.

Saya pun sedih ketika mengingat terlalu banyak keputusan terjadi karena ketidakdewasaan saya selama ini. Itu juga mengerikan. Kepada orang-orang yang pernah saya rugikan, ingin rasanya memohon ampun dan maaf sebesar-besarnya. Saya telah diberi amanah, juga cinta. Tapi sayang saya kerap mengecewakan dan menyia-nyiakannya.

Semoga melalui tahun ini, saya akan jauh lebih baik. Menjadi lebih dewasa.

Sebab tua itu pasti. Sementara dewasa itu pilihan.