Log in | Jump |

/brahmasta/journal

What is most personal is most general – Carl Rogers
This thing was constructed on July 8, 2009, and it was categorized as Indonesiana.
You can follow comments through the RSS 2.0 feed. You can leave a comment, or trackback.

Sedikit uneg-uneg dan pemikiran dari hasil pemilu hari ini.

Saya yakin semua orang Indonesia minimal memiliki kepercayaan di dalam hatinya bahwa pasangan capres no. 2, Susilo Bambang Yudhoyono – Budiono memiliki peluang terbesar untuk memenangi perebutan suara di pemilu presiden  hari ini.

Kalau kita menilik hasil quick count dari keempat lembaga survei hari ini, kepercayaan di atas semakin terbukti kebenarannya. SBY-Budiono meraih suara lebih dari 50% di keempat hasil quick count tersebut. Bahkan tiga di antaranya mencapai 60%. Megawati-Prabowo menduduki peringkat kedua dengan suara sebanyak 25%, sementara JK-Wiranto di tempat ketiga dengan kisaran suara 12-15%.

Mengherankan. In my humble opinion, hasil ini tidak mempresentasikan ekspektasi pribadi. Bagi saya. Mega-Prabowo bukan calon favorit. Saya rasa kita semua tahu bagaimana kualitasnya ‘terbanting’ di seluruh debat pilpres. SBY-Budiono memang favorit, tapi saya tidak melihat pasangan ini harus menang telak mengingat beberapa kali kampanyenya tidak mencerminkan kenyataan sebenarnya (dengan memaparkan hasil pemerintahan seolah-olah sukses) dan ulah tim suksesnya yang tidak simpatik. Di tengah situasi seperti itu, saya memandang JK-Win seperti sesuatu yang fresh di tengah carut marut contoh yang lain itu, meski banyak kekurangannya. Kampanyenya menarik, dia bisa menyelesaikan masalah-masalah dengan solusi yang praktis. Bukan konseptual dan mengawang-awang seperti calon lainnya. Dari hal-hal yang saya lihat itu, rasanya kok hasil calon Mega-Prabowo dan SBY-Budiono terasa terlalu tinggi, dan calon JK-Wiranto terlalu kecil.

Hasil yang mengherankan ini bagi saya seolah didukung dengan masalah-masalah yang muncul beberapa hari menjelang pemilu hingga hari ini. Kadang dalam hati ini bertanya-tanya. Apakah ada kecurangan dalam proses pemilihan kali ini? Apakah ada rencana besar yang tersembunyi di balik pemilu yang bersih dan demokratis?

Semua itu bisa membawa kita ke dalam kesimpulan kalau pemilu ini tidak sempurna. Ada pelanggaran terjadi, ada kecurangan terjadi. KPU sebagai penyelenggara juga tidak sempurna karena masih menyisakan masalah DPT hingga detik-detik terakhir.

Tapi di luar itu semua, saya cukup takjub dengan pemilu tahun ini. Sebuah kemajuan yang luar biasa nggak sih? Coba saja bandingkan dengan pemilu tahun 2004 kemarin. Sekarang ada debat capres.  Quick count dilakukan beberapa lembaga survei dan bisa menjadi acuan. Kalau kita melihat ke pemilu legislatif, kini setiap orang punya hak untuk mencalonkan diri dan mengkampanyekan dirinya untuk menjadi wakil rakyat. Selain itu ada fenomena menarik juga di dunia maya dengan hadirnya Politikana, yang kini jadi sarapan saya setiap hari.

Negeri ini seperti sedang belajar, dengan berawal dari sesuatu yang awalnya tidak sempurna, penuh tambal sulam, dihadiri ketidakkompetenan, tapi on track. Pelan-pelan saya merasa proses ini akan bisa membawa Indonesia ke negara yang lebih demokratis. Asal kualitas prosesnya tidak jalan di tempat.

OK, kita boleh optimis melihat demokratisasi. Tapi hal lain saya rasa juga penting adalah dukungan ke presiden terpilih. Seperti apapun presidennya, sehebat apapun visi dan misinya, jika tidak ada dukungan dari seluruh elemen pemerintahan dan rakyat, bakal tidak ada artinya. Itu yang saya rasakan ketika debat capres kemarin. Calon-calon presiden kita itu punya konsep-konsep yang bagus untuk menyelesaikan masalah-masalah bangsa ini. Bahkan jika tidak terlalu bagus, minimal pasti ada perbaikan jika semuanya berjalan dengan baik. Tapi sayangnya, semuanya masih dalam tataran konsep. Siapa yang menjamin bisa berjalan benar saat eksekusinya?

Well.. that’s all. Selamat untuk SBY-Budiono karena memenangi quick count hari ini. Siapapun presiden yang terpilih, mari kita dukung dengan segenap hati. Karena negara kita tidak akan maju kalau kita tidak bahu membahu membangun negeri ini.

Sekian uneg-unegnya. :)

This thing has 7 Comments

  1. Posted July 9, 2009 at 6:54 pm | Permalink

    setuju sekali!!!

  2. Posted July 10, 2009 at 1:46 pm | Permalink

    Halo Bram… senang membaca ulasanmu perihal Pilpres, sebuah analisis dari anak muda yang kritis dan smart. Yang ‘terbaik’ belum tentu bisa menang, rakyat punya cara penilaian tersendiri yang tidak bisa dipahami oleh para politisi.

  3. Posted July 10, 2009 at 4:50 pm | Permalink

    Oh, pemilih JK juga toh! Hehhehehe.

  4. Posted July 10, 2009 at 6:09 pm | Permalink

    Klo opini gw siy ..
    berarti banyak Rakyat yang ‘cukup’ pintar untuk tidak hanya melihat pada kampanye, bram. Semua calon pernah punya track record dalam kepemimpinan di negeri ini. Dan track record beberapa tahunlah yang jadi acuan, bukan hanya kampanye beberapa minggu.

  5. Posted July 10, 2009 at 9:37 pm | Permalink

    @icakicik.com
    Thanks for coming :)

    @Rinaldi Munir
    Thanks Pak. Semoga memang rakyat benar-benar memilih sendiri ya Pak.

    @ikram
    Tos dulu dong. Hahaha..

    @Widya
    Jika memang semua rakyat memilih berdasarkan track record, saya bersyukur. Mudah-mudahan rakyat kita memang sepintar itu. Dan mudah-mudahan pula track record yang sampai di rakyat adalah ‘track record’ yang sebenarnya terjadi. Hehe..

  6. Posted August 1, 2009 at 12:17 am | Permalink

    Mari kita dukung pemenang pemilu dg lapang dada dan kembali bersatu membangun bangsa

  7. Posted September 29, 2009 at 6:05 pm | Permalink

    ikutan ah,.,.,.:)

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*