Log in | Jump |

/brahmasta/journal

Everything into a folder
This thing was constructed on September 5, 2008, and it was categorized as Indonesiana, Opinion, Reflection.
You can follow comments through the RSS 2.0 feed. You can leave a comment, or trackback.

Menurut saya, salah satu pembeda antara negara maju dengan yang tidak itu terlihat dengan bagaimana orang-orang di dalamnya memandang pentingnya keselamatan. Orang-orang kita, bila saya terpaksa melakukan generalisasi, kebanyakan tidak memperhatikan itu.

Tadi pagi, di kantor ada acara singkat safety briefing. Topiknya berkisar seputar tips dan trik berkendara serta review kecelakaan-kecelakaan yang terjadi selama beberapa bulan terakhir terhadap karyawan atau rekanan perusahaan. Khusus untuk pembahasan kecelakaan, sepertinya ada lebih dari lima kecelakaan motor yang diulas. Semuanya mengerikan. Mulai dari bis yang melindas kepala orang, truk yang menabrak sepeda motor, sampai pengemudi sepeda motor yang terseret mobil sepanjang 10 meter.

Kesimpulan saya, dari semua kecelakaan tersebut, pengemudi kita tidak membawa kendaraannya secara defensif. Ada satu kasus di mana sebuah sepeda motor berusaha menyalip bus dan truk sekaligus, dan berakhir dengan nyawa melayang karena saat ia menyalip, sang bis tidak menyadari dan berusaha menyalip truk juga hingga akhirnya pengemudi motor ditabrak dan terjatuh, lalu si pengendara motor secara tidak sengaja terlindas.

Ada banyak hal yang membuat kita tidak berpikir untuk menjaga keselamatan. Dalam kasus berkendara, waktu merupakan salah satu diantaranya. Kadangkala kita harus mengejar sesuatu di tempat tujuan, atau tidak ingin terlalu lama menghabiskan waktu di jalan. Akibatnya kita jadi menantang bahaya, yang bisa menyebabkan celaka.

Faktor lain mungkin terkait dengan kebugaran. Misalnya dalam kasus berkendara lagi, kita memaksakan diri untuk mengendarai mobil padahal sudah lelah dan ngantuk. Saya beberapa kali sempat mengalami ini. Beberapa kali sempat kehilangan konsentrasi di jalan dan membuat mobil sedikit tidak terkontrol. Saya pernah hampir keluar jalur, telat ngerem, dan tidak sadar kalau disalip.

Namun faktor yang menurut saya paling memprihatinkan adalah ketika kita careless terhadap keselamatan kita. Ini akan membuat kecelakaan yang terjadi pada kita menjadi terlihat bodoh.

Jika anda ingin sebuah contoh mengenai seseorang yang careless terhadap keselamatan, mungkin bisa melihat contoh kasus jatuhnya seorang pekerja dari gondola di menara MT Haryono. Jadi ceritanya, di gedung tersebut dua orang pembersih kaca bekerja dari ketinggian 8 lantai. Namun satu hal yang mengerikan terjadi. Salah satu tali yang menggantung gondola tiba-tiba putus. Dari kedua orang itu, salah satu diantaranya menggunakan sabuk keselamatan, sementara yang lain tidak. Akhirnya salah satu dari mereka jatuh dan meninggal, sementara yang satunya selamat. Bisa ditebak kan yang jatuh yang mana?

Ketidakpedulian kita terhadap hal-hal ’sepele’ terkait keselamatan inilah yang saya lihat sedikit sekali dimiliki oleh orang kita. Baru saja tadi malam saya menaiki taksi di mana sopirnya tidak mau menggunakan sabuk pengaman, padahal sudah saya ingatkan. Malah dulu pernah saya naik taksi yang supirnya menggunakan sabuk pengaman dengan menyangkutkan ujung sabuk pengaman ke celananya dengan peniti. Tujuannya jelas, supaya tidak ditangkap polisi, karena kelihatannya menggunakan sabuk pengaman.

Aneh bukan? Kebijakan sabuk pengaman diberikan agar kita selamat, tapi kita menjadikannya ajang kucing-kucingan dengan polisi.

Well, sebagai penutup, tulisan ini saya buat supaya kita mengingat lagi akan pentingnya menjaga keselamatan dalam segala hal yang kita lakukan. Misalnya dalam berkendara, sediakan waktu yang cukup agar tidak terburu-buru, pastikan tidak ngantuk, dan pastikan semua komponen kendaraan Anda dalam kondisi yang baik. 

Saya jadi ingat waktu jaman-jaman ikut tes kerja. Kebanyakan orang-orang dari perusahaan minyak akan memulai acara dengan safety briefing, menunjukkan pintu-pintu keluar mana saja yang bisa digunakan untuk evakuasi. Hal itu pada awalnya terasa menggelikan. Tapi begitulah budaya yang memperhatikan berharganya jiwa setiap manusia, yang mementingkan keselamatan. Budaya yang sepertinya belum tertanam luas di kita.

Jadi, tetap ingat, untuk utamakan keselamatan!

 

 

This thing has 3 Comments

  1. Posted September 6, 2008 at 2:01 am | Permalink

    Setuju bos, safety first…
    walau kalau nyetir gw udah pake sabuk pengaman, kadang gw masih agak ceroboh klo nyalib mobil/motor di depan..
    harus hati2 lagi nih..

  2. Posted September 9, 2008 at 4:58 am | Permalink

    Jadi ingat, waktu KP di Surabaya, tiap pagi di perjalanan menuju kantor kan dengerin radio. Dan rasanya hampir di setiap pagi ada kecelakaan lalu lintas, mulai dari kecelakaan ringan sampai kecelakaan berat…

  3. Posted November 18, 2008 at 3:10 pm | Permalink

    aku pernah melihat documentary film d metro tv dulu. kalau gak salah judulnya abad 21. biasanya malam jam 12.00.
    di situ ada eksperimentalnya tentang keselamatan. dan mereka mendapatkan hasil kalau ternyata orang yang memakai peralatan keselamatan jauh lebih sering terkena kecelakaan. selidik punya selidik, mereka yang memakai safety tool lebih berperilaku sebebas-bebasnya.
    mereka merasa sudah aman, jadi tidak masalah jika misalnya bersepeda agak kencang, karena sudah ada safety tool nya yang lengkap. pernah melihat doc film tsb?

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*