Suatu hari, seorang teman saya mengirim sebuah topik pembicaraan serius berupa sebuah pertanyaan, di milis angkatan IF03 yang biasanya penuh dengan junk. Pertanyaannya menarik. Menurut saya mewakili perasaan penuh tanda tanya yang dimiliki oleh banyak mahasiswa, atau mungkin setidaknya jurusan saya, tentang masa depan.

Teman saya itu menanyakan: habis kuliah mau ngapain?

Rasanya, kehidupan di dunia kampus sangat berbeda dengan dunia luar. Begitu keluar dari kampus, dengan ijazah sarjana di tangan, kita akan menghadapi hutan belantara industri yang penuh ketidakjelasan. Hingga akhirnya kita begitu sulit untuk menentukan ke mana kita harus melangkah. Apakah harus mencari kerja? Melanjutkan kuliah? Bikin usaha sendiri? Opsi-opsi tersebut adalah yang biasa muncul di pembahasan sehari-hari, di antara kita.

Menariknya setelah lulus, saya mulai melihat ke mana pergerakan teman-teman saya itu. Ada yang begitu berani dan penuh semangat untuk membangun perusahaannya sendiri, ada yang langsung dengan sigap melanjutkan studinya, baik di dalam maupun luar negeri, dan tentu saja banyak yang bekerja. Saya sendiri mengambil keputusan bekerja. Dengan pertimbangan agar bisa mengetahui kondisi hutan belantara yang saya sebutkan tadi.

Terus terang, setelah dua bulan lebih bekerja, saya merasa banyak mendapatkan hal baru dan sudut pandang baru. Tiba-tiba saya baru bisa mulai melihat, dari sisi perusahaan tempat saya bekerja, kompetensi apa yang harusnya dimiliki. Peluang karir bagaimana yang ada di dunia industri saat ini, dan bagaimana segala pengalaman dan pengetahuan kita bisa sedikit sekali berarti di sini. Hal yang sama sekali tidak saya miliki ketika bahkan berada di tingkat akhir universitas.

Saya tidak tahu dengan orang lain, namun saya merasa cukup terlambat. Mungkin ada beberapa yang merasakan hal yang sama. Dalam bayangan saya, buat yang berhasil mendapatkan beasiswa di luar negeri, dia jadi tahu bagaimana rasanya kuliah, hidup, dan budaya di sana. Buat yang membangun usaha sendiri, karena namanya memulai dari nol, pasti ada banyak pembelajaran yang didapat. Buat yang kerja, pasti tahu di mana saja tempat kerja yang bagus, dan kompetensi apa saja yang harusnya dimiliki untuk segera bisa berkarya di dalamnya. Selain itu, dia juga pasti jadi tahu, sisi plus dan minus, yang berupa konsekuensi dari pilihan-pilihan yang diambil.

Saya kadang berandai-andai, jika waktu dulu saya tahu semua peluang yang ada, pasti saya bisa punya visi mau jadi apa nantinya, dan membangun persiapan jauh hari sebelumnya, sehingga tidak membuang waktu setelah lulus. Bukannya saya tidak mencari informasi, tapi informasi yang didapatkan itu setengah-setengah. Hasil tanya sana-sini. Jadi saya tidak bisa dapat gambaran luas tentang peluang di masa depan.

Tiba-tiba saya ingat akan jaringan alumni. Ya, mestinya ikatan alumni bisa menjadi tempat yang bagus untuk ini. Kalau sudah berada dalam lingkungan alumni kan jadi enak. Teman saya yang membangun usaha bisa saling berbagi cerita atau bahkan menemukan peluang usaha baru. Kita jadi tahu sang hutan belantara itu seperti apa. Bila kita mengumpulkan alumni dalam sebuah jurusan, bisa dibawa melangkah lebih jauh lagi, yakni bisa dijadikan masukan buat kurikulum di jurusan sendiri, biar selaras antara dunia kerja dan pendidikan.

Paparan di atas merupakan sebuah peran alumni terhadap kampus yang telah ditinggalkannya. Jika memang alumni bisa berperan seperti itu, tentunya akan sangat baik. Untuk ikatan alumni di jurusan saya sendiri, sepertinya perlu ada effort lebih untuk menjadikannya hidup.

Bagaimana dengan ikatan alumni atau sekolah anda?

Ah, tiba-tiba saya jadi ingat himpunan, dan kegiatannya yang berjudul Sharing Alumni. Menarik. Menurut saya kegiatan seperti ini memang perlu diperbanyak dan dikemas lebih luas. Tujuannya seperti saya sebut di atas: memberi visi kepada mahasiswa, update kurikulum kampus agar lebih selaras dengan dunia industri, dan menjalin silaturahmi yang lebih kuat.

Buat teman-teman dari IF, ada yang mau berpendapat?

Oh iya, thread di milis tadi akhirnya tetap penuh junk.