Log in | Jump |

/brahmasta/journal

Living In The Information Age – An Ad Hoc Approach
This thing was constructed on July 13, 2009, and it was categorized as Books, Life, Reflection.
You can follow comments through the RSS 2.0 feed. You can leave a comment, or trackback.

Sudah pernah baca The Black Swan? Ada sebuah sudut pandang menarik dari Nicholas Taleb mengenai segala sesuatu (ia menyebutnya variabel). Segala variabel dapat dipisahkan antara scalable dan non scalable.

Non-scalable mewakili hal-hal yang bisa diukur. Ia memiliki sifat-sifat mendekati kepastian. Sementara scalable mewakili hal-hal yang tidak terukur. Tingkat keacakannya tinggi. Anda tidak bisa memprediksi semua hal di sini.

Salah satu contoh yang menarik dari Taleb di bukunya itu adalah pembahasan mengenai profesi. Ada profesi yang sifatnya non-scalable. Kontraktor, akuntan, dokter, dan konsultan misalnya. Penghasilan dalam profesi ini secara kasar akan sejajar dengan sesuatu yang bisa diukur seperti jam kerja, jumlah pasien, keberhasilan kasus-kasus yang diselesaikan, dan jumlah client. Sementara profesi yang scalable, seperti pemusik, penulis buku, dan artis, jumlah penghasilannya dapat jauh berlipat ganda meski jam kerja yang digunakannya sedikit atau sama dengan rekan-rekan seprofesinya. Semua penulis cukup menulis satu kali untuk sebuah buku. Tapi lihat perbedaan penghasilan di antara mereka. Pemusik cukup sama-sama merekam lagu dan mengeluarkan album. Tapi kita semua tahu bedanya penghasilan artis top dengan bukan kan? Mereka tidak dilihat berdasarkan jam kerjanya. Tapi idenya.

Mungkin Anda mengira tulisan ini dibuat untuk merekomendasikan profesi yang scalable. Tapi bahkan Taleb di bukunya sendiri tidak merekomendasikan seperti itu. Profesi scalable bisa memberikan Anda jumlah jam kerja yang lebih sedikit dan penghasilan yang berlimpah. Tapi berapa persen yang sukses? Berapa banyak pengusaha perangkat lunak yang sukses seperti Bill Gates, berapa banyak penulis yang menjual buku sebanyak J.K. Rowling, dan berapa banyak penyanyi yang menginspirasi seperti Michael Jackson?

Berikut kutipannya *

A scalable profession is good only if you are successful; they are more competitive, produce monstrous inequalities, and are far more random with huge disparities between efforts and rewards — a few can take a large share of the pie, leaving others out entirely at no fault of their own.

Pembagian kue di dalam profesi yang sifatnya non-scalable terproporsi yang sama rata, dan kita tidak bisa berbuat banyak untuk itu. Sementara kue untuk hal-hal yang scalable dapat menjadi sangat tidak adil. Satu pihak bisa mendapat lebih dari separuhnya untuk diri sendiri, sementara yang lainnya berusaha mengais sisanya.

Ulasan mengenai scalable dan non-scalable ini mengingatkan saya akan perdebatan antara pilihan karir yang saya kira hadir di banyak diri orang. Apakah berkarir dengan bekerja atau berwirausaha? Sepertinya pembahasan plus minusnya sudah banyak dan kita semua tahu. Mungkin yang saya seringkali ingin tahu adalah, Anda cenderung ke mana?

Indonesia butuh banyak pengusaha loh. Penganggurannya banyak sekali.

* Dikutip dari Ben Casnocha, yang juga dikutip dari buku The Black Swan: The Impact of Highly Improbable.

This thing has 18 Comments

  1. Syahdana
    Posted July 16, 2009 at 9:37 pm | Permalink

    Pengusaha itu scalable atau non-scalable? Atau itu bukan profesi ya? :D

  2. Nela Yeral
    Posted July 20, 2009 at 7:52 am | Permalink

    good post, sayang ;)

  3. Posted July 26, 2009 at 11:41 pm | Permalink

    wah ngikut ajah .,.,.,hehehehe :)

  4. Posted July 31, 2009 at 7:52 pm | Permalink

    ulasan yang begiji nih.. nambah referensi
    salam kenal bos

  5. Posted August 12, 2009 at 4:03 am | Permalink

    Untuk bung Syahdana, menurut saya seorang pengusaha bisa scalable atau juga bisa non-scalable. tergantung usaha apa yang ia geluti.

  6. Achie
    Posted August 15, 2009 at 10:20 pm | Permalink

    bram, baru baca tulisan2 lo.. menarik, dan gw ngerasa ngeliat ‘the other side of bram’..

  7. Posted September 18, 2009 at 11:07 am | Permalink

    I make the translation of your page and I like a lot, I hope to came back soon. Congratulations.

  8. Posted November 3, 2009 at 3:25 am | Permalink

    Yang kaya gini nih perlu di contoh artikelnya…

  9. Posted November 4, 2009 at 12:30 am | Permalink

    Walaupun saya belum begitu paham, saya akan mencoba membacanya kembali…

  10. Posted November 4, 2009 at 9:47 am | Permalink

    klo utk profesi saya prefer ke non scalable aj..lebih stabil ibarata
    terlalu beresiko utk yg scalable tp klo sukses menjanjikan

  11. Posted November 5, 2009 at 6:49 am | Permalink

    makasih ya atas infonya,sangat membanu sekali,lain kali jangan lupa kunjungan dan komentar baliknya ya!

  12. Posted November 19, 2009 at 12:18 pm | Permalink

    Kalau yang kerjanya cuma ngeblog dan ngarapin penghasilan dari iklan itu masuk scalable opo non-scalable ya?

  13. Posted November 19, 2009 at 6:35 pm | Permalink

    Wah, belum baca bukunya,
    Info baru nih, scalable-nonscalable, thanks for share.
    Tapi serius dia menyarankan profesi scalable saja?

  14. Posted November 19, 2009 at 9:03 pm | Permalink

    @Aeronautical Pilots: Blogger itu seperti penulis sepertinya ya. Ga ada gaji tetapnya kan? :)
    @Agung: Ya dia menyarankan yang scalable saja. Mau coba baca bukunya? :)

  15. Posted November 20, 2009 at 11:30 am | Permalink

    kalo PNS kayak saya berarti profesi scalable dong…bisa tidak profesi scalable tapi penghasilan kayak yang non-scalable ?

  16. Posted November 29, 2009 at 6:57 pm | Permalink

    good post

  17. Posted December 4, 2009 at 2:01 pm | Permalink

    sudah baca ulasannya, tapi belum baca lengkapnya…pastinya insightful ya….posting yang menarik :)

  18. Posted January 30, 2010 at 6:55 am | Permalink

    profesi scalable adalah untuk mereka yang punya mental pengusaha, mau gagal dan belajar dengan resiko keluar dari zona nyamannya..nice posting..!!

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*