Cerita ini terjadi dua minggu lalu, ketika saya bersama Budi, Okta, dan Simon pergi ke Jogjakarta, dalam rangka mewakili Sangkuriang Studio berpartisipasi dalam Festival Game Tech dan Animasi 2008.

Saat itu kami sedang menempuh jalur pantura menuju rumah Andoko di Semarang. Karena sudah berjalan sekitar enam jam, kami mendapati perut ini lapar. Setelah melihat-lihat kemungkinan tempat makan yang ada di jalan, pilihan kami jatuh ke Pringsewu. Sebuah tempat makan yang telah memasang spanduk jauh-jauh sejak sekitar 45 km sebelumnya (dan ternyata berhasil mencatatkan ini ke rekor MURI).

Boleh dibilang metode promosi dia itu efektif. Sepanjang jalan kerjaan kami cuma ngelihatin iklan rumah makan tersebut. Dengan berbagai kata-kata yang berbeda dan countdown kilometer menuju tempatnya. Pengulangan ini mampu menyebabkan kami berpikir bahwa sepertinya ini adalah restoran yang bagus.

Sesampainya di tempat, kami pun langsung duduk dan memesan makanan. Restorannya memang besar banget. Tapi tamunya cuma kami. Mungkin karena kami datang bukan pada jam makan, yakni sore-sore sekitar jam 16.00. Pelayannya pun dengan ramah mendatangi kami dan mencatat pesanan. Setelah mencatat pesanan, ia lalu bertanya kepada kami, apakah ada yang berulang tahun pada bulan itu. Kebetulan saat itu bulannya saya berulang tahun. Maka ia memberikan form untuk diisi.

Selanjutnya semua berjalan seperti biasa, dan kami pun menikmati makanan yang dihidangkan.

Usai makan, tiba-tiba ada lagu selamat ulang tahun berputar. Saya tidak kaget. Wong tadi dia udah nanyain. Namun yang bikin saya kaget adalah karena mereka tiba-tiba mengeluarkan kue ulang tahun yang besar, lalu meminta saya meniup lilinnya serta difoto.

Saya waktu itu langsung bingung. Kue sebesar ini mau diapain? Ditaruh mobil nggak cukup. Mengganggu Empat orang penumpang juga gak akan mampu menghabiskan kue tersebut sepanjang perjalanan. Susah makannya. Maka saya pun berencana untuk menyerahkan kembali kue itu ke mereka.

kejutan.jpg

Tapi ternyata itu semua tidak perlu. Setelah lilin itu saya tiup. Mereka dengan manisnya mengambil kue yang  besar itu dan menukarnya dengan puding yang kecil banget. “Ditukar dulu ya mas..”, gitu kata mas-mas yang paling dekat dengan saya (pada gambar nomor dua dari kiri, terlihat sedang bergerak sigap mengambil). Setelah itu mereka pun ngeloyor pergi. Teman-teman saya yang lain akhirnya tertawa semua.

Benar-benar deh, harapan palsu.

Kisah pelayanan fenomenal Pringsewu ini tidak berakhir di sini. Setelah itu, salah satu dari mbak-mbak pelayan tersebut keluar, membawa setumpuk kartu, lalu menawarkan kami permainan “Tebak Hari Lahir”. Kami kaget. Ya memang sebelumnya belum pernah ada restoran yang memberi pelayanan seperti ini. Namun akhirnya kami semua menolaknya dengan pertimbangan buru-buru.

Setelah mbak-mbak itu pergi, datanglah mas-mas membawa sebuah pohon. Kami jadi kaget lagi. Kenapa harus pohon? Dia dengan penuh percaya diri menawarkan pohon itu secara cuma-cuma untuk ditanam di rumah, sebagai upaya mendukung pencegahan pemanasan global. Kami pun kembali menolak. Ribet banget bawanya.

Sebelum kejutan berikutnya datang, kami pun berinisiatif segera pergi menunggalkan restoran itu. Sudah bayar tentunya, tanpa kue ulang tahun, dan juga tanpa pohon.

Oh iya. Mengenai makanan, saya menilai makanan yang ada di restoran ini biasa-biasa saja. Tidak istimewa. Harganya juga memang wajar untuk restoran sebesar dia. Menu yang disediakan pun standar. Yang tidak standar itu pelayanannya.

Ada yang berminat? Sepertinya tulisan saya ini bukan tulisan promosi deh. Tapi usul saya, kalo bener-bener lagi kepaksa makan di sana, jangan lupa bawa kejutan juga buat pelayannya. Jadi biar sama-sama kaget.

nb: Gambar restoran Pringsewu dari depan diambil dari sini.