Kita semua sudah tahu. Cukuplah ceritanya.
Pak Amien bilang perlakuan kita berlebihan terhadap kejadian ini. Menurut saya sih nggak apa-apa. Beliau mantan pemimpin negara ini. Setidaknya pasti punya sedikit banyak jasa. Untungnya beliau mendapat perlakuan yang lebih baik daripada yang terjadi ke Bung Karno. Ada kemajuan. Seharusnya jika ada kejadian seperti ini lagi menimpa mantan presiden, perlakuannya harus sama.
Apakah beliau harus dimaafkan? Sepakat sama tulisan Pak Wimar dan Bung Herman, mari kita serahkan pertanyaan tersebut kepada yang berkapasitas menjawab saja. Kalau tidak pernah jadi korban, akan sulit berpikir untuk tidak memaafkan.
Selamat jalan Pak Harto.

This thing has 6 Comments
Dulu ga ada pengangguran, cari kerja gampang. sekarang sebaliknya. aku rasa ga ada yang perlu dimaafkan toh jasa paharto luar biasa besar bagi bangsa ini tempo doeloe dibanding sekarang. kalo dulu mungkin yang korupsi 1 orang tapi sekarang ???? ga tau juga.
Jadi intinya ga ada yang perlu di maafkan. dia cukup bejasa.
secara orangnya dah wafat, cemana caranya dihukum?
mendingan didenda aja.. seluruh duit hasil korupsi disita buat bayar utang negara..
-fans soeharto-
buat gw, ga ada yang perlu dimaafkan dari pak harto, karena beliau ga pernah berbuat salah sama gw.
buat orang-orang yang pernah jadi ‘korban’ pak Harto, gw ngerti kenapa mereka mungkin masih menyimpan dendam. Tapi mungkin kutipan pernyataan salah seorang rakyat kecil yang suaminya menghilang di zaman suharto dan tidak pernh kembali bisa dipertimbangkan, “Tidak ada gunanya menyimpan dendam, toh walaupun beliau tidak saya maafkan, suami saya tidak akan kembali. Sebaiknya biarkan Yang Di Atas saja yang menentukan apakah beliau akan dihukum atau tidak. Saya hanya bisa mendoakan beliau.”
buat orang-orang yang terus-terusan menghujat beliau padahal tidak pernah merasakan kekejaman beliau, menurut gw, mereka adalah orang-orang munafik karena bisa gw pastikan mereka hidup di zaman orba, merasakan indahnya kehidupan dengan dolar masih seputaran Rp.2000,-, merasakan enaknya lewat jalan-jalan beraspal, de el el
Towet,
Orang2 yang mengkritik pak harto itu justru orang yang punya empati terhadap korban2 penindasan si eyang, nggak seperti elo yang egois maunya dolar murah dan jalan beraspal.
Prestasi2 suharto yang elo sebut2 itu dibangun di atas penindasan hak asasi manusia. Elo paham nggak sih kekacauan ekonomi negara ini semua disebabkan pak harto tidak pernah memberi pondasi ekonomi yang solid. Ke-enakan yang elo rasain itu cuma ilusi.
Today is the real thing.
@pAquin:
Eh si towet bukan maunya dollar murah dan jalan beraspal doang loh. Itu kalimatnya buat orang lain. Hehehe..
@bram : thx udah ngelurusinnya bram. sorry niy comment gw di bawah ini agak kepanjangan
@pAquin :
gw setuju dengan empati buat korban penindasan, but apakah empati untuk korban-korban membenarkan tindakan ‘menghujat’ buat orang yang sebenernya juga pernah berjasa.
gw ga mengidolakan Pak Harto, tapi yang jelas gw ga mau jadi orang muna karena sengaja atau tidak, gw merasakan hasil pembangunan di masa beliau.
Sebenernya gw agak bingung sebenarnya siapa yang egois. mungkin perlu diingat ada puluhan bahkan mungkin ratusan juta rakyat yang merasakan hasil pembangunan. Klo elo ngerasa punya hak untuk menghujat, kenapa kayaknya lu berpikir seolah-olah mereka -incld. me- ga punya hak buat berterima kasih.
Mengenai ‘ilusi’, sayang sekali, mungkin jutaan rakyat kecil di luar sana lebih nyaman dengan ilusi yang menyenangkan daripada fakta yang menambah penderitaan.