Indonesiana

Polemik BBM: Mari Kita Selesaikan Bersama

05.14.08 | 11 Comments

Sebentar lagi, harga BBM di negara kita naik. Berhubung BBM terkait hajat hidup orang banyak, reaksi yang ditimbulkannya sangat besar. Entah berapa demo yang saya lihat di berita kemarin. Mulai dari kalangan mahasiswa sampai rakyat miskin.

Masalah BBM ini pelik. Jika dinaikkan, rakyat kecil menderita. Kalau dipertahankan, negara yang menderita. Sebuah keputusan tidak akan bisa menguntungkan semua pihak. Harus ada yang dikorbankan. Kalau mau negara maju, pilih dinaikkan. Kalau mau rakyat sejahtera, pelihara harga BBM. Pusinglah pemerintah kita

Indonesia tadinya adalah anggota OPEC. Sekarang masih, tapi belum lama ini Presiden menyatakan bahwa Indonesia bakal keluar dari organisasi tersebut. Kenapa? Biaya keanggotaannya tinggi, yakni 2 juta dollar per tahun. Sudah begitu, Indonesia sudah tidak murni mengekspor minyak lagi. Produksi kalah sama konsumsi. Produksi kita hanya 980.000 barel per hari. Pemakaian? lebih kurang 1.200.000 barel per hari. Kita malah jadi importir. Sudah diimpor, disubsidi pula. Kebayang betapa ruginya pemerintah?

Masalah itu diperparah dengan susahnya perusahaan-perusahaan minyak berinvestasi di Indonesia, sehingga ladang-ladang minyak mengering lebih cepat daripada pembukaan ladang minyak baru. Kok bisa perusahaan-perusahaan minyak itu susah berinvestasi? Birokrasi. Butuh bertahun-tahun buat perusahaan minyak membuka lahan minyak di Indonesia. Misalnya blok Cepu yang ditemukan tahun 2001 yang diperkirakan akan menghasilkan 165.000 barel per hari baru disetujui tahun 2006, setelah pergulatan antara Pertamina dengan ExxonMobil selesai. Sehingga baru bisa beroperasi 2009(*). Sekarang pun telah muncul masalah baru. Di mana penduduk setempat tiba-tiba mematok harga tinggi untuk tanahnya. Jadi makin sulitlah dimulai.

Di sisi lain, pemakaian BBM itu sendiri tidak efektif. Contohnya saja, tiap pagi terjadi kemacetan luar biasa di Jakarta dan sekitarnya. Setiap mobil memakai bensinnya masing-masing. Ada yang cuma sendirian naik mobil, berdua, dan cuma sedikit kendaraan yang diisi ramai-ramai. Belum gitu, berhubung macet, pemakaian bensin itu buat sang kendaraan sendiri tidak efektif. Energi banyak terbuang karena mobil diam di tempat, menunggu mobil depannya maju. Mereka, para pengguna mobil, tidak salah. Sebab transportasi umum kita emang tidak bagus, sehingga memaksa untuk memiliki kendaraan pribadi.

Selain dipakai buat kendaraan, Indonesia juga memakai untuk listrik. Dan kita tampaknya begitu boros sama listrik, sampai ada anjuran untuk mematikan lampu setiap sore hari. Pembangkit listrik kita sudah hampir tidak mampu menangani kebutuhan dalam negeri. Makanya listrik sempat digilir beberapa waktu lalu. Pemakaian besar, dari BBM pula.

Cerita di atas belum ditambah dengan kebiasaan-kebiasaan buruk yang ada di masyarakat. Misalnya adalah enggannya warga kita untuk berpindah dari minyak tanah ke gas. Dulu saya pernah mendengar cerita ada pemerintah yang memberikan kompor gas gratis ke masyarakat, untuk alternatif dari minyak tanah. Gas lebih murah. Jadi ini jelas-jelas menguntungkan. Tapi yang terjadi adalah, mereka kebanyakan tidak mau menggunakan kompor gas itu. Karena menganggapnya berbahaya. Jadilah misi pemerintah itu gagal. Minyak tanah butuh tetap ada, dan murah.

Apa yang bisa saya dapat dari semua cerita di atas? Sepertinya hanya beberapa pihak saja yang pusing untuk masalah BBM ini. Pertama, yang mengambil keputusan. Kedua, yang terkena imbas. Pihak-pihak lain yang berpeluang untuk menyelesaikan masalah ini, seperti pemerintah, yang bisa melancarkan investasi asing agar produksi kita jalan, pemerintah yang memperbaiki fasilitas transportasi umum, pembuatan pembangkit listrik alternatif, atau apapun yang bisa mengefektifkan penggunaan BBM. Kita, sebagai warganegara, juga mestinya bisa berperan. Manfaatkan fasilitas umum, hemat listrik, pakai mobil yang hemat BBM, dan mungkin ada banyak lagi solusi kreatif lainnya. Siapa tahu dengan segala tingkah positif kita, pemakaian BBM bisa menurun drastis. Jadi tidak perlu impor lagi. Ekstrim sih. Tapi tidak ada yang tidak mungkin bukan.

Selain itu, saya rasa kebanyakan kita menginginkan masalah ini selesai dengan merengek-rengek sambil menghina pemerintah supaya tetap hidup enak. Ya, sebagian mereka mungkin menyalahkan wewenang atau mengambil keputusan yang salah. Lebih baik kita menyelesaikan masalah ini dengan memulai dari lingkungan kita dulu saja. Bantu saja pemerintah kita, sementara mereka menjalankan tugasnya untuk mencari solusi kreatif menyelamatkan rakyat kecil yang paling menderita karena imbas kenaikan BBM.

Yah, sekian curahan hati saya terkait polemik BBM. Semoga bisa menjadi sesuatu yang membangun buat kita semua. Mari kita selesaikan masalah BBM ini secara bersama. Mulai dari diri sendiri.

(*) Sumber: Asia Future Shock, oleh Michael Backman

11 Comments

speak up

Add your comment below, or trackback from your own site.
Subscribe to these comments.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:

:


« Hidup Produktif dengan Lifehack
» Kerja
Copyright © 2007 Brahmasta. All rights reserved.