Archives for category: General

Satu hal yang penting dari blog adalah, harus diupdate berkala. Pertama, karena proses belajar tidak boleh berhenti (halah..). Kedua, untuk mendukung pernyataan bahwa blog bukan trend sesaat ;) . Ketiga -yang terakhir, karena saya sudah membayar hostingan blog ini untuk satu tahun ;) .

Sudah sebulan saya tidak update blog ini. Banyak yang terjadi. Tapi tidak sempat ditulis di blog ini. Jadi, saya tulis aja little update ini.

Saya sekarang sudah bukan warga Bandung lagi. Kamar 213 di kosan Sumur Bandung 3, yang telah menjadi tempat tinggal selama 4 tahun (setengah tahun sisanya di kamar 201 :D ) resmi tidak saya huni lagi. Saya malas menambah satu bulan lagi. Sebab kamar itu kebanyakan hanya dipakai buat tidur doang waktu di Bandung. Sementara frekuensi saya ke Bandung rencananya akan saya kurangi mulai bulan ini.

Sekarang fokus saya adalah mencari kerja. Jadi jobseeker lah katanya. Kerjaannya buka email, PCD ITB, JobsDB, Jobstreet, dan seterusnya. Kalo ada lowongan yang menarik, langsung kirim paket CV + cover letter. Entah udah berapa lamaran yang saya kirim. Setelah mengirim, tunggu saja nasib baik menghampiri. Hasilnya? Udah sejumlah interview dan psikotes telah saya jalani. Khusus psikotes, udah sampai hafal gambar seperti apa yang harus dibuat karena keseringan.

Sisanya, tidak ada yang istimewa, atau mungkin ada yang istimewa tapi tidak bisa ditulis ;) .

Ok, semoga blog ini bakal lebih sering saya update deh kedepannya. Saya mau cari inspirasi dulu.

Setiap awal bab pada buku Operating Systems : A Modern Perspective karya G.J Nutt, selalu ada sebuah quote. Sebenarnya penulisan quote ini tidak hanya ada pada buku tersebut. Misalnya buku-buku diktat kuliah Pak Rinaldi, yang punya kata-kata bijak setiap awal bab. Pada buku Operating Systems : A Modern Perspective tersebut ada satu quote yang teringat terus oleh saya, yang mengambil sebagian dari bait di bawah.

“The time has come,” the Walrus said,
“To talk of many things:
Of shoes and ships and sealing-wax
Of cabbages-and kings
And why the sea is boiling hot
And whether pigs have wings.”

Sebenarnya saya inget quote itu karena ada salah seorang teman yang dijuluki “Walrus” oleh yang lain. Kalo nggak salah penyebabnya adalah waktu lagi rapat dia mendemonstrasikan posisi duduk yang mirip anjing laut. Jadilah kami menjulukinya “Walrus”. Padahal arti walrus sebenarnya bukan anjing laut. Walrus itu beruang laut.

Kemarin saya mencari sumber yang berkaitan dengan quote tersebut. Ternyata tulisan itu merupakan sebuah puisi berjudul “The Walrus and The Carpenter” yang dikarang oleh Lewis Caroll, pada buku Through the Looking-Glass, yang dipublikasikan pada bulan Desember tahun 1871. Sang penulis asal Inggris ini sendiri memiliki nama asli Charles Lutwidge Dodgson. Salah satu karya lainnya yang terkenal adalah Alice’s Adventures in Wonderland.

Tulisan lengkap dari puisi The Walrus and the Carpenter ini dapat dilihat di sini.

glass21.gif

Ilustrasi The Walrus and the Carpenter

(more…)

Kemarin, saya menghabiskan banyak waktu untuk olahraga. Paginya, lari pagi di sabuga sama. Sore, main tenis. Malemnya, diajakin lagi main biliar. Orang-orangnya hampir sama loh. Dasar.. kalo udah libur gini nih kerjaannya.

Capek? Pasti. Pagi ini rasanya udah mau hibernasi. Sebenarnya ada acara main bulutangkis juga, tapi udah gak kuat, jadi tewas aja deh. Menikmati empuknya kasur.

Satu hal yang baru saya sadari kemarin adalah untuk berolahraga kita harus mengeluarkan uang. Salah satunya adalah untuk menyewa tempat. Untuk bermain tenis, sewa lapangannya dua puluh ribu rupiah per dua jam. Untuk main biliar, perjamnya lima belas ribu. Buat main tenis, kita butuh bola, dan bola itu lumayan loh harganya kalo beli. Kemarin saya sempat uring-uringan karena bolanya hampir hilang banyak. Untungnya pengguna lapangan sebelah baik. Mereka mengembalikan bola-bola kami.

Untuk main futsal juga, misalnya, harus keluar duit sekitar seratus ribu untuk nyewa lapangan. Biasanya anak-anak patungan masing-masing 5000,00-10000,00 rupiah, tergantung dengan jumlah orang yang datang.

Saya memikirkannya sambil mengingat-ingat masa kecil saya di Rumbai dan Duri, ‘kampung’ saya. Di mana semua fasilitas olahraga ada dan gratis. Enak memang punya orangtua kerja di perusahaan asing. Kehidupannya tidak nyata seperti sekarang ini. Keluarga pegawai tinggal di sebuah lingkungan perumahan yang biasa disebut camp. Di sana setiap pegawai (yang mau) memiliki rumah. Di camp tersebut, tersedia seluruh fasilitas olahraga. Ada lapangan tenis, bowling, basket, renang, softball, bahkan golf, yang dapat digunakan dengan gratis (kecuali bowling, yang bayar 100 perak per game kalo gak salah). Belum lagi lapangan sepakbola yang hampir selalu ada di setiap sekolah (SLTP, SLB, SMU Cendana, dan American School).

Hanya saja masalahnya kalau di sana beda. Saya susah nemuin teman-teman yang bisa diajak bermain. Frekuensi penggunaan lapangan yang paling tinggi adalah basket. Saya nggak suka main basket. Tiga olahraga yang paling saya minati itu bulutangkis, tenis, dan sepakbola.

(more…)