Kalau lagi naik taksi sendirian dan menjalani rute yang jauh, biasanya saya akan mengajak sopir taksi tersebut ngobrol ngalor ngidul. Mulai dari hal-hal yang sepele sampai serius. Biasanya yang keluar itu curhatan, kisah hidupnya, atau pandangan politik. Sampai sekarang, saya masih ingat beberapa yang menarik.
Sampel pertama adalah seorang supir taksi yang sangat uzur. Ia mengeluh kepada saya atas kesulitan ekonomi yang dia alami. Kemudian dia membandingkan masa-masa sekarang dengan orde baru dan orde lama. Dia tampaknya begitu bangga dengan Soekarno. Secara detil dia jelaskan bagaimana kehidupan masa kecilnya saat Soekarno masih berkuasa. Makan siang dan susu gratis di sekolah, sekolah libur kalau dia datang sepulang dari luar negeri untuk menyambut dia datang. Kemudian dia juga bercerita bahwa Soekarno-lah presiden terbaik, yang benar-benar memperjuangkan namanya rakyat. Terutama rakyat kecil. Soekarno tidak mau membuat rakyatnya menderita.
Sampel kedua, sopir taksi flamboyan. Dia punya tujuh istri dan berencana menambah lagi. Dia punya usaha sampingan penyewaan mobil, dan secara berulang-ulang menjelaskan kepada saya bahwa itu sangat menguntungkan. Kami sempat melakukan perhitungan berapa yang dia dapatkan sebulan dari bisnisnya itu. Satu hal yang cukup aneh adalah profesi sampingannya adalah penyanyi dangdut. Dia sempat menanyakan kepada saya apakah sudah pernah melihat video klipnya, dan sampai saya turun dari taksi pun, dia mengingatkan saya untuk melihat video klipnya.
Sampel ketiga adalah sopir taksi putus cinta. Ini agak panjang ceritanya, bahkan sampai berbuntut perjalanan saya tambah jauh karena nyasar. Dia cerita kalau dulu sebelumnya sempat bekerja di perusahaan asing dan memperoleh gaji cukup tinggi, sampai bisa beli mobil sendiri. Sayang dia terlibat masalah dengan bosnya hingga dipecat lalu mengalami kesulitan keuangan hingga menjual mobilnya. Dia tidak bercerita kepada orangtuanya mengenai masalah ini, tapi dia cerita ke pacarnya. Repotnya, pacarnya langsung mutusin dia begitu tahu dia sekarang jadi sopir taksi. Untungnya saat dia bercerita ke saya, minggu depannya dia akan menjalani wawancara dengan sebuah perusahaan, dan kata dia sih, kemungkinan besar bakal diterima. Tapi dia bersumpah tidak akan kembali ke pacarnya itu.
Sampel keempat, sopir taksi satu kampung. Pertanyaan standar saat mulai mengajak ngobrol itu adalah daerah asal. Dan ternyata sopir taksi itu besar di Duri! Kampung saya. Si Pak supir ini hidup sekitar tahun 60-an di sana. Berarti dia hidup saat Duri masih benar-benar kota kecil, meski sudah ada Caltex di sana. Dia tinggal di Simpang Padang, dekat sebuah bioskop terkenal di masa itu. Sekarang bioskopnya sudah menjadi ruko. Dia juga bercerita kalau orangtuanya bekerja di Caltex, sama seperti Bapak saya. Tapi sekitar tahun 70-an pensiun. Sudah lama sekali, jauh berbeda dengan Bapak saya yang mulai bekerja tahun 1984.
Sampel terakhir adalah supir taksi yang mengajarkan saya untuk bersyukur. Nah kalau yang ini oke banget. Saya baru malam ini bertemu dengan supir taksi seperti ini dan benar-benar merasa bersyukur bertemu dengannya. Hari ini saya sedang cukup kalut memikirkan hari esok di mana saya mulai bekerja lagi dengan setumpuk pekerjaan yang sudah menanti untuk diselesaikan. Tapi dia datang mengantarkan saya dengan berkali-kali ucapan syukur dan pasrah atas yang dia alami kepada Tuhan. Entah berapa kalimat Alhamdulillah yang keluar, meski yang dia dapat tidak seberapa. Saya mendapat cerita tentang anak-anaknya, berapa penghasilan yang dia dapat dari taksi, dan betapa dia tidak ada masalah dengan itu. Dia percaya Tuhan akan memberikan yang terbaik. Mengagumkan.
Sampel terakhir ini akhirnya yang mengantarkan saya untuk menulis cerita ini. Benar, kita harus bersyukur. Kita kadang tidak tahu kalau apa yang sudah kita sudah dipenuhi berkah. Kita terus melihat ke atas dan merasa kurang, tanpa mensyukuri segala nikmat yang sudah terlalu terbiasa untuk terasa.
Kenapa saya suka mengajak ngobrol mereka? Soalnya saya sering sekali mendapatkan sudut pandang baru setiap kali berbicara dengan mereka. Kadang kasihan juga, dari pagi sampai malam mengarungi jalan raya mengejar setoran. Ada yang ditarget harus mencapai lima ratus ribu rupiah sehari baru bisa dapat 20% dari itu, ada juga yang mendapat sebagian dari berapapun yang dia terima dari penumpang. Jadi saya salut sama supir taksi sampel terakhir, yang tetap mensyukuri hidupnya.
Jadi itulah cerita yang saya punya dari naik taksi. Entah cerita apa lagi dari mereka yang saya dapat besok-besok.
Waahh.. Menarik sekali ceritanya..
Bahkan kita bisa belajar banyak yaa dari cerita2 para supir taksi itu..
Dan setuju sekali kalo kita harus selalu bersyukur..
Apapun yang udah kita dapatin sekarang, syukurilah.. Karna Allah akan menambah nikmat hamba-Nya yang slalu bersyukur..
Sepertinya Bram akan ada cerita2 lain nih dari perjalanan naik taksi.. Karna tampaknya akhir2 ini lebih memilih naik taksi daripada naik bis.. Hahhaha..
Tapi kalo bisa milih, perjalanan naik ‘busway’ jg seru lohh.. ;p
*formal amat yaa sayaa:D
bram, kok berasa kek km menderita bgt sih di kantor? jd tambah males ni nyari kerja di jkt.
@Nela:
Sering-sering diingetin ya
Mungkin nanti akan ada edisi lengkap perjalanan busway kita. Hehehe..
@diBond:
Hehe, menderita atau nggak, it depends.. on many things.
jangan lupa kasih tips yang banyak mas, karena sudah denger cerita
seru juga kalau dibuat film,..Untuk supir taxi kedua sangat komikal ngebayanginnya he he
Seruuu.. haha. Btw, Bram, klo supir taksinya terlihat menyeramkan, lo tetep ngajak ngobrol jg?
…. keren keren …. kadang2 kita suka dapet pelajaran dari orang yg sangat jauh ama kita, ga kenal, ga tau ….. karena mungkin kalo dari yang kita kenal dan tau suka ga didengerin dan ga diperhatiin kali yaa… (apaaa sih gw)
hey bram, mengikuti comment yang lain. cerita nya seru. Menyentuh. aku sampe ga berkedip bacanya. bersyukur emang bikin hidup jadi lebih ringan, ya.
mungkin cerita2 dari supir kopaja ga kalah menarik
bdw, ya ampun, naik taksiiii, mahaaaalll. hehe
ah, gag mau denger cerita supir taksi… posting soal pergantian status lu aja di fesbuk dong bram huhehehehehe… dasar emak2 gag ada kerjaan yak gua hahahahahahaha….
hmm, iya bisa jadi ide cerita film (pendek).
Mungkin, supir taksi memang identik dengan “tukang cerita”?? Misalnya aja supir taksi yang di Heroes (Mohinder Suresh). Setiap awal film selalu dia ngomong “previously on heroes..” Haha. Maaf, kalo nggak ngikutin heroes… hehe.
Salam kenal, kak.
tulisan yang sangat menyentuh apalagi kalo dibaca ama prabowo subianto, dengan dana kampanye di televisi minimal 15 M sebulan selama 8 bulan, saya rasa konsep ekonomi kerakyatan yang didengungkan lebih bermaamfaat membantu ekonomi rakyat jelata, tp bukan dengan cara bantuan langsung tunai, yg kurang mendidik
yang jelas semua pekerjaan harus ikhlas apalagi jadi pejabat publik,…
Hehehee.. Ceritanya bagus
Asyik emang kadang2 ngobrol dgn org tak dikenal, aku jg kadang2 suka ngobrol dgn supir taksi (jarang2 sih naik taksi). Tapi paling males klo supir taksinya yg sotoy dan menyalahkan ini itu..
wah pengalaman yang menarik. sayangnya saya gak biasa naik taksi. seringnya ngobrol dengan pemilik warung saat makan. ha ha ha
menyentuh bgt artikelnya..
we have to thank to Allah for everything Allah give to us, Alhamdulilah
Wah.. saya malah pingin jadi sopir taxi, enak ga ya
———————————-Driver/Pengemudi/Supir——————————
Anda butuh DRIVER BERPENGALAMAN & BERPENGETAHUAN LUAS TENTANG PERBENGKELAN & PETA PERJALANAN u/ Wilayah wilayah JABODETABEK ? Hub. SITOHANG N0. Tlp/ Hp 08176458323 & 02191177331. Terima Kasih atas perhatiannya