Archives for the month of: February, 2008

Perkenalkan kami, orang-orang yang mendambakan rasa cinta darimu.

Kami selalu melihat dari jauh, mengagumi keindahanmu.

Kami menyusun kata-kata terbaik untuk berbicara di depanmu, yang akan hilang sesaat sebelum waktunya diucapkan. Digantikan oleh kata-kata yang tidak normal sekaligus tidak waras. Sebab kami adalah orang lain yang berbeda ketika berhadapan denganmu.

Kami selalu menunggu sebuah kesempatan untuk datang, namun ketika kesempatan itu ada, sang rencana besar tidak pernah terlaksana.

Kami terus mempersiapkan diri untuk layak bersanding denganmu, yang mana tidak akan ada habisnya.

Sebuah kalimat darimu akan mendapatkan analisis yang lebih dalam dari semua tugas akhir. Namun, ketika hasil analisis itu positif, satu hari kami akan begitu tercerahkan.

Kami tahu apa yang harus kami lakukan padamu. Hanya saja, kami belum melakukannya. Karena kami selalu memikirkan bahwa ada yang lebih baik dan layak untukmu. Dan kami tidak tahu yang satu itu. Di atas segalanya, kami takut kamu hal tersebut akan menyakitkanmu, atau malah menyakitkan kami.

Kami tahu tindakan ini tidak akan pernah membuatmu berpaling. Namun kami akan terus berusaha, dengan menghilangkan kebodohan ini.

percayalah, bahwa kami tulus padamu. Kamu tidak akan tahu sebelum mulai mencoba membuka hati.

NB: Gambar diambil dari sini. Tulisan ini terinspirasi dari.. banyak.

Meski mungkin maksudnya becanda, tetap saja rasanya menyedihkan. Pertanyaan tersebut muncul dari mantan presiden kita, Megawati Soekarnoputri, sewaktu berdialog dengan ribuan warga, pedagang dan petani di Pasar Kayu Agung, Sumatera Selatan.

“Gimana nih. Kita ini kan rakyat kecil. Kenapa harga melonjak terus, minyak tanah, beras,” keluh seorang ibu bernama Ita.

“Ya sudah, sabar wae, memang susah ya, tapi kenapa masih pakai lipstik?” seloroh Mega disambut tawa, “Kenapa waktu itu tidak pilih aku? Begini jadinya,” sahut Ketua Umum PDIP ini.

Baiklah. Siapa calon presiden lainnya?

Berita ada di Detik.com, via Kaskus.

Budiono menginisiasi Rumah Belajar, tempat mahasiswa ITB memberikan kontribusi ke masyarakat dalam ilmu pengetahuan, pengembangan diri, dan keterampilan.