Archives for the month of: September, 2008

Saya rasa Indonesia terlalu kaya akan tradisi unik, apalagi untuk merayakan berakhirnya bulan Ramadhan. Misalnya, tradisi mudik yang selalu bikin heboh tiap tahun, tradisi maaf-maafan, sampai keidentikannya dengan ketupat. Bahkan kata Minal Aidin Wal Faizin, yang biasa diucapkan saat lebaran, juga cuma ada di negeri ini.

Parsel juga tidak pernah mati. Seminggu terakhir sejumlah parsel datang ke kantor, ditujukan entah untuk salah satu orang atau perusahaan. Daripada jadi kasus karena menerima parsel, parsel tersebut pasti dibagi-bagi. Biasanya begitu dapat izin dari yang berhak, sang parsel diserbu oleh segenap orang di sekitarnya. Kalau udah ngelihat masing-masing orang rebutan memesan bagiannya, udah ga kelihatan yang mana trainee, pegawai senior, atau manajer.

Begitu juga dengan angpau. Saya nggak pernah ngeh tentang angpau, sebelum orangtua saya mengingatkan.

“Bram, kamu kan udah kerja sekarang. Kamu harus kasih angpau ke adik-adikmu.”

(more…)

Sejak bekerja, kegiatan mencatat jadi penting. Karena semua pengetahuan datang ke secara tidak teratur. Ada yang dari dokumentasi, training, meeting, briefing dari bos, hasil tanya-tanya teman, pengalaman atas kasus-kasus yang terjadi, atau eksplorasi. Sulit untuk mengorganisir dan  memisahkan mana yang penting atau tidak. Kalaupun ada, kadang itu berada dalam tumpukan file dokumen atau email yang jumlahnya sangat banyak. Belum lagi kenyataan bahwa dokumentasi yang ada di kantor entah itu terhadap proses bisnis atau aplikasi-aplikasi yang dipakai tidak selalu memadai.

Awalnya, saya pakai buku catatan. Tapi belakangan, sebuah buku semakin lama semakin tidak memadai, karena penyimpanannya tidak terpola. Menulisnya sendiri juga butuh waktu lama. Saya kemudian mencoba beralih ke OneNote, tapi tidak berlangsung lama karena beralih lagi ke Evernote. Sebenarnya saya sudah lama tahu mengenai Evernote ini. Tapi begitu melihat versi barunya (3.0), saya langsung jatuh cinta.

Evernote merupakan aplikasi yang bisa digunakan untuk menyimpan catatan apapun. Seperti halnya Microsoft OneNote, Google Notebook, atau BasKet (saya juga pernah membahas BasKet di sini). Kita bisa membuat, mengorganisir, dan mencari catatan. Organisasi catatan dilakukan dengan fitur tag dan Notebook. Catatan yang disimpan tidak hanya berupa teks, tapi juga gambar, yang bisa diambil dengan melakukan fasilitas image capture dari aplikasi ini.

Dengan menggunakan aplikasi ini, saya sekarang tidak perlu membuka dokumentasi atau email-email lama untuk mengingat sesuatu. Cukup simpan di Evernote, dan cari ke sana kalau diperukan.

Kelebihan Evernote dibanding aplikasi-aplikasi sejenis adalah portabilitasnya. Evernote punya versi desktop, web, portabel, dan bahkan bisa digunakan di handphone jika kita memakai Windows Mobile atau iPhone. Semua catatan kita dari source yang berbeda itu nantinya bisa disinkronisasi via internet, secara otomatis. Jadi aplikasi ini benar-benar memungkinkan kita untuk melakukan manajemen informasi, di mana saja dan kapan saja.

Meski fiturnya tidak sebanyak Microsoft OneNote, saya lebih suka Evernote. Evernote jauh lebih sederhana. Udah begitu free pula. Sinkronisasi via internet dan instalasi Evernote di drive portable juga benar-benar menjadi nilai tambah bagi saya. Sinkronisasi memungkinkan apa yang saya catat di kantor akan keluar dengan bentuk yang sama di rumah. Fasilitas portable bermanfaat buat saya yang nggak dapat fasilitas Notebook. Jadi saya bisa simpan dan bawa catatan-catatan itu cukup dalam flashdisk.

Overview lebih jelas tentang Evernote bisa dilihat pada ulasan menarik di theAppleBlog, ars technica, ATLChris, atau situs Evernote sendiri. Video di bawah juga mungkin bisa mewakilkan.

Jadi kesimpulannya, Evernote is highly recommended. Seperti saya pernah tulis sebelumnya, saat ini kita kebanjiran informasi. Entah yang mana yang penting, yang mana yang tidak. Juga entah bagaimana mengingat sesuatu, jika kita punya ada setumpuk catatan. Saya kira Evernote bisa menjadi salah satu solusi untuk semua itu.

Sebuah kejadian menarik di mana saya lepas dari tilang tanpa aktivitas sogok-menyogok.

Ceritanya terjadi minggu lalu. Saat itu saya dan Indi sedang berkendara pulang dari les bahasa Inggris menuju kantor. Karena si Indi malas nyetir, jadilah saya yang menyetir mobilnya. Saat menelusuri jalan Sudirman, tiba-tiba mobil kami dihentikan oleh seorang polisi. Ternyata saya lupa menyalakan lampu.

Kalau anda sudah biasa kena tilang, pasti sudah bisa menduga apa yang akan dilakukan oleh polisi. Dia akan mendatangi, menayakan tahu atau tidak kenapa saya diberhentikan, dan meminta surat-surat. Saya pada waktu itu mengakui saja, kalau salah karena lupa menyalakan lampu.

Sang polisi akhirnya memvonis untuk menahan STNK mobil. Dia meminta saya datang ke pengadilan tanggal 23 September besok untuk menjalani sidang. Saya jadi tidak enak dengan Indi, berhubung ini mobil miliknya. Karena itu, saya memutuskan untuk turun dari mobil dan bertanya seputar pelanggaran saya ke polisi tersebut, sambil mencari alternatif yang lebih ‘mudah’ untuk menyelesaikan masalah ini.

Melihat saya turun dari mobil, sang polisi langsung bertanya, “Kok turun Mas?”. Tampaknya dia sudah terbiasa dengan aktivitas ini. Saya juga sebenarnya sudah terbiasa. Tapi sangat tidak suka untuk melakukannya.

(more…)