<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>/brahmasta/journal &#187; Education</title>
	<atom:link href="http://brahmasta.net/category/education/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://brahmasta.net</link>
	<description>What is most personal is most general – Carl Rogers</description>
	<lastBuildDate>Tue, 13 Jul 2010 13:49:17 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Alumni, Kampus, dan Industri</title>
		<link>http://brahmasta.net/2008/07/22/alumni-kampus-dan-industri/</link>
		<comments>http://brahmasta.net/2008/07/22/alumni-kampus-dan-industri/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Jul 2008 14:47:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Brahmasta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Campus]]></category>
		<category><![CDATA[Education]]></category>
		<category><![CDATA[Thoughts]]></category>
		<category><![CDATA[alumni]]></category>
		<category><![CDATA[industri]]></category>
		<category><![CDATA[kampus]]></category>
		<category><![CDATA[kerja]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://brahmasta.net/?p=289</guid>
		<description><![CDATA[Suatu hari, seorang teman saya mengirim sebuah topik pembicaraan serius berupa sebuah pertanyaan, di milis angkatan IF03 yang biasanya penuh dengan junk. Pertanyaannya menarik. Menurut saya mewakili perasaan penuh tanda tanya yang dimiliki oleh banyak mahasiswa, atau mungkin setidaknya jurusan saya, tentang masa depan. Teman saya itu menanyakan: habis kuliah mau ngapain? Rasanya, kehidupan di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Suatu hari, seorang teman saya mengirim sebuah topik pembicaraan serius berupa sebuah pertanyaan, di milis angkatan IF03 yang biasanya penuh dengan <em>junk</em>. Pertanyaannya menarik. Menurut saya mewakili perasaan penuh tanda tanya yang dimiliki oleh banyak mahasiswa, atau mungkin setidaknya jurusan saya, tentang masa depan.</p>
<p>Teman saya itu menanyakan: habis kuliah mau ngapain?</p>
<p>Rasanya, kehidupan di dunia kampus sangat berbeda dengan dunia luar. Begitu keluar dari kampus, dengan ijazah sarjana di tangan, kita akan menghadapi hutan belantara industri yang penuh ketidakjelasan. Hingga akhirnya kita begitu sulit untuk menentukan ke mana kita harus melangkah. Apakah harus mencari kerja? Melanjutkan kuliah? Bikin usaha sendiri? Opsi-opsi tersebut adalah yang biasa muncul di pembahasan sehari-hari, di antara kita.</p>
<p>Menariknya setelah lulus, saya mulai melihat ke mana pergerakan teman-teman saya itu. Ada yang begitu berani dan penuh semangat untuk membangun perusahaannya sendiri, ada yang langsung dengan sigap melanjutkan studinya, baik di dalam maupun luar negeri, dan tentu saja banyak yang bekerja. Saya sendiri mengambil keputusan bekerja. Dengan pertimbangan agar bisa mengetahui kondisi hutan belantara yang saya sebutkan tadi.</p>
<p><span id="more-289"></span>Terus terang, setelah dua bulan lebih bekerja, saya merasa banyak mendapatkan hal baru dan sudut pandang baru. Tiba-tiba saya baru bisa mulai melihat, dari sisi perusahaan tempat saya bekerja, kompetensi apa yang harusnya dimiliki. Peluang karir bagaimana yang ada di dunia industri saat ini, dan bagaimana segala pengalaman dan pengetahuan kita bisa sedikit sekali berarti di sini. Hal yang sama sekali tidak saya miliki ketika bahkan berada di tingkat akhir universitas.</p>
<p>Saya tidak tahu dengan orang lain, namun saya merasa cukup terlambat. Mungkin ada beberapa yang merasakan hal yang sama. Dalam bayangan saya, buat yang berhasil mendapatkan beasiswa di luar negeri, dia jadi tahu bagaimana rasanya kuliah, hidup, dan budaya di sana. Buat yang membangun usaha sendiri, karena namanya memulai dari nol, pasti ada banyak pembelajaran yang didapat. Buat yang kerja, pasti tahu di mana saja tempat kerja yang bagus, dan kompetensi apa saja yang harusnya dimiliki untuk segera bisa berkarya di dalamnya. Selain itu, dia juga pasti jadi tahu, sisi plus dan minus, yang berupa konsekuensi dari pilihan-pilihan yang diambil.</p>
<p>Saya kadang berandai-andai, jika waktu dulu saya tahu semua peluang yang ada, pasti saya bisa punya visi mau jadi apa nantinya, dan membangun persiapan jauh hari sebelumnya, sehingga tidak membuang waktu setelah lulus. Bukannya saya tidak mencari informasi, tapi informasi yang didapatkan itu setengah-setengah. Hasil tanya sana-sini. Jadi saya tidak bisa dapat gambaran luas tentang peluang di masa depan.</p>
<p>Tiba-tiba saya ingat akan jaringan alumni. Ya, mestinya ikatan alumni bisa menjadi tempat yang bagus untuk ini. Kalau sudah berada dalam lingkungan alumni kan jadi enak. Teman saya yang membangun usaha bisa saling berbagi cerita atau bahkan menemukan peluang usaha baru. Kita jadi tahu sang hutan belantara itu seperti apa. Bila kita mengumpulkan alumni dalam sebuah jurusan, bisa dibawa melangkah lebih jauh lagi, yakni bisa dijadikan masukan buat kurikulum di jurusan sendiri, biar selaras antara dunia kerja dan pendidikan.</p>
<p>Paparan di atas merupakan sebuah peran alumni terhadap kampus yang telah ditinggalkannya. Jika memang alumni bisa berperan seperti itu, tentunya akan sangat baik. Untuk ikatan alumni di jurusan saya sendiri, sepertinya perlu ada <em>effort</em> lebih untuk menjadikannya hidup.</p>
<p>Bagaimana dengan ikatan alumni atau sekolah anda?</p>
<p>Ah, tiba-tiba saya jadi ingat himpunan, dan kegiatannya yang berjudul Sharing Alumni. Menarik. Menurut saya kegiatan seperti ini memang perlu diperbanyak dan dikemas lebih luas. Tujuannya seperti saya sebut di atas: memberi visi kepada mahasiswa, <em>update</em> kurikulum kampus agar lebih selaras dengan dunia industri, dan menjalin silaturahmi yang lebih kuat.</p>
<p>Buat teman-teman dari IF, ada yang mau berpendapat?</p>
<p>Oh iya, thread di milis tadi akhirnya tetap penuh <em>junk</em>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://brahmasta.net/2008/07/22/alumni-kampus-dan-industri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kuliah di Informatika Tidak Berguna?</title>
		<link>http://brahmasta.net/2007/06/15/kuliah-di-informatika-tidak-berguna/</link>
		<comments>http://brahmasta.net/2007/06/15/kuliah-di-informatika-tidak-berguna/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 Jun 2007 13:18:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Brahmasta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Campus]]></category>
		<category><![CDATA[Education]]></category>
		<category><![CDATA[Technology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://brahmasta.net/2007/06/15/kuliah-di-informatika-tidak-berguna/</guid>
		<description><![CDATA[Saya menemukan sebuah artikel menarik mengenai kuliah di jurusan ilmu komputer. Yah, lebih kurang sama lah sama Teknik Informatika. Kalau banyak yang bilang kuliah di Informatika tidak berguna, karena dapat belajar sendiri, gak mengajarkan sisi praktis, dan sebagainya (yang menyebalkan itu). Coba lihat sudut pandang Leah Culver di link di bawah, mengenai apa yang didapatkannya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya menemukan sebuah artikel menarik mengenai kuliah di jurusan ilmu komputer. Yah, lebih kurang sama lah sama Teknik Informatika. Kalau banyak yang bilang kuliah di Informatika tidak berguna, karena dapat belajar sendiri, gak mengajarkan sisi praktis, dan sebagainya (yang menyebalkan itu). Coba lihat sudut pandang Leah Culver di link di bawah, mengenai apa yang didapatkannya selama kuliah ilmu komputer.</p>
<p><a href="http://www.leahculver.com/2007/05/30/a-computer-science-degree-doesnt-hurt-much/">A Computer Science Degree Doesn&#8217;t Hurt (Much)</a></p>
<p>Jadi, kuliah informatika itu penting! Mungkin mahasiswa STEI 2006 yang bakal menjuruskan diri semester depan dan masih ragu-ragu perlu membaca <em>link</em> di atas.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://brahmasta.net/2007/06/15/kuliah-di-informatika-tidak-berguna/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>24</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Izza dan Pendidikan Indonesia</title>
		<link>http://brahmasta.net/2007/06/05/izza-dan-pendidikan-indonesia/</link>
		<comments>http://brahmasta.net/2007/06/05/izza-dan-pendidikan-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Jun 2007 12:21:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Brahmasta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Books]]></category>
		<category><![CDATA[Education]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://brahmasta.net/2007/06/05/izza-dan-pendidikan-indonesia/</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa hari lalu saya membeli sebuah buku berjudul Dunia Tanpa Sekolah. Buku ini ditulis oleh Muhammad Izza Ahsin, seorang penulis berusia 15 tahun asal Salatiga. Buku tersebut bercerita tentang kisah nyata kegelisahan sang penulis yang merasa &#8220;terperangkap&#8221; dalam sekolah formal, pendidikan Indonesia. Izza sendiri akhirnya memutuskan untuk meninggalkan pendidikan formal, pada akhir kelas tiga SMP, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://brahmasta.net/wp-content/uploads/2007/06/dsc00270.JPG" title="dsc00270.JPG"><img src="http://brahmasta.net/wp-content/uploads/2007/06/dsc00270.thumbnail.JPG" title="dsc00270.JPG" alt="dsc00270.JPG" align="left" /></a>Beberapa hari lalu saya membeli sebuah buku berjudul <em>Dunia Tanpa Sekolah</em>. Buku ini ditulis oleh Muhammad Izza Ahsin, seorang penulis berusia 15 tahun asal Salatiga. Buku tersebut bercerita tentang kisah nyata kegelisahan sang penulis yang merasa &#8220;terperangkap&#8221; dalam sekolah formal, pendidikan Indonesia.</p>
<p>Izza sendiri akhirnya memutuskan untuk meninggalkan pendidikan formal, pada akhir kelas tiga SMP, di saat Ujian Akhir Nasional tinggal tiga bulan lagi. Hal ini dikarenakan ia telah memiliki cita-cita sendiri, yakni penulis, dan tidak nyaman dengan sistem pendidikan Indonesia. Pendidikan negeri ini menurutnya tidak memberikan manfaat apa-apa. Izza sendiri bukannya seorang manusia yang tidak suka belajar. Dia sangat mencintai aktivitas itu. Di rumahnya ada lebih kurang enam ratus koleksi buku. Dia sangat senang membaca. Pemikirannya mengenai pendidikan Indonesia yang tidak memberi manfaat tersebut justru semakin ia rasakan karena banyak membaca buku-buku pendidikan.</p>
<p>Jangan pula ragukan niatnya untuk menjadi penulis, draft novel pertamanya memiliki ketebalan 364 halaman. Di luar apakah tulisan itu bagus atau tidak, itu menunjuukkan kemauan yang sangat besar.</p>
<p>Membaca buku ini membawa kita mengikuti kehidupan Izza dari sejak bangku SD, di mana dia sangat bergairah pada pelajaran sastra dikarenakan gurunya membuat siswanya aktif berpartisipasi di dalam kelas, konflik keluarga yang dialaminya sebagai perlawanan terhadap keinginan mengundurkan diri dari sekolah, dan bagaimana ia menghadapi dunia setelah keinginannya disetujui orangtua dan benar-benar keluar dari sekolah.</p>
<p>Apakah pendidikan kita memang sedemikian jeleknya, sampai seseorang yang menyukai aktivitas tersebut harus mengundurkan diri?</p>
<p><span id="more-162"></span>Ada banyak aspek yang dilihat Izza dalam buku ini. Diantaranya materi pelajaran yang terlalu banyak dan tidak perlu, metode pengajaran yang  membosankan dan tidak menarik dari guru (misal: mendiktekan muridnya mencatat sepanjang jam pelajaran), tingkah laku guru yang menjatuhkan mental siswa (misalnya: menjelek-jelekkan siswa karena tidak bisa mengerjakan soal di depan kelas), dan pola pikir masyarakat kita untuk sekolah setinggi-tingginya lalu kerja (ini diceritakan melalui neneknya yang sangat bangga kalau keluarganya sekolah dan lulus lalu bekerja jadi pegawai negeri).</p>
<p>Memang pendidikan kita tampak menyedihkan kalau kita membaca buku itu. Contoh saja, bagaimana seorang guru bisa mengatakan kata-kata berikut kepada siswanya, ketika sang siswa tidak bisa mengerjakan soal di depan.</p>
<blockquote><p>&#8220;Bapak heran kenapa ada anak seperti Dedi. Ibunya dulu <em>ngidam</em> apa ya? Kok bisa melahirkan anak seperti ini?&#8221;</p></blockquote>
<p>Bukan contoh yang baik bukan, untuk seorang guru?</p>
<p>Di luar semua itu, ada hal lain yang juga menarik. Membaca buku ini juga memperkenalkan kita kepada Izza yang begitu keras kepala dalam membenci pendidikan kita. Saya sungguh tidak suka dengan kenaifannya. Mungkin karena dia masih berumur 15 tahun dan merasa sudah banyak membaca buku yang dianggapnya hebat, sistem pendidikan yang telah disusun oleh pemerintah kita, terlepas itu baik atau buruk, langsung dianggap tidak berguna olehnya. Ia seperti tercuci otak dengan buku-buku modern sebangsa Quantum Learning, lantas langsung menutup mata terhadap segala yang berlawanan dengan itu.</p>
<p>Terlepas dari semua itu, saya sangat setuju bahwa memang ada yang salah dengan pendidikan kita. Semua yang disebutkannya entah itu pengajaran yang membosankan, materi yang terlalu banyak, dan pola pikir sekolah lalu kerja merupakan bagian-bagian buruk dari pendidikan kita. Saya juga merasakannya. Mungkin malah kita tidak perlu membahas lagi, karena sudah tahu sama tahu. Saya juga salut dengan keputusannya untuk keluar dari sekolah dikarenakan idealismenya. Dia sangat berani. Apalagi mengingat umurnya yang masih 15 tahun.</p>
<p>Tapi menurut saya sih, saya masih mendapatkan sesuatu dari perjalanan 12 tahun mengenyam pendidikan sekolah, dan sudah empat tahun menjadi mahasiswa. Tidak sesia-sia itu.</p>
<p>Hm, itu pendapat saya, dan tulisan ini banyak mengulas pendapat Izza. Kalau anda sendiri bagaimana?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://brahmasta.net/2007/06/05/izza-dan-pendidikan-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>35</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hari Pendidikan Nasional</title>
		<link>http://brahmasta.net/2007/05/02/hari-pendidikan-nasional/</link>
		<comments>http://brahmasta.net/2007/05/02/hari-pendidikan-nasional/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 May 2007 13:42:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Brahmasta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Education]]></category>
		<category><![CDATA[Events]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesiana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://brahmasta.net/2007/05/02/hari-pendidikan-nasional/</guid>
		<description><![CDATA[Apa kabar pendidikan di Indonesia? Tidak semua masyarakat kita merasakan pendidikan yang layak. Namun kontrasnya, tidak semua orang-orang beruntung yang berhasil mengenyam pendidikan memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya untuk membentuk diri menjadi seorang manusia terdidik. Apa kabar para pejuang pendidikan Indonesia? Kami masih membutuhkanmu untuk membuka mata kami dengan balasan tak seberapa. Anda memang pahlawan tanpa tanda [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Apa kabar pendidikan di Indonesia?</p>
<p>Tidak semua masyarakat kita merasakan pendidikan yang layak. Namun kontrasnya, tidak semua orang-orang beruntung yang berhasil mengenyam pendidikan memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya untuk membentuk diri menjadi seorang manusia terdidik.</p>
<p>Apa kabar para pejuang pendidikan Indonesia?</p>
<p>Kami masih membutuhkanmu untuk membuka mata kami dengan balasan tak seberapa. Anda memang pahlawan tanpa tanda jasa.</p>
<p>Selamat Hari Pendidikan Nasional!</p>
<p>Semoga tidak para hari ini saja kita mengingat bahwa pendidikan itu penting.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://brahmasta.net/2007/05/02/hari-pendidikan-nasional/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seminar atau Promosi?</title>
		<link>http://brahmasta.net/2007/05/02/seminar-atau-promosi/</link>
		<comments>http://brahmasta.net/2007/05/02/seminar-atau-promosi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 May 2007 02:51:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Brahmasta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Education]]></category>
		<category><![CDATA[Events]]></category>
		<category><![CDATA[Life]]></category>
		<category><![CDATA[Opinion]]></category>
		<category><![CDATA[Technology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://brahmasta.net/2007/05/02/seminar-atau-promosi/</guid>
		<description><![CDATA[Kemarin, saya mengikuti sebuah seminar yang diadain Kedutaan Besar Australia. Judulnya IT Job Myth, 21st Century Career in IT. Saya datang bersama beberapa teman, ada Ridwan, Yudi, Miri, Ronny, Febrian, Aulia, dan Helen. Kami juga ditemani oleh Kaprodi Informatika, Pak Sukrisno. Kok saya bisa ikut? Kebetulan waktu itu ada email yang nawarin delapan pendaftar pertama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kemarin, saya mengikuti sebuah seminar yang diadain Kedutaan Besar Australia. Judulnya <em>IT Job Myth, 21st Century Career in IT</em>. Saya datang bersama beberapa teman, ada Ridwan, <a href="http://udhee.wordpress.com/">Yudi</a>, Miri, Ronny, <a href="http://febrianaris.wordpress.com">Febrian</a>, <a href="http://www.aulia-ra.org/">Aulia</a>, dan Helen. Kami juga ditemani oleh Kaprodi Informatika, Pak Sukrisno. Kok saya bisa ikut? Kebetulan waktu itu ada email yang nawarin delapan pendaftar pertama buat ikut cuma-cuma seminar ini. Iseng-iseng berhadiah, saya pun daftar aja, setelah diajakin Miri.</p>
<p>Ketika mendengar judul dari seminar itu pertama kali, saya punya ekspektasi tinggi. Saya membayangkan bakal ada sebuah pencerdasan kepada saya tentang mitos-mitos pekerja IT dan kemampuan apa saja yang harus dimiliki oleh orang IT saat ini. Terus saya membayangkan juga bakal ada gambaran <em>trend</em> perkembangan IT di masa depan seperti apa.</p>
<p>Tapi ternyata itu berlebihan.</p>
<p><span id="more-147"></span>Jadi sebenarnya apa yang terjadi? Kemarin itu adalah sebuah seminar yang mengundang mahasiswa-mahasiswa IT dari berbagai kampus di Indonesia. Ada dari UI, Maranatha, Budi Luhur, banyak deh. Entah ada berapa warna jas almamater di sana. Kami disuguhkan dua buah presentasi. Emang ada sih konten presentasi yang nyenggol-nyenggol ke arah judulnya, tapi sedikit.</p>
<p>Presentasi pertama adalah dari seorang Doktor dari <a href="http://www.bond.edu.au/">Bond University Australia</a>, mengenai <em>IT Job Myth</em> ini. Slide presentasinya dilengkapi dengan gambar-gambar dan logo universitas tersebut. Tadinya sih saya pikir yah mungkin karena dia dari sana. Tapi tiba-tiba pada akhir presentasi, dia bercerita tentang bagaimana universitasnya menyelesaikan masalah-masalah yang dia ceritakan. Pada saat itu saya masih berpikir wajar, mungkin sekalian promosi.</p>
<p>Presentasi kedua disajikan oleh mahasiswa Indonesia yang melakukan studi di Australia. Dan betapa kagetnya saya ketika tahu bahwa yang dia presentasikan itu adalah bagaimana dia kuliah di Bond University ini! Mulai dari berapa hari kuliah di sini, akomodasinya gimana, fasilitas-fasilitas di Bond University seperti apa, tempat wisata di dekat situ apa aja, dan lain-lain. Dia menceritakan betapa &#8220;wah&#8221;-nya kuliah di sana. Promosi banget. Promosi tentang bagaimana kita bisa menjalani &#8220;hidup enak&#8221; di sana. Tidak ada penjelasan dari sisi akademis sama sekali mengenai apa yang diajarkan, penelitian apa aja yang sedang berjalan di sana, atau apapun deh yang berbau akademis. Padahal dia mestinya tahu kan kalo penontonnya  mahasiswa IT semua?</p>
<p>Total jendral, seluruh acara berlangsung sekitar dua jam lebih. Mulai jam 9 sampai jam 11 lewat. Ada sesi tanya jawabnya yang anehnya cuma 15 menit. Udah gitu, moderator sesi tanya jawabnya menasehati kami untuk lebih banyak bertanya sebelum langsung menutup acara tanya jawab. Jadi kapan mau nanya? Setelah tanya jawab, acara terakhir kami dapat sedikit makanan dan minuman dalam sesi acara yang disebut <em>Morning Tea</em>. Habis itu pulang deh.</p>
<p>Jadi apa aja yang saya dapet dari materi IT Job Myth ini? Beberapa yang saya inget sih,</p>
<ul>
<li>Saat ini perkembangan IT kembali meningkat setelah kejatuhan era dotcom pada sekitar tahun 2000, yang membuat orang berpikir bahwa IT tidak penting. Perkembangan ini tidak akan mengalami kejatuhan lagi, karena pendekatannya berbeda. Jika pada era dotcom tersebut, bisnis didasarkan pada teknologi apa yang muncul dan dikembangkan, maka saat ini teknologi yang dikendalikan oleh bisnis. Jadi teknologi besar penggunaannya karena bisnis butuh itu. Makanya tidak akan sampai terjadi di mana teknologi canggih dijual, sementara ga ada yang bisa dan perlu memakainya.</li>
<li>Menjadi pekerja IT itu gak selalu terlibat dengan pembangunan dan pengembangan perangkat lunak. Saat ini jenis pekerjaan IT semakin meluas. Contoh yang disebut adalah Customer Relationship Manager, yang mengelola hubungan dengan pelanggan, berkaitan dengan penggunaan CRM di perusahaannya.</li>
<li>Ada beberapa hal yang perlu dipelajari sebab akan banyak digunakan di masa datang, beberapa yang saya inget sih ada Knowledge Management, IT Infrastructure, dan terakhir Business Process. Dia menyebut bahwa orang IT sangat perlu memahami apa itu proses bisnis dan bagaimana itu berjalan.</li>
</ul>
<p>Itulah beberapa yang saya ingat dari materi kemarin. Lumayan sih, jadi nambah wawasan, tapi tetap menyebalkan karena seperti ada &#8220;penipuan&#8221; di sana. Jadi moralnya, kalo bikin seminar atau promosi, jelasin sebenarnya tujuan acaranya apa, sehingga penonton tidak salah presepsi. Orang mengekspektasi ada pembahasan ilmiah, ternyata dapetnya promosi studi ke Australia. Cuma satu universitas lagi.</p>
<p>Btw, informasi tambahan, kemarin kan acaranya berlangsung di Kedubes Australia di Jakarta. Prosedur pemeriksaan untuk masuk ke sana itu ketat banget. Mulai dari minta KTP, pemeriksaan tas, sampai ada pengambilan DNA (lewat <em>scan</em> tangan, ini kata Yudi sih..). Temboknya juga berlapis-lapis. Kadang saya berpikir mereka seperti tinggal di penjara. Tapi belakangan saya sadar sih, mereka wajar takut, soalnya pernah dibom tahun 2004 dulu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://brahmasta.net/2007/05/02/seminar-atau-promosi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
