Archives for category: Football

Pertandingan Belanda dan Spanyol tadi pagi masih menyisakan bekas di kepala. Sebuah pertandingan besar panjang yang membutuhkan 120 menit untuk memutuskan apakah tim favorit pilihan seekor gurita dan (kebanyakan) wanita-wanita di seluruh dunia berhasil menjuarai piala dunia untuk pertama kalinya.

Pagi hari pasca final, pembicaraan mengenai final Piala Dunia tidak ada habisnya. Barisan komentar di Twitter ramai masih tetap ramai. Ada yang mungkin kecewa karena tim oranye kalah hingga terduduk lesu di parkiran kafe tempat semalam suntuk nonton bareng, ada juga yang gembira karena tim favoritnya berhasil memenangkan pertandingan, meski pemain favoritnya jarang bermain selama Piala Dunia, dan di sisi lain mungkin juga ada yang sedih karena alasan lain, yakni spekulasinya menjagokan Belanda ternyata tidak menguntungkan, menghasilkan rugi jutaan rupiah.

(more…)

Tadi malam saya nonton acara pembukaan EURO 2008 di RCTI. Ada sejumlah artis besar manggung, meramaikan dibukanya turnamen sepakbola ini.

Rasanya aneh. Waktu Piala Asia 2007 yang Indonesia jadi salah satu tuan rumahnya saja, stasiun televisi tidak mengadakan pesta gegap gempita seperti tadi malam. Bukan hanya stasiun televisi, secara umum publikasinya menyedihkan. Saya nyari tiket saja sempat susah. Kok rasanya tidak adil aja ya. Kita nggak all out buat negara sendiri. Tapi malah merayakan besar-besaran untuk sesuatu yang bahkan tidak ada hubungannya sama kita selain hiburan, dan keuntungan buat stasiun televisi tentunya.

Protes aja nih saya. Jadi ingat postingan saya jaman dahulu.

Lalu saya pun mencoba berpikir dari sudut pandang lain.

Ah, sepakbola bukan masalah nasionalisme kok. Ini cuma hiburan semata, sama seperti nonton Liga Champion, cuma bedanya yang dibela adalah negara orang. Begitu bukan? Penontonnya juga jauh lebih banyak dari sekedar penonton tim nasional. Makanya sambutannya lebih meriah.

Yang harus dinikmati itu keindahan permainan sepakbolanya.

Mari kita nikmati pesta sepakbola ini!

Orang miskin di Indonesia dilarang tiga hal: sekolah, sakit, dan nonton Liga Inggris!

Kalimat di atas menyita perhatian saya sejenak waktu membaca SMS pembaca dari Tabloid Bola minggu lalu. Seperti telah kita ketahui bersama, buat nonton liga sepakbola paling populer di dunia itu penduduk Indonesia harus merogoh Rp.200.000,00 sebulan. Info lebih lanjut ada di penjelasan teman saya ini.

Udah seminggu saya kehilangan liga Inggris. Saya ga lihat Manchester United dikalahkan Manchester City, aksi bodoh Jens Lehmann, Kartu Merah Ronaldo, gol pertama Torres, dan lain-lain. Semuanya saya nikmati dari media lain selain TV. Sedih sih, tapi ada banyak hal menarik lain ternyata selain Liga Inggris.

(more…)