Saya punya iPod Nano Chromatic yang baru berumur dua bulan. Selama dua bulan ini, sang iPod sudah menemani ke mana-mana. Saya biasanya pasang di mobil untuk menemani sepanjang perjalanan. Menggantikan CD dan radio yang sudah mulai membosankan.

Namun ternyata punya iPod bisa bosan juga. Karena nggak ada lagu baru yang lagi didengerin (baca: download), akhirnya saya kembali ke radio atau malah ngobrol via speakerphone sepanjang perjalanan*. Hingga akhirnya sang iPod tergeletak tidak jelas di mobil, sampai suatu saat saya temukan mati. Saya langsung masukkan ke kantong celana, masuk ke dalam rumah, ganti baju, terus tidur.

Saya lupa kalau si iPod berada di celana. Dan sang iPod pun terendam bersama cucian.

Untungnya setelah ditemukan, dia masih bisa nyala. Setelah dikeringkan, saya coba nyalain lagi. Suaranya masih bagus. Fungsi-fungsinya masih jalan. Sayang ada kerusakan. Ada air yang mengendap di dalam dan baterainya cepat drop.

Saya akhirnya bawa si iPod ke servis resmi. Saya udah nggak peduli masalah garansi. Garansi kan berlaku untuk hal-hal yang bukan kesalahan kita. Ini jelas kesalahan saya.

Tapi sayang sekali jawaban dari tempat servis-nya adalah: Mereka tidak bisa bantu.

Saya kaget, dan menanyakan kenapa. Ternyata mereka tidak diperbolehkan untuk membuka isi iPod-nya (juga tidak dilatih untuk memperbaikinya). Jadi satu-satunya jalan adalah menukar itu dengan yang baru, yang mana selisih harganya hanya seratus ribu lebih murah dengan yang baru. Padahal kalau menurut saya (yang sok tahu) perbaikannya sederhana, bersihin kerak-kerak air di kaca dalam kemudian ganti komponen yang berhubungan dengan baterainya. Tapi ternyata nggak semudah itu. Mereka malah menyarankan saya untuk mencari tempat servis tidak resmi. Hal serupa akan terjadi buat iPhone. Mereka nggak bisa perbaiki kerusakan-kerusakan seperti itu karena tidak boleh dibuka.

Buat saya mengejutkan ya, untuk barang sekelas iPod dan iPhone, servis sederhana seperti itu tidak bisa diberikan. Sudah barangnya mahal, aksesorisnya mahal, servisnya menyulitkan. Saya jadi mikir, mungkin service seperti itu-nya belum dibuat di Indonesia ya? Atau dia memang mainnya ‘sangat tertutup’ begitu?

Ya sudahlah saya nggak mau berpikir terlalu banyak dulu. Tempat-tempat servis ‘swasta’ untuk sang iPod.

Mungkin pesan moralnya sementara adalah. Jangan cuci iPod Anda. :)

* Jangan ditiru ya. Berbahaya. Hehe..