Archives for category: Education

Suatu hari, seorang teman saya mengirim sebuah topik pembicaraan serius berupa sebuah pertanyaan, di milis angkatan IF03 yang biasanya penuh dengan junk. Pertanyaannya menarik. Menurut saya mewakili perasaan penuh tanda tanya yang dimiliki oleh banyak mahasiswa, atau mungkin setidaknya jurusan saya, tentang masa depan.

Teman saya itu menanyakan: habis kuliah mau ngapain?

Rasanya, kehidupan di dunia kampus sangat berbeda dengan dunia luar. Begitu keluar dari kampus, dengan ijazah sarjana di tangan, kita akan menghadapi hutan belantara industri yang penuh ketidakjelasan. Hingga akhirnya kita begitu sulit untuk menentukan ke mana kita harus melangkah. Apakah harus mencari kerja? Melanjutkan kuliah? Bikin usaha sendiri? Opsi-opsi tersebut adalah yang biasa muncul di pembahasan sehari-hari, di antara kita.

Menariknya setelah lulus, saya mulai melihat ke mana pergerakan teman-teman saya itu. Ada yang begitu berani dan penuh semangat untuk membangun perusahaannya sendiri, ada yang langsung dengan sigap melanjutkan studinya, baik di dalam maupun luar negeri, dan tentu saja banyak yang bekerja. Saya sendiri mengambil keputusan bekerja. Dengan pertimbangan agar bisa mengetahui kondisi hutan belantara yang saya sebutkan tadi.

(more…)

Saya menemukan sebuah artikel menarik mengenai kuliah di jurusan ilmu komputer. Yah, lebih kurang sama lah sama Teknik Informatika. Kalau banyak yang bilang kuliah di Informatika tidak berguna, karena dapat belajar sendiri, gak mengajarkan sisi praktis, dan sebagainya (yang menyebalkan itu). Coba lihat sudut pandang Leah Culver di link di bawah, mengenai apa yang didapatkannya selama kuliah ilmu komputer.

A Computer Science Degree Doesn’t Hurt (Much)

Jadi, kuliah informatika itu penting! Mungkin mahasiswa STEI 2006 yang bakal menjuruskan diri semester depan dan masih ragu-ragu perlu membaca link di atas.

dsc00270.JPGBeberapa hari lalu saya membeli sebuah buku berjudul Dunia Tanpa Sekolah. Buku ini ditulis oleh Muhammad Izza Ahsin, seorang penulis berusia 15 tahun asal Salatiga. Buku tersebut bercerita tentang kisah nyata kegelisahan sang penulis yang merasa “terperangkap” dalam sekolah formal, pendidikan Indonesia.

Izza sendiri akhirnya memutuskan untuk meninggalkan pendidikan formal, pada akhir kelas tiga SMP, di saat Ujian Akhir Nasional tinggal tiga bulan lagi. Hal ini dikarenakan ia telah memiliki cita-cita sendiri, yakni penulis, dan tidak nyaman dengan sistem pendidikan Indonesia. Pendidikan negeri ini menurutnya tidak memberikan manfaat apa-apa. Izza sendiri bukannya seorang manusia yang tidak suka belajar. Dia sangat mencintai aktivitas itu. Di rumahnya ada lebih kurang enam ratus koleksi buku. Dia sangat senang membaca. Pemikirannya mengenai pendidikan Indonesia yang tidak memberi manfaat tersebut justru semakin ia rasakan karena banyak membaca buku-buku pendidikan.

Jangan pula ragukan niatnya untuk menjadi penulis, draft novel pertamanya memiliki ketebalan 364 halaman. Di luar apakah tulisan itu bagus atau tidak, itu menunjuukkan kemauan yang sangat besar.

Membaca buku ini membawa kita mengikuti kehidupan Izza dari sejak bangku SD, di mana dia sangat bergairah pada pelajaran sastra dikarenakan gurunya membuat siswanya aktif berpartisipasi di dalam kelas, konflik keluarga yang dialaminya sebagai perlawanan terhadap keinginan mengundurkan diri dari sekolah, dan bagaimana ia menghadapi dunia setelah keinginannya disetujui orangtua dan benar-benar keluar dari sekolah.

Apakah pendidikan kita memang sedemikian jeleknya, sampai seseorang yang menyukai aktivitas tersebut harus mengundurkan diri?

(more…)