Archives for category: Indonesiana

Pertandingan Belanda dan Spanyol tadi pagi masih menyisakan bekas di kepala. Sebuah pertandingan besar panjang yang membutuhkan 120 menit untuk memutuskan apakah tim favorit pilihan seekor gurita dan (kebanyakan) wanita-wanita di seluruh dunia berhasil menjuarai piala dunia untuk pertama kalinya.

Pagi hari pasca final, pembicaraan mengenai final Piala Dunia tidak ada habisnya. Barisan komentar di Twitter ramai masih tetap ramai. Ada yang mungkin kecewa karena tim oranye kalah hingga terduduk lesu di parkiran kafe tempat semalam suntuk nonton bareng, ada juga yang gembira karena tim favoritnya berhasil memenangkan pertandingan, meski pemain favoritnya jarang bermain selama Piala Dunia, dan di sisi lain mungkin juga ada yang sedih karena alasan lain, yakni spekulasinya menjagokan Belanda ternyata tidak menguntungkan, menghasilkan rugi jutaan rupiah.

(more…)

Sedikit uneg-uneg dan pemikiran dari hasil pemilu hari ini.

Saya yakin semua orang Indonesia minimal memiliki kepercayaan di dalam hatinya bahwa pasangan capres no. 2, Susilo Bambang Yudhoyono – Budiono memiliki peluang terbesar untuk memenangi perebutan suara di pemilu presiden  hari ini.

Kalau kita menilik hasil quick count dari keempat lembaga survei hari ini, kepercayaan di atas semakin terbukti kebenarannya. SBY-Budiono meraih suara lebih dari 50% di keempat hasil quick count tersebut. Bahkan tiga di antaranya mencapai 60%. Megawati-Prabowo menduduki peringkat kedua dengan suara sebanyak 25%, sementara JK-Wiranto di tempat ketiga dengan kisaran suara 12-15%.

Mengherankan. In my humble opinion, hasil ini tidak mempresentasikan ekspektasi pribadi. Bagi saya. Mega-Prabowo bukan calon favorit. Saya rasa kita semua tahu bagaimana kualitasnya ‘terbanting’ di seluruh debat pilpres. SBY-Budiono memang favorit, tapi saya tidak melihat pasangan ini harus menang telak mengingat beberapa kali kampanyenya tidak mencerminkan kenyataan sebenarnya (dengan memaparkan hasil pemerintahan seolah-olah sukses) dan ulah tim suksesnya yang tidak simpatik. Di tengah situasi seperti itu, saya memandang JK-Win seperti sesuatu yang fresh di tengah carut marut contoh yang lain itu, meski banyak kekurangannya. Kampanyenya menarik, dia bisa menyelesaikan masalah-masalah dengan solusi yang praktis. Bukan konseptual dan mengawang-awang seperti calon lainnya. Dari hal-hal yang saya lihat itu, rasanya kok hasil calon Mega-Prabowo dan SBY-Budiono terasa terlalu tinggi, dan calon JK-Wiranto terlalu kecil.

Hasil yang mengherankan ini bagi saya seolah didukung dengan masalah-masalah yang muncul beberapa hari menjelang pemilu hingga hari ini. Kadang dalam hati ini bertanya-tanya. Apakah ada kecurangan dalam proses pemilihan kali ini? Apakah ada rencana besar yang tersembunyi di balik pemilu yang bersih dan demokratis?

Semua itu bisa membawa kita ke dalam kesimpulan kalau pemilu ini tidak sempurna. Ada pelanggaran terjadi, ada kecurangan terjadi. KPU sebagai penyelenggara juga tidak sempurna karena masih menyisakan masalah DPT hingga detik-detik terakhir.

Tapi di luar itu semua, saya cukup takjub dengan pemilu tahun ini. Sebuah kemajuan yang luar biasa nggak sih? Coba saja bandingkan dengan pemilu tahun 2004 kemarin. Sekarang ada debat capres.  Quick count dilakukan beberapa lembaga survei dan bisa menjadi acuan. Kalau kita melihat ke pemilu legislatif, kini setiap orang punya hak untuk mencalonkan diri dan mengkampanyekan dirinya untuk menjadi wakil rakyat. Selain itu ada fenomena menarik juga di dunia maya dengan hadirnya Politikana, yang kini jadi sarapan saya setiap hari.

Negeri ini seperti sedang belajar, dengan berawal dari sesuatu yang awalnya tidak sempurna, penuh tambal sulam, dihadiri ketidakkompetenan, tapi on track. Pelan-pelan saya merasa proses ini akan bisa membawa Indonesia ke negara yang lebih demokratis. Asal kualitas prosesnya tidak jalan di tempat.

OK, kita boleh optimis melihat demokratisasi. Tapi hal lain saya rasa juga penting adalah dukungan ke presiden terpilih. Seperti apapun presidennya, sehebat apapun visi dan misinya, jika tidak ada dukungan dari seluruh elemen pemerintahan dan rakyat, bakal tidak ada artinya. Itu yang saya rasakan ketika debat capres kemarin. Calon-calon presiden kita itu punya konsep-konsep yang bagus untuk menyelesaikan masalah-masalah bangsa ini. Bahkan jika tidak terlalu bagus, minimal pasti ada perbaikan jika semuanya berjalan dengan baik. Tapi sayangnya, semuanya masih dalam tataran konsep. Siapa yang menjamin bisa berjalan benar saat eksekusinya?

Well.. that’s all. Selamat untuk SBY-Budiono karena memenangi quick count hari ini. Siapapun presiden yang terpilih, mari kita dukung dengan segenap hati. Karena negara kita tidak akan maju kalau kita tidak bahu membahu membangun negeri ini.

Sekian uneg-unegnya. :)

taksi_1Kalau lagi naik taksi sendirian dan menjalani rute yang jauh, biasanya saya akan mengajak sopir taksi tersebut ngobrol ngalor ngidul. Mulai dari hal-hal yang sepele sampai serius. Biasanya yang keluar itu curhatan, kisah hidupnya, atau pandangan politik. Sampai sekarang, saya masih ingat beberapa yang menarik.

Sampel pertama adalah seorang supir taksi yang sangat uzur. Ia mengeluh kepada saya atas kesulitan ekonomi yang dia alami. Kemudian dia membandingkan masa-masa sekarang dengan orde baru dan orde lama. Dia tampaknya begitu bangga dengan Soekarno. Secara detil dia jelaskan bagaimana kehidupan masa kecilnya saat Soekarno masih berkuasa. Makan siang dan susu gratis di sekolah, sekolah libur kalau dia datang sepulang dari luar negeri untuk menyambut dia datang. Kemudian dia juga bercerita bahwa Soekarno-lah presiden terbaik, yang benar-benar memperjuangkan namanya rakyat. Terutama rakyat kecil. Soekarno tidak mau membuat rakyatnya menderita.

Sampel kedua, sopir taksi flamboyan. Dia punya tujuh istri dan berencana menambah lagi. Dia punya usaha sampingan penyewaan mobil, dan secara berulang-ulang menjelaskan kepada saya bahwa itu sangat menguntungkan. Kami sempat melakukan perhitungan berapa yang dia dapatkan sebulan dari bisnisnya itu. Satu hal yang cukup aneh adalah profesi sampingannya adalah penyanyi dangdut. Dia sempat menanyakan kepada saya apakah sudah pernah melihat video klipnya, dan sampai saya turun dari taksi pun, dia mengingatkan saya untuk melihat video klipnya.

(more…)