<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>/brahmasta/journal &#187; Indonesiana</title>
	<atom:link href="http://brahmasta.net/category/indonesiana/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://brahmasta.net</link>
	<description>What is most personal is most general – Carl Rogers</description>
	<lastBuildDate>Tue, 13 Jul 2010 13:49:17 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Indonesia dan Fanatisme Sepakbola</title>
		<link>http://brahmasta.net/2010/07/13/indonesia-dan-fanatisme-sepakbola/</link>
		<comments>http://brahmasta.net/2010/07/13/indonesia-dan-fanatisme-sepakbola/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Jul 2010 17:50:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Brahmasta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Football]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesiana]]></category>
		<category><![CDATA[Opinion]]></category>
		<category><![CDATA[Rambling Thoughts]]></category>
		<category><![CDATA[fans]]></category>
		<category><![CDATA[football]]></category>
		<category><![CDATA[world cup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://brahmasta.net/?p=613</guid>
		<description><![CDATA[Pertandingan Belanda dan Spanyol tadi pagi masih menyisakan bekas di kepala. Sebuah pertandingan besar panjang yang membutuhkan 120 menit untuk memutuskan apakah tim favorit pilihan seekor gurita dan (kebanyakan) wanita-wanita di seluruh dunia berhasil menjuarai piala dunia untuk pertama kalinya. Pagi hari pasca final, pembicaraan mengenai final Piala Dunia tidak ada habisnya. Barisan komentar di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://brahmasta.net/wp-content/uploads/2010/07/3734770583_6f5e9b1ec3_88.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-617" title="3734770583_6f5e9b1ec3_88" src="http://brahmasta.net/wp-content/uploads/2010/07/3734770583_6f5e9b1ec3_88.jpg" alt="" width="440" height="293" /></a>Pertandingan Belanda dan Spanyol tadi pagi masih menyisakan bekas di kepala. Sebuah pertandingan besar panjang yang membutuhkan 120 menit untuk memutuskan apakah tim favorit pilihan seekor gurita dan (kebanyakan) wanita-wanita di seluruh dunia berhasil menjuarai piala dunia untuk pertama kalinya.</p>
<p>Pagi hari pasca final, pembicaraan mengenai final Piala Dunia tidak ada habisnya. Barisan komentar di Twitter ramai masih tetap ramai. Ada yang mungkin kecewa karena tim oranye kalah hingga terduduk lesu di parkiran kafe tempat semalam suntuk nonton bareng, ada juga yang gembira karena tim favoritnya berhasil memenangkan pertandingan, meski pemain favoritnya jarang bermain selama Piala Dunia, dan di sisi lain mungkin juga ada yang sedih karena alasan lain, yakni spekulasinya menjagokan Belanda ternyata tidak menguntungkan, menghasilkan rugi jutaan rupiah.</p>
<p><span id="more-613"></span>Orang Indonesia benar-benar menggilai sepakbola. Tapi seperti halnya yang terjadi di bidang-bidang lain seperti teknologi dan hiburan, kita hanya mampu menempatkan diri kita sebagai konsumer. Hebatnya, kita adalah konsumer setia dan fanatik. Misalnya di sepakbola, kita begitu hafal pemain-pemain kelas dunia yang berlaga di piala dunia, mengenakan emblem bendera negara orang di profile picture, membeli jersey tim nasional negara lain yang harganya bisa mencapai setengah juta, tidak tidur semalaman menyaksikan pertandingan hingga telat masuk kerja, serta fasih memberikan analisis dan prediksi pertandingan (sampai ada layar LCD sendiri yang bisa mengeluarkan formasi pemain sambil menerangkan analisisnya). Bahkan kemenangan negara lain (yang kita dukung) bisa sampai dirayakan dengan konvoi di jalanan, yang selanjutnya berlanjut ke tawuran!</p>
<p>Saya terus terang heran. Seperti halnya yang terjadi <a href="http://brahmasta.net/2006/07/02/tangisi-negeri-kita-sendiri/">empat tahun lalu</a>. Sebegitu besarnya fanatisme kita terhadap sepakbola, meski semua pihak yang berlaga di sana,bisa dibilang tidak ada kaitannya dengan kita. Justru untuk hal-hal yang benar-benar berkaitan dengan kita malah tertutup dengan adanya event besar ini.</p>
<p>Daripada menjadikan Piala Dunia ajang hura-hura, alangkah baiknya jika Piala Dunia ini menjadi ajang Indonesia untuk berkaca. Ajang  untuk melihat. Melihat bagaimana negara  sekecil Slovakia bisa  menjatuhkan negara dengan sejarah besar seperti  Italia. Ajang untuk  memicu. Memicu kita untuk bersemangat kembali  membangun sepakbola  negeri ini.bukan pembahasan mengenai taktik apa yang dipakai Argentina  atau mengapa Wayne Rooney bermain buruk yang diulas, tapi bagaimana kita  bisa melahirkan talenta-talenta besar sekelas pemain-pemain Korea atau  Jepang, yang bisa mengharumkan bangsa ini. Bagaimana kita bisa belajar  bahwa untuk mengadakan event sebesar Piala Dunia, bidding nekad tanpa  sokongan dana dan infrastruktur yang tidak memadai tidaklah cukup. Bagaimana pentingnya kematangan kompetisi liga dan kontribusi pemain nasional di dalamnya terhadap kualitas tim nasional.</p>
<p>Kita seringkali lupa bahwa kita punya potensi besar dengan jumlah  penduduk yang banyak dan fanatisme terhadap sepakbola yang luar biasa. Fanatisme bisa dilihat dari riuhnya barisan penonton sepakbola di stadion. Boleh dibilang, pendukung fanatik klub-klub Liga Indonesia sudah cukup gila untuk menunjukkan bahwa sepakbola (baca: klub favoritnya) adalah hidupnya. Saya percaya kalau semua orang pasti setuju kalau rakyat Indonesia pasti sangat bangga jika kita benar-benar merealisasikan mimpi berlaga di Piala Dunia. Rasanya seperti naik derajat kebangsawanan di kerajaan sepakbola. Capek juga kan kalau kebanggaan kita yang tehadap partisipasi di Piala Dunia adalah Hindia Belanda di 1938? Nama timnya aja bukan Indonesia.</p>
<p>Ah, saya tiba-tiba jadi idealis begini. Sebenarnya saya sepenuhnya paham bahwa seluruh orang di negeri ini butuh hiburan. Hiburan yang bisa melepaskan dari sulitnya survive di negeri ini.</p>
<p>Namun ketika melihat anak-anak bermain sepakbola dengan gembira di jalanan, menunjukkan skill individu yang luar biasa dengan semangat tinggi membara, saya jadi berpikir, apakah salah negeri ini hingga tidak mampu mengantarkan anak tersebut mengharumkan Indonesia di kancah internasional? Dan cita-cita kita semua untuk menyaksikan skuad merah putih bernyanyi lagu Indonesia raya di ajang Piala Dunia?</p>
<p>* Picture is taken from <a href="http://www.flickr.com/photos/dmahendra/3734770583/">DMahendra&#8217;s Flickr</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://brahmasta.net/2010/07/13/indonesia-dan-fanatisme-sepakbola/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Saatnya Mendukung Hasil Pemilu</title>
		<link>http://brahmasta.net/2009/07/08/saatnya-mendukung-hasil-pemilu/</link>
		<comments>http://brahmasta.net/2009/07/08/saatnya-mendukung-hasil-pemilu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Jul 2009 12:45:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Brahmasta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesiana]]></category>
		<category><![CDATA[pemilu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://brahmasta.net/?p=485</guid>
		<description><![CDATA[Sedikit uneg-uneg dan pemikiran dari hasil pemilu hari ini. Saya yakin semua orang Indonesia minimal memiliki kepercayaan di dalam hatinya bahwa pasangan capres no. 2, Susilo Bambang Yudhoyono – Budiono memiliki peluang terbesar untuk memenangi perebutan suara di pemilu presiden  hari ini. Kalau kita menilik hasil quick count dari keempat lembaga survei hari ini, kepercayaan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sedikit uneg-uneg dan pemikiran dari hasil pemilu hari ini.</p>
<p>Saya yakin semua orang Indonesia minimal memiliki kepercayaan di dalam hatinya bahwa pasangan capres no. 2, Susilo Bambang Yudhoyono – Budiono memiliki peluang terbesar untuk memenangi perebutan suara di pemilu presiden  hari ini.</p>
<p>Kalau kita menilik hasil quick count dari keempat lembaga survei hari ini, kepercayaan di atas semakin terbukti kebenarannya. SBY-Budiono meraih suara lebih dari 50% di keempat hasil quick count tersebut. Bahkan tiga di antaranya mencapai 60%. Megawati-Prabowo menduduki peringkat kedua dengan suara sebanyak 25%, sementara JK-Wiranto di tempat ketiga dengan kisaran suara 12-15%.</p>
<p>Mengherankan. In my humble opinion, hasil ini tidak mempresentasikan ekspektasi pribadi. Bagi saya. Mega-Prabowo bukan calon favorit. Saya rasa kita semua tahu bagaimana kualitasnya ‘terbanting’ di seluruh debat pilpres. SBY-Budiono memang favorit, tapi saya tidak melihat pasangan ini harus menang telak mengingat beberapa kali kampanyenya tidak mencerminkan kenyataan sebenarnya (dengan memaparkan hasil pemerintahan seolah-olah sukses) dan ulah tim suksesnya yang tidak simpatik. Di tengah situasi seperti itu, saya memandang JK-Win seperti sesuatu yang <em>fresh</em> di tengah carut marut contoh yang lain itu, meski banyak kekurangannya. Kampanyenya menarik, dia bisa menyelesaikan masalah-masalah dengan solusi yang praktis. Bukan konseptual dan mengawang-awang seperti calon lainnya. Dari hal-hal yang saya lihat itu, rasanya kok hasil calon Mega-Prabowo dan SBY-Budiono terasa terlalu tinggi, dan calon JK-Wiranto terlalu kecil.</p>
<p>Hasil yang mengherankan ini bagi saya seolah didukung dengan masalah-masalah yang muncul beberapa hari menjelang pemilu hingga hari ini. Kadang dalam hati ini bertanya-tanya. Apakah ada kecurangan dalam proses pemilihan kali ini? Apakah ada rencana besar yang tersembunyi di balik pemilu yang bersih dan demokratis?</p>
<p>Semua itu bisa membawa kita ke dalam kesimpulan kalau pemilu ini tidak sempurna. Ada pelanggaran terjadi, ada kecurangan terjadi. KPU sebagai penyelenggara juga tidak sempurna karena masih menyisakan masalah DPT hingga detik-detik terakhir.</p>
<p>Tapi di luar itu semua, saya cukup takjub dengan pemilu tahun ini. Sebuah kemajuan yang luar biasa nggak sih? Coba saja bandingkan dengan pemilu tahun 2004 kemarin. Sekarang ada debat capres.  Quick count dilakukan beberapa lembaga survei dan bisa menjadi acuan. Kalau kita melihat ke pemilu legislatif, kini setiap orang punya hak untuk mencalonkan diri dan mengkampanyekan dirinya untuk menjadi wakil rakyat. Selain itu ada fenomena menarik juga di dunia maya dengan hadirnya <a href="http://politikana.com">Politikana</a>, yang kini jadi sarapan saya setiap hari.</p>
<p>Negeri ini seperti sedang belajar, dengan berawal dari sesuatu yang awalnya tidak sempurna, penuh tambal sulam, dihadiri ketidakkompetenan, tapi on track. Pelan-pelan saya merasa proses ini akan bisa membawa Indonesia ke negara yang lebih demokratis. Asal kualitas prosesnya tidak jalan di tempat.</p>
<p>OK, kita boleh optimis melihat demokratisasi. Tapi hal lain saya rasa juga penting adalah dukungan ke presiden terpilih. Seperti apapun presidennya, sehebat apapun visi dan misinya, jika tidak ada dukungan dari seluruh elemen pemerintahan dan rakyat, bakal tidak ada artinya. Itu yang saya rasakan ketika debat capres kemarin. Calon-calon presiden kita itu punya konsep-konsep yang bagus untuk menyelesaikan masalah-masalah bangsa ini. Bahkan jika tidak terlalu bagus, minimal pasti ada perbaikan jika semuanya berjalan dengan baik. Tapi sayangnya, semuanya masih dalam tataran konsep. Siapa yang menjamin bisa berjalan benar saat eksekusinya?</p>
<p>Well.. that’s all. Selamat untuk SBY-Budiono karena memenangi quick count hari ini. Siapapun presiden yang terpilih, mari kita dukung dengan segenap hati. Karena negara kita tidak akan maju kalau kita tidak bahu membahu membangun negeri ini.</p>
<p>Sekian uneg-unegnya. <img src='http://brahmasta.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://brahmasta.net/2009/07/08/saatnya-mendukung-hasil-pemilu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Hidup Supir-Supir Taksi</title>
		<link>http://brahmasta.net/2009/04/14/kisah-hidup-supir-supir-taksi/</link>
		<comments>http://brahmasta.net/2009/04/14/kisah-hidup-supir-supir-taksi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Apr 2009 22:04:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Brahmasta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesiana]]></category>
		<category><![CDATA[inspiration]]></category>
		<category><![CDATA[Life]]></category>
		<category><![CDATA[taxi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://brahmasta.net/?p=437</guid>
		<description><![CDATA[Kalau lagi naik taksi sendirian dan menjalani rute yang jauh, biasanya saya akan mengajak sopir taksi tersebut ngobrol ngalor ngidul. Mulai dari hal-hal yang sepele sampai serius. Biasanya yang keluar itu curhatan, kisah hidupnya, atau pandangan politik. Sampai sekarang, saya masih ingat beberapa yang menarik. Sampel pertama adalah seorang supir taksi yang sangat uzur. Ia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright size-medium wp-image-439" title="taksi_1" src="http://brahmasta.net/wp-content/uploads/2009/04/taksi_1-300x286.jpg" alt="taksi_1" width="210" height="200" />Kalau lagi naik taksi sendirian dan menjalani rute yang jauh, biasanya saya akan mengajak sopir taksi tersebut ngobrol ngalor ngidul. Mulai dari hal-hal yang sepele sampai serius. Biasanya yang keluar itu curhatan, kisah hidupnya, atau pandangan politik. Sampai sekarang, saya masih ingat beberapa yang menarik.</p>
<p>Sampel pertama adalah seorang supir taksi yang sangat uzur. Ia mengeluh kepada saya atas kesulitan ekonomi yang dia alami. Kemudian dia membandingkan masa-masa sekarang dengan orde baru dan orde lama. Dia tampaknya begitu bangga dengan Soekarno. Secara detil dia jelaskan bagaimana kehidupan masa kecilnya saat Soekarno masih berkuasa. Makan siang dan susu gratis di sekolah, sekolah libur kalau dia datang sepulang dari luar negeri untuk menyambut dia datang. Kemudian dia juga bercerita bahwa Soekarno-lah presiden terbaik, yang benar-benar memperjuangkan namanya rakyat. Terutama rakyat kecil. Soekarno tidak mau membuat rakyatnya menderita.</p>
<p>Sampel kedua, sopir taksi flamboyan. Dia punya tujuh istri dan berencana menambah lagi. Dia punya usaha sampingan penyewaan mobil, dan secara berulang-ulang menjelaskan kepada saya bahwa itu sangat menguntungkan. Kami sempat melakukan perhitungan berapa yang dia dapatkan sebulan dari bisnisnya itu. Satu hal yang cukup aneh adalah profesi sampingannya adalah penyanyi dangdut. Dia sempat menanyakan kepada saya apakah sudah pernah melihat video klipnya, dan sampai saya turun dari taksi pun, dia mengingatkan saya untuk melihat video klipnya.</p>
<p><span id="more-437"></span>Sampel ketiga adalah sopir taksi putus cinta. Ini agak panjang ceritanya, bahkan sampai berbuntut perjalanan saya tambah jauh karena nyasar. Dia cerita kalau dulu sebelumnya sempat bekerja di perusahaan asing dan memperoleh gaji cukup tinggi, sampai bisa beli mobil sendiri. Sayang dia terlibat masalah dengan bosnya hingga dipecat lalu mengalami kesulitan keuangan hingga menjual mobilnya. Dia tidak bercerita kepada orangtuanya mengenai masalah ini, tapi dia cerita ke pacarnya. Repotnya, pacarnya langsung mutusin dia begitu tahu dia sekarang jadi sopir taksi. Untungnya saat dia bercerita ke saya, minggu depannya dia akan menjalani wawancara dengan sebuah perusahaan, dan kata dia sih, kemungkinan besar bakal diterima. Tapi dia bersumpah tidak akan kembali ke pacarnya itu.</p>
<p>Sampel keempat, sopir taksi satu kampung. Pertanyaan standar saat mulai mengajak ngobrol itu adalah daerah asal. Dan ternyata sopir taksi itu besar di Duri! Kampung saya. Si Pak supir ini hidup sekitar tahun 60-an di sana. Berarti dia hidup saat Duri masih benar-benar kota kecil, meski sudah ada Caltex di sana. Dia tinggal di Simpang Padang, dekat sebuah bioskop terkenal di masa itu. Sekarang bioskopnya sudah menjadi ruko. Dia juga bercerita kalau orangtuanya bekerja di Caltex, sama seperti Bapak saya. Tapi sekitar tahun 70-an pensiun. Sudah lama sekali, jauh berbeda dengan Bapak saya yang mulai bekerja tahun 1984.</p>
<p>Sampel terakhir adalah supir taksi yang mengajarkan saya untuk bersyukur. Nah kalau yang ini oke banget. Saya baru malam ini bertemu dengan supir taksi seperti ini dan benar-benar merasa bersyukur bertemu dengannya. Hari ini saya sedang cukup kalut memikirkan hari esok di mana saya mulai bekerja lagi dengan setumpuk pekerjaan yang sudah menanti untuk diselesaikan. Tapi dia datang mengantarkan saya dengan berkali-kali ucapan syukur dan pasrah atas yang dia alami kepada Tuhan. Entah berapa kalimat Alhamdulillah yang keluar, meski yang dia dapat tidak seberapa. Saya mendapat cerita tentang anak-anaknya, berapa penghasilan yang dia dapat dari taksi, dan betapa dia tidak ada masalah dengan itu. Dia percaya Tuhan akan memberikan yang terbaik. Mengagumkan.</p>
<p>Sampel terakhir ini akhirnya yang mengantarkan saya untuk menulis cerita ini. Benar, kita harus bersyukur. Kita kadang tidak tahu kalau apa yang sudah kita sudah dipenuhi berkah. Kita terus melihat ke atas dan merasa kurang, tanpa mensyukuri segala nikmat yang sudah terlalu terbiasa untuk terasa.</p>
<p>Kenapa saya suka mengajak ngobrol mereka? Soalnya saya sering sekali mendapatkan sudut pandang baru setiap kali berbicara dengan mereka. Kadang kasihan juga, dari pagi sampai malam mengarungi jalan raya mengejar setoran. Ada yang ditarget harus mencapai lima ratus ribu rupiah sehari baru bisa dapat 20% dari itu, ada juga yang mendapat sebagian dari berapapun yang dia terima dari penumpang.  Jadi saya salut sama supir taksi sampel terakhir, yang tetap mensyukuri hidupnya.</p>
<p>Jadi itulah cerita yang saya punya dari naik taksi. Entah cerita apa lagi dari mereka yang saya dapat besok-besok. <img src='http://brahmasta.net/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://brahmasta.net/2009/04/14/kisah-hidup-supir-supir-taksi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Golput, Caleg, dan Pemilu Online</title>
		<link>http://brahmasta.net/2009/04/10/golput-caleg-dan-pemilu-online/</link>
		<comments>http://brahmasta.net/2009/04/10/golput-caleg-dan-pemilu-online/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Apr 2009 23:58:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Brahmasta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesiana]]></category>
		<category><![CDATA[caleg]]></category>
		<category><![CDATA[golput]]></category>
		<category><![CDATA[it]]></category>
		<category><![CDATA[online]]></category>
		<category><![CDATA[pemilu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://brahmasta.net/?p=432</guid>
		<description><![CDATA[Tahun ini, saya tidak ada di dalam daftar pemilih. Golput. Saya seharusnya terdaftar sebagai pemilih di Bekasi, karena KTP saya sekarang dari sana. Tapi katanya sih karena waktu disurvei tidak ada di tempat, saya tidak terdaftar. Sementara proses KTP di Jakarta masih butuh sekitar enam bulan lagi buat selesai. Jadilah kami sekeluarga tidak disurvei. Sekeluarga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright size-medium wp-image-433" title="logo_pemilu2009a" src="http://brahmasta.net/wp-content/uploads/2009/04/logo_pemilu2009a-201x300.jpg" alt="logo_pemilu2009a" width="201" height="300" />Tahun ini, saya tidak ada di dalam daftar pemilih. Golput. Saya seharusnya terdaftar sebagai pemilih di Bekasi, karena KTP saya sekarang dari sana. Tapi katanya sih karena waktu disurvei tidak ada di tempat, saya tidak terdaftar. Sementara proses KTP di Jakarta masih butuh sekitar enam bulan lagi buat selesai. Jadilah kami sekeluarga tidak disurvei. Sekeluarga golput.</p>
<p>Kemarin saya dan Bapak saya sempat mendatangi TPS dekat rumah untuk memastikan nama tidak ada di daftar. Kami nggak rela kalau ternyata kami terdaftar dan nggak ada yang memberitahu. Takut surat suaranya dipakai macem-macem. Tapi ternyata memang tidak ada. Kami lalu melihat foto-foto caleg yang ada di sana, dan mengambil kesimpulan tidak salah juga kalau golput. Satu-satunya calon yang kami kenal Wanda Hamidah! Padahal entah sudah berapa hari kami melalui hari-hari dengan berbagai poster, spanduk, dan baligo caleg di sepanjang jalanan. Saya jadi merasa effort semua caleg itu sia-sia.</p>
<p>Ada dua pihak yang salah mungkin di sini. Pertama saya yang apatis, kedua caleg yang tidak komunikatif. Sebagai warganegara, mungkin mestinya saya proaktif. Berusaha mendaftarkan nama saya jauh-jauh hari sebelumnya, mencari info visi dan misi caleg-caleg Jakarta Selatan, dan kemarin datang untuk mencontreng dengan yakinnya. Caleg juga mestinya nggak cuma pasang poster doang. Seorang caleg idealnya menurut saya pasti punya visi yang jelas. Turun dong ke daerah-daerah. Visinya yang menyebar, bukan fotonya. Tulis di selebaran misalnya, atau kalau mau lebih canggih lagi, bikin blog atau minimal Facebook lah. Dari sekian banyak poster yang ada di jalan, sedikit sekali yang menggunakan media internet untuk berkomunikasi. Padahal sebenarnya murah dan efektif. Meski jumlah yang membaca sangat sedikit.</p>
<p><span id="more-432"></span>Bicara mengenai internet, bagaimana kalau pemilu online ya? Kan penghematannya luar biasa tuh. Kita nggak perlu mencetak kertas sebesar-besar dan sebanyak-banyak umat, kirim surat suara ke luar negeri, bikin TPS di daerah-daerah beserta perlengkapannya. Pemilu menghabiskan 21,93 triliun  rupiah dan kalau dibagi-bagi ke jumlah pemilih yang mencapai 171.068.667 orang, setiap pemilih menghabiskan sekitar 128 ribu rupiah. Sangat mahal. Padahal saya rasa membangun sistem yang bisa diakses 170 juta orang tidak  sampai 1 miliar kali ya. Dan baik  di dalam atau luar negeri, semua bisa mengakses. Perhitungan bisa dilakukan oleh sistem. Malam hari hasilnya sudah bisa keluar.</p>
<p>Tapi untuk bermimpi seperti di atas sih saya nggak berani, karena membayangkan kesulitan luar biasa yang akan ditimbulkan. Berapa sih pengguna internet Indonesia? Tahun 2008 pengguna internet sekitar 25 juta, dan  tahun 2010 saja diperkirakan ada 57 juta, berapa 2014? Saya yakin tidak mencapai 200 juta. Belum lagi sebagian besar pengguna internet adalah generasi muda, yang belum memilih. Mensosialisasikan penggunaan komputer dan internet sudah jadi masalah sendiri. Belum infrastrukturnya. Bagaimana memungkinkan pengadaan komputer ke seluruh daerah di negeri yang luas ini? Nggak semua daerah semaju Jakarta, ada komputer di mana-mana. Belum lagi masalah sekuritas. Untuk pemilu tradisional saja saya salut dengan kreativitas kecurangan yang diberitakan hingga hari ini. Ada serangan fajar berupa duit atau beras, surat suara yang sudah dicontreng dengan sendiri, panitia TPS yang mengintimidasi pemilihnya, pemilih yang berusaha mempengaruhi pemilih-pemilih lain. Kalau pemilu dibuat online, tidak perlu ada serangan fajar, tinggal sistemnya yang diserang. Terdengar lebih murah. Dan karena sistem berada di dunia maya, pelanggaran dapat dilakukan seanonim mungkin.</p>
<p>Pusing kan? Jadi tetap harus kembali ke manusianya. Asal ada itikad baik dari kita semua, pemilu pasti berjalan lancar dan bersih. Apalagi kalau calon pemimpin kita punya itikad baik semua. Pasti Indonesia akan jadi negara yang lebih baik dari sekarang.</p>
<p>Kalau dilihat-lihat lagi, semua proses pemilu kita dari pendaftaran hingga penghitungan tidak ada yang sempurna. Semua bermasalah. Saya yakin memang nggak mudah ya. Penduduk sebanyak ini, partai dan calon juga segambreng-gambreng. Kita semua juga belum jadi orang yang sejahtera, jadi peluang untuk berbuat kecurangan semakin tinggi.</p>
<p>Sekarang saya pribadi akhirnya berharap saja. Semoga jajaran tuan-tuan wakil rakyat yang terpilih bisa memegang amanahnya dengan baik. Jadi wakil-wakil rakyat yang memikirkan rakyatnya lah. Do some  improvements bung! Anda dibayar mahal sama rakyat. Setidaknya buatlah kami nggak merasa rugi membayar pajak dan membuat laporan SPT akhir bulan kemarin. <img src='http://brahmasta.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://brahmasta.net/2009/04/10/golput-caleg-dan-pemilu-online/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Akhir dari Ramadhan</title>
		<link>http://brahmasta.net/2008/09/29/akhir-dari-ramadhan/</link>
		<comments>http://brahmasta.net/2008/09/29/akhir-dari-ramadhan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Sep 2008 14:19:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Brahmasta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Events]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesiana]]></category>
		<category><![CDATA[Life]]></category>
		<category><![CDATA[ramadhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://brahmasta.net/2008/09/29/akhir-ramadhan/</guid>
		<description><![CDATA[Saya rasa Indonesia terlalu kaya akan tradisi unik, apalagi untuk merayakan berakhirnya bulan Ramadhan. Misalnya, tradisi mudik yang selalu bikin heboh tiap tahun, tradisi maaf-maafan, sampai keidentikannya dengan ketupat. Bahkan kata Minal Aidin Wal Faizin, yang biasa diucapkan saat lebaran, juga cuma ada di negeri ini. Parsel juga tidak pernah mati. Seminggu terakhir sejumlah parsel [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright" title="Lebaran. Ketupat?" src="http://nomadlife.org/uploaded_images/ketupat-731674.jpg" alt="" width="154" height="204" />Saya rasa Indonesia terlalu kaya akan tradisi unik, apalagi untuk merayakan berakhirnya bulan Ramadhan. Misalnya, tradisi mudik yang selalu bikin heboh tiap tahun, tradisi maaf-maafan, sampai keidentikannya dengan ketupat. Bahkan kata Minal Aidin Wal Faizin, yang biasa diucapkan saat lebaran, juga <a href="http://jalansutera.com/2008/09/25/minal-aidin-wal-faizin-yang-tidak-ada-dalam-budaya-arab/">cuma ada di negeri ini</a>.</p>
<p>Parsel juga tidak pernah mati. Seminggu terakhir sejumlah parsel datang ke kantor, ditujukan entah untuk salah satu orang atau perusahaan. Daripada jadi kasus karena menerima parsel, parsel tersebut pasti dibagi-bagi. Biasanya begitu dapat izin dari yang berhak, sang parsel diserbu oleh segenap orang di sekitarnya. Kalau udah ngelihat masing-masing orang rebutan memesan bagiannya, udah ga kelihatan yang mana <span style="font-style: italic;">trainee</span>, pegawai senior, atau manajer.</p>
<p>Begitu juga dengan angpau. Saya nggak pernah ngeh tentang angpau, sebelum orangtua saya mengingatkan.</p>
<p>&#8220;Bram, kamu kan udah kerja sekarang. Kamu harus kasih angpau ke adik-adikmu.&#8221;</p>
<p><span id="more-315"></span>Saya yang nggak pernah minta angpau (tapi nggak pernah nolak kalau dapat) akhirnya sampai pada kondisi harus ngasih angpau. Tapi saya senang sih. Senang rasanya kalau bisa menyenangkan adik-adik. Sekarang akhirnya saya tahu THR, yang juga cuma ada di Indonesia, larinya ke mana. Bukan masuk ke tabungan doang, terus dipakai sendiri. Melainkan buat belanja keperluan lebaran, yang emang meningkat di balik kenyataan bahwa di hari lebaran merupakan hari kemenangan melawan hawa nafsu.</p>
<p>Terkait mudik, mungkin tidak perlu bicarakan lagi. Hari ini sangat sepi. Jakarta menjadi kota yang tenang. Jalanan lengang. Semua orang yang bekerja hari ini pasti berpikir, coba seandainya Jakarta setiap hari begini.</p>
<p>Buat saya sendiri, akhir Ramadhan menjadi sedikit penutup atas ceramah-cerama bada Zuhur yang saya sering dengarkan di mesjid kantor. Berawal dari mangkir sesaat dari kerjaan dengan kedok mendengarkan ceramah, saya malah terbawa dengan kajian-kajian menarik yang disampaikan oleh uztad-uztad tamu. Saya jadi teringat kembali ketika saya masih SD atau SLTP, di mana siaran televisi lebih didominasi oleh siraman rohani, dibanding banyolan dan sinetron yang citra Ramadhannya hanya terlihat dari baju muslimnya saja.</p>
<p>Dan terakhir, yang paling menyenangkan adalah, ketika bulan Ramadhan berakhir, kami sekeluarga bisa berkumpul bersama. Adik saya kembali dari Jatinangor untuk seminggu, Bapak saya juga libur seminggu, adik saya paling kecil juga liburan sekolah, sehingga Ibu saya jadi banyak temannya karena rumah jadi ramai, terlepas dari kenyataan bahwa hari Senin dan Selasa ini saya bekerja. Weekend kemarin kami sekeluarga nonton bareng Laskar Pelangi. Pas lebaran rencananya akan pergi ke Puncak bareng anggota keluarga yang lain.</p>
<p>Mungkin itulah yang ingin dirasakan oleh semua orang di negeri ini ketika menyambut Lebaran. Untuk berkumpul bersama dengan keluarga besar. Berbagi cerita dan kerinduan.</p>
<p>Ah lama-lama saya jadi makin melankolis. Pokoknya Ramadhan kali ini menyenangkan. Banyak kejadian menarik, banyak juga pencerahan. Kayaknya nggak cukup kalau semua ditulis di sini.</p>
<p>Dan akhir kata, sebelum terlambat, saya dan segenap keluarga ingin mengucapkan:</p>
<div style="text-align: center;"><span style="font-weight: bold;">Selamat Hari Raya Idul Fitri 1429H</span><br style="font-weight: bold;" /><span style="font-weight: bold;">Mohon Maaf Lahir dan Batin.</span></div>
<div style="text-align: center;">
<div style="text-align: left;">Semoga segenap amalan kita bulan ini bisa membawa kita kembali ke fitrah.</div>
<div style="text-align: left;">Selamat berlibur!</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://brahmasta.net/2008/09/29/akhir-dari-ramadhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lepas dari Tilang</title>
		<link>http://brahmasta.net/2008/09/14/lepas-dari-tilang/</link>
		<comments>http://brahmasta.net/2008/09/14/lepas-dari-tilang/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Sep 2008 01:27:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Brahmasta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesiana]]></category>
		<category><![CDATA[Life]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://brahmasta.net/?p=304</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah kejadian menarik di mana saya lepas dari tilang tanpa aktivitas sogok-menyogok. Ceritanya terjadi minggu lalu. Saat itu saya dan Indi sedang berkendara pulang dari les bahasa Inggris menuju kantor. Karena si Indi malas nyetir, jadilah saya yang menyetir mobilnya. Saat menelusuri jalan Sudirman, tiba-tiba mobil kami dihentikan oleh seorang polisi. Ternyata saya lupa menyalakan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" title="Police Officer" src="http://www.arslan.com/Police_Officer_-_Cartoon_08.jpg" alt="" width="146" height="225" />Sebuah kejadian menarik di mana saya lepas dari tilang tanpa aktivitas sogok-menyogok.</p>
<p>Ceritanya terjadi minggu lalu. Saat itu saya dan <a href="http://indigembil.wordpress.com">Indi</a> sedang berkendara pulang dari les bahasa Inggris menuju kantor. Karena si Indi malas nyetir, jadilah saya yang menyetir mobilnya. Saat menelusuri jalan Sudirman, tiba-tiba mobil kami dihentikan oleh seorang polisi. Ternyata saya lupa menyalakan lampu.</p>
<p>Kalau anda sudah biasa kena tilang, pasti sudah bisa menduga apa yang akan dilakukan oleh polisi. Dia akan mendatangi, menayakan tahu atau tidak kenapa saya diberhentikan, dan meminta surat-surat. Saya pada waktu itu mengakui saja, kalau salah karena lupa menyalakan lampu.</p>
<p>Sang polisi akhirnya memvonis untuk menahan STNK mobil. Dia meminta saya datang ke pengadilan tanggal 23 September besok untuk menjalani sidang. Saya jadi tidak enak dengan Indi, berhubung ini mobil miliknya. Karena itu, saya memutuskan untuk turun dari mobil dan bertanya seputar pelanggaran saya ke polisi tersebut, sambil mencari alternatif yang lebih &#8216;mudah&#8217; untuk menyelesaikan masalah ini.</p>
<p>Melihat saya turun dari mobil, sang polisi langsung bertanya, &#8220;Kok turun Mas?&#8221;. Tampaknya dia sudah terbiasa dengan aktivitas ini. Saya juga sebenarnya sudah terbiasa. Tapi sangat tidak suka untuk melakukannya.</p>
<p><span id="more-304"></span>&#8220;Saya mau nanya-nanya Pak seputar pelanggaran barusan dan prosedur penyelesaiannya. Memangnya kalau tidak menyalakan lampu di malam hari saya harus ditilang ya Pak? Itu kekhilafan saya memang, tapi saya rasa nggak perlu sampai sidang segala&#8221;, ujar saya. Pertanyaan bodoh memang, tapi saya ingin memastikan kalau memang itu ada di aturan.</p>
<p>&#8220;Memang Pak. Ada di aturannya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Coba lihat Pak, ada di mana?&#8221;, saya jadi menantang dia.</p>
<p>Pak polisi tersebut tersenyum dan menyalami saya. &#8220;Saya senang sama orang-orang seperti Mas ini, kalau begini kan kita semua bisa sama-sama terbuka. Semuanya jadi jelas. Coba Bapak lihat ini&#8221;. Ia membuka halaman belakang buku yang digunakannya untuk memberi surat tilang dan menunjukkan pasal yang menunjukkan bahwa lupa menyalakan lampu itu merupakan pelanggaran di jalan raya. Tiba-tiba dia juga menambahkan dengan tips untuk menyalakan sein di bundaran, dan memperlihatkan pasalnya. Dia juga menjelaskan prosedur penyelesaian masalahnya di pengadilan. Saya akhirnya jadi sadar kalau memang salah, dan mempersiapkan diri untuk mengambil STNK mobil Indi tanggal 23, sambil melihat-lihat buku tersebut.</p>
<p>Tapi tiba-tiba saya melihat sebuah tulisan di sana: &#8220;Titipan Denda&#8221;. Saya lalu jadi teringat kalau pernah membaca ini. Kita bisa membayar denda langsung ke polisi untuk mengurangi proses birokrasi yang njelimet kalau harus mendatangi sidang. Itu memang ada aturannya. Saya lalu menanyakan ini ke Pak Polisi.</p>
<p>&#8220;Pak, di sini ada penjelasan tentang titipan denda. Kalau saya pakai itu saja bagaimana Pak?&#8221;</p>
<p>Sang polisi tersenyum dan menunjukkan gerak-gerik yang tidak setuju. Dia lalu berujar bahwa dia merasa tidak enak kalau ada titip-titipan uang di jalan ini karena dilihat temannya, dan merekomendasikan saya datang sidang saja.</p>
<p>Karena tidak dibantah dan dikatakan tidak ada aturannya, saya jadi merasa dapat angin. &#8220;Lha kenapa begitu Pak? Kan itu ada aturannya, dan hak saya dong buat mengambil pilihan itu?&#8221;. Selanjutnya saya berusaha mendesak dan mempertanyakan bagaimana prosedurnya. Tapi Pak Polisi tetap bersikeras tidak mau. Sebuah kondisi yang aneh. Mungkin ada kesalahpahaman diantara kami berdua. Apa dia kira saya mau menyogok ya?</p>
<p>Akhirnya karena heran, saya kembali naik ke mobil. Saya mau bertanya ke Indi mengenai ada atau tidak prosedur itu. Tapi Pak Polisi akhirnya mendatangi kaca jendela saya dan berujar, &#8220;Ya sudahlah terserah Mas maunya bagaimana&#8221;.</p>
<p>Saya jadi merasa dikira mau menyogok. Padahal sepanjang percakapan tadi saya tidak menunjukkan tensi ke sana. &#8220;Saya cuma mau melakukan lewat prosedur itu Pak, karena setahu saya ada. Berapa sih Pak denda yang saya dapat di pengadilan kalau saya melanggar seperti ini?&#8221;.</p>
<p>Ia lalu menjawab dengan alternatif-alternatif termahal yang ada di Bekasi atau Tangerang. Dia juga mengatakan jumlah itu keluar kalau surat-surat tidak lengkap. Saya tidak mengerti kenapa pikirannya mengarah ke sana. Akhirnya kami menanyakan nominal kalau kasusnya seperti kami, dan akhirnya dia menjawab dengan pernyataan mengejutkan.</p>
<p>&#8220;Ya sudahlah Mas. Mas jalan aja.&#8221;</p>
<p>Saya kaget. Indi juga. Kemudian saya mengingatkan lagi kalau saya mau kok membayar seandainya kalau ada denda tilang titipan itu.</p>
<p>&#8220;Nggak usah Mas, yang penting kita sekarang sudah sama-sama tahu. Mas sekarang sudah tahu salahnya di mana dan aturannya seperti apa. Itu sudah cukup. Saya jadi luluh kalau lihat orang-orang baik seperti Mas.&#8221;</p>
<p>Saya jadi bingung. Dalam hati saya bertanya. Emang saya baik ya? Apa karena mau tahu dengan aturan-aturan yang ada?</p>
<p>&#8220;Oh kalau gitu ya sudah deh Mas, Insya Allah nggak kejadian lagi. Maaf sudah merepotkan&#8221;. Saya akhirnya menerima saja pilihan enak tersebut. Berhenti di jalan, ngobrol-ngobrol dengan polisi, jadi tahu aturannya gimana, kemudian lolos dari tilang begitu saja. Sebuah hari yang menyenangkan. Ditambah basa-basi sedikit, akhirnya kami pamitan dengan polisi yang baik hati itu dan pergi dengan tersenyum. Bisa gak jadi kena tilang!</p>
<p>Di rumah, saya lalu googling mencari informasi tentang denda titipan itu, hingga saya membaca tulisan di <a href="http://andrisaubani.multiply.com/journal/item/6/delapan_enam">sini</a>. Di sana dinyatakan bahwa kalau kita mengakui kesalahan, kita bisa membayar denda dengan menitip ke polisi kalau tidak sempat membayar ke bank.</p>
<blockquote><p>Menurut Reniban, dalam menindak pelanggar lalu lintas, polisi diberi wewenang untuk menerima uang titipan denda. Uang titipan itu adalah untuk kasus pelanggaran di mana pelanggarnya mengakui kesalahannya dan terbukti bersalah dan kepada mereka diberikan kartu bukti pelanggaran (tilang) berwarna biru. &#8221;Sebenarnya uang denda itu harus mereka bayarkan ke bank, tetapi kalau tidak sempat boleh juga dititipkan kepada polisi,&#8221; katanya.</p></blockquote>
<p>Aturan lengkap tentang tilang di Jakarta bisa dilihat di <a href="http://h3ndragunawan.files.wordpress.com/2008/08/tabel-denda-tilang-resmi-new1.pdf">sini</a>. Saya melanggar aturan nomor 13 mengenai lampu.</p>
<p>Pesan moralnya, mungkin, sebaiknya kita tahu tentang aturan-aturan yang berlaku di jalan raya, sehingga kita bisa menghindarinya dan kalau ditangkap tidak beralasan bisa punya bukti kuat untuk menolaknya. Tapi kasus saya bukan contoh yang tidak beralasan loh. Itu jelas-jelas salah. Polisinya saja yang baik, karena melihat saya yang juga (kata dia) baik.</p>
<p>Susah memang, jadi orang baik.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://brahmasta.net/2008/09/14/lepas-dari-tilang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pentingnya Keselamatan</title>
		<link>http://brahmasta.net/2008/09/05/pentingnya-keselamatan/</link>
		<comments>http://brahmasta.net/2008/09/05/pentingnya-keselamatan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Sep 2008 17:38:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Brahmasta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesiana]]></category>
		<category><![CDATA[Opinion]]></category>
		<category><![CDATA[Reflection]]></category>
		<category><![CDATA[safety]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://brahmasta.net/?p=299</guid>
		<description><![CDATA[Menurut saya, salah satu pembeda antara negara maju dengan yang tidak itu terlihat dengan bagaimana orang-orang di dalamnya memandang pentingnya keselamatan. Orang-orang kita, bila saya terpaksa melakukan generalisasi, kebanyakan tidak memperhatikan itu. Tadi pagi, di kantor ada acara singkat safety briefing. Topiknya berkisar seputar tips dan trik berkendara serta review kecelakaan-kecelakaan yang terjadi selama beberapa bulan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://brahmasta.net/wp-content/uploads/2008/09/safety_first.jpg"><img class="size-full wp-image-300 aligncenter" title="Safety First" src="http://brahmasta.net/wp-content/uploads/2008/09/safety_first.jpg" alt="" width="423" height="300" /></a></p>
<p style="text-align: left;">Menurut saya, salah satu pembeda antara negara maju dengan yang tidak itu terlihat dengan bagaimana orang-orang di dalamnya memandang pentingnya keselamatan. Orang-orang kita, bila saya terpaksa melakukan generalisasi, kebanyakan tidak memperhatikan itu.</p>
<p style="text-align: left;">Tadi pagi, di kantor ada acara singkat <em>safety briefing</em>. Topiknya berkisar seputar tips dan trik berkendara serta review kecelakaan-kecelakaan yang terjadi selama beberapa bulan terakhir terhadap karyawan atau rekanan perusahaan. Khusus untuk pembahasan kecelakaan, sepertinya ada lebih dari lima kecelakaan motor yang diulas. Semuanya mengerikan. Mulai dari bis yang melindas kepala orang, truk yang menabrak sepeda motor, sampai pengemudi sepeda motor yang terseret mobil sepanjang 10 meter.</p>
<p>Kesimpulan saya, dari semua kecelakaan tersebut, pengemudi kita tidak membawa kendaraannya secara defensif. Ada satu kasus di mana sebuah sepeda motor berusaha menyalip bus dan truk sekaligus, dan berakhir dengan nyawa melayang karena saat ia menyalip, sang bis tidak menyadari dan berusaha menyalip truk juga hingga akhirnya pengemudi motor ditabrak dan terjatuh, lalu si pengendara motor secara tidak sengaja terlindas.</p>
<p>Ada banyak hal yang membuat kita tidak berpikir untuk menjaga keselamatan. Dalam kasus berkendara, waktu merupakan salah satu diantaranya. Kadangkala kita harus mengejar sesuatu di tempat tujuan, atau tidak ingin terlalu lama menghabiskan waktu di jalan. Akibatnya kita jadi menantang bahaya, yang bisa menyebabkan celaka.</p>
<p><span id="more-299"></span></p>
<p>Faktor lain mungkin terkait dengan kebugaran. Misalnya dalam kasus berkendara lagi, kita memaksakan diri untuk mengendarai mobil padahal sudah lelah dan ngantuk. Saya beberapa kali sempat mengalami ini. Beberapa kali sempat kehilangan konsentrasi di jalan dan membuat mobil sedikit tidak terkontrol. Saya pernah hampir keluar jalur, telat ngerem, dan tidak sadar kalau disalip.</p>
<p>Namun faktor yang menurut saya paling memprihatinkan adalah ketika kita <em>careless</em> terhadap keselamatan kita. Ini akan membuat kecelakaan yang terjadi pada kita menjadi terlihat bodoh.</p>
<p>Jika anda ingin sebuah contoh mengenai seseorang yang <em>careless</em> terhadap keselamatan, mungkin bisa melihat contoh kasus <a href="http://www.detiknews.com/read/2008/08/20/174847/991696/10/tali-gondola-putus-1-pekerja-tewas">jatuhnya seorang pekerja dari gondola di menara MT Haryono</a>. Jadi ceritanya, di gedung tersebut dua orang pembersih kaca bekerja dari ketinggian 8 lantai. Namun satu hal yang mengerikan terjadi. Salah satu tali yang menggantung gondola tiba-tiba putus. Dari kedua orang itu, salah satu diantaranya <a href="http://www.detiknews.com/read/2008/08/20/180505/991706/10/satu-orang-selamat-karena-pakai-belt">menggunakan sabuk keselamatan</a>, sementara yang lain tidak. Akhirnya salah satu dari mereka jatuh dan meninggal, sementara yang satunya selamat. Bisa ditebak kan yang jatuh yang mana?</p>
<p>Ketidakpedulian kita terhadap hal-hal &#8216;sepele&#8217; terkait keselamatan inilah yang saya lihat sedikit sekali dimiliki oleh orang kita. Baru saja tadi malam saya menaiki taksi di mana sopirnya tidak mau menggunakan sabuk pengaman, padahal sudah saya ingatkan. Malah dulu pernah saya naik taksi yang supirnya menggunakan sabuk pengaman dengan menyangkutkan ujung sabuk pengaman ke celananya dengan peniti. Tujuannya jelas, supaya tidak ditangkap polisi, karena kelihatannya menggunakan sabuk pengaman.</p>
<p>Aneh bukan? Kebijakan sabuk pengaman diberikan agar kita selamat, tapi kita menjadikannya ajang kucing-kucingan dengan polisi.</p>
<p>Well, sebagai penutup, tulisan ini saya buat supaya kita mengingat lagi akan pentingnya menjaga keselamatan dalam segala hal yang kita lakukan. Misalnya dalam berkendara, sediakan waktu yang cukup agar tidak terburu-buru, pastikan tidak ngantuk, dan pastikan semua komponen kendaraan Anda dalam kondisi yang baik. </p>
<p>Saya jadi ingat waktu jaman-jaman ikut tes kerja. Kebanyakan orang-orang dari perusahaan minyak akan memulai acara dengan <em>safety</em> <em>briefing</em>, menunjukkan pintu-pintu keluar mana saja yang bisa digunakan untuk evakuasi. Hal itu pada awalnya terasa menggelikan. Tapi begitulah budaya yang memperhatikan berharganya jiwa setiap manusia, yang mementingkan keselamatan. Budaya yang sepertinya belum tertanam luas di kita.</p>
<p>Jadi, tetap ingat, untuk utamakan keselamatan!</p>
<p> </p>
<p> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://brahmasta.net/2008/09/05/pentingnya-keselamatan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>63 Tahun Indonesia</title>
		<link>http://brahmasta.net/2008/08/17/63-tahun-indonesia/</link>
		<comments>http://brahmasta.net/2008/08/17/63-tahun-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Aug 2008 13:59:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Brahmasta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesiana]]></category>
		<category><![CDATA[Reflection]]></category>
		<category><![CDATA[independence]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://brahmasta.net/?p=293</guid>
		<description><![CDATA[Sudah 63 tahun? Rasanya baru kemarin kita merayakan setengah abad Indonesia. Di masa-masa  50 tahun itu, saya hafal Indonesia sedang berumur berapa, provinsinya apa saja lengkap beserta ibukota, menteri-menteri yang menjabat siapa, bahkan program repelita. Saya begitu bangga dengan Indonesia saat itu. Negara terkuat di Asia tenggara, punya potensi alam yang kaya, dan berprestasi di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.flickr.com/photos/mr_t_in_dc/2503224501/"><img class="alignnone size-full wp-image-295" title="merahputih1" src="http://brahmasta.net/wp-content/uploads/2008/08/2503224501_9ed421f755.jpg" alt="Nice capture of our Flag, by Mr. T" width="500" height="357" /></a></p>
<p>Sudah 63 tahun? Rasanya baru kemarin kita merayakan setengah abad Indonesia.</p>
<p>Di masa-masa  50 tahun itu, saya hafal Indonesia sedang berumur berapa, provinsinya apa saja lengkap beserta ibukota, menteri-menteri yang menjabat siapa, bahkan program repelita.</p>
<p>Saya begitu bangga dengan Indonesia saat itu. Negara terkuat di Asia tenggara, punya potensi alam yang kaya, dan berprestasi di olahraga, setiaknya SEA Games. Saya begitu percaya akan masa depan Indonesia yang cerah.</p>
<p>Sekarang? Cinta saya pada negeri ini bersandar atas sesuatu yang tidak romantis saja: Ini tanah air saya. Saya sepertinya tidak punya alasan kuat lagi untuk bangga.</p>
<p>Syukurnya, kita masih memperingati hari kemerdekaan bangsa ini. Meski tidak upacara, keberadaan hari ini memberi waktu kepada kita untuk melihat kembali nilai-nilai nasionalisme.</p>
<p>Saya jadi sadar, bahwa saya adalah salah satu dari sekian banyak pemuda Indonesia yang harus membangun negeri ini. Ternyata sudah jadi tugas kitalah untuk membuat segenap bangsa semua bangga akan negeri ini. Kenapa saya harus jadi orang yang mengeluhkan negeri ini karena kemajuannya berjalan di tempat?</p>
<p>Selamat ulang tahun negeriku.</p>
<p>Mari kita bangun Indonesia!<br />
<small><br />
nb. gambar diambil dari <a href="http://www.flickr.com/photos/mr_t_in_dc/2503224501/">sini</a>.<br />
</small></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://brahmasta.net/2008/08/17/63-tahun-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Eropa Punya Acara, Kita Berpesta</title>
		<link>http://brahmasta.net/2008/06/08/eropa-punya-acara-kita-berpesta/</link>
		<comments>http://brahmasta.net/2008/06/08/eropa-punya-acara-kita-berpesta/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Jun 2008 00:52:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Brahmasta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Football]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesiana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://brahmasta.net/2008/06/08/eropa-punya-acara-kita-yang-berpesta/</guid>
		<description><![CDATA[Tadi malam saya nonton acara pembukaan EURO 2008 di RCTI. Ada sejumlah artis besar manggung, meramaikan dibukanya turnamen sepakbola ini. Rasanya aneh. Waktu Piala Asia 2007 yang Indonesia jadi salah satu tuan rumahnya saja, stasiun televisi tidak mengadakan pesta gegap gempita seperti tadi malam. Bukan hanya stasiun televisi, secara umum publikasinya menyedihkan. Saya nyari tiket [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://brahmasta.net/wp-content/uploads/2008/06/maskottchen_euro2008.jpg" align="right" />Tadi malam saya nonton acara pembukaan EURO 2008 di RCTI. Ada sejumlah artis besar manggung, meramaikan dibukanya turnamen sepakbola ini.</p>
<p>Rasanya aneh. Waktu Piala Asia 2007 yang Indonesia jadi salah satu tuan rumahnya saja, stasiun televisi tidak mengadakan pesta gegap gempita seperti tadi malam. Bukan hanya stasiun televisi, secara umum publikasinya menyedihkan. Saya nyari tiket saja <a href="http://brahmasta.net/2007/07/02/penjualan-tiket-piala-asia-2007/">sempat susah</a>. Kok rasanya tidak adil aja ya. Kita nggak all out buat negara sendiri. Tapi malah merayakan besar-besaran untuk sesuatu yang bahkan tidak ada hubungannya sama kita selain hiburan, dan keuntungan buat stasiun televisi tentunya.</p>
<p>Protes aja nih saya. Jadi ingat postingan <a href="http://brahmasta.net/2006/07/02/tangisi-negeri-kita-sendiri/">saya jaman dahulu</a>.</p>
<p>Lalu saya pun mencoba berpikir dari sudut pandang lain.</p>
<p>Ah, sepakbola bukan masalah nasionalisme kok. Ini cuma hiburan semata, sama seperti nonton Liga Champion, cuma bedanya yang dibela adalah negara orang. Begitu bukan? Penontonnya juga jauh lebih banyak dari sekedar penonton tim nasional. Makanya sambutannya lebih meriah.</p>
<p>Yang harus dinikmati itu keindahan permainan sepakbolanya.</p>
<p>Mari kita nikmati pesta sepakbola ini!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://brahmasta.net/2008/06/08/eropa-punya-acara-kita-berpesta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Polemik BBM: Mari Kita Selesaikan Bersama</title>
		<link>http://brahmasta.net/2008/05/14/polemik-bbm-mari-kita-selesaikan-bersama/</link>
		<comments>http://brahmasta.net/2008/05/14/polemik-bbm-mari-kita-selesaikan-bersama/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 May 2008 09:01:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Brahmasta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesiana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://brahmasta.net/2008/05/14/polemik-bbm-mari-kita-selesaikan-bersama/</guid>
		<description><![CDATA[Sebentar lagi, harga BBM di negara kita naik. Berhubung BBM terkait hajat hidup orang banyak, reaksi yang ditimbulkannya sangat besar. Entah berapa demo yang saya lihat di berita kemarin. Mulai dari kalangan mahasiswa sampai rakyat miskin. Masalah BBM ini pelik. Jika dinaikkan, rakyat kecil menderita. Kalau dipertahankan, negara yang menderita. Sebuah keputusan tidak akan bisa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://brahmasta.net/wp-content/uploads/2008/05/resa-13s16-bensinfr_214968w.jpg" alt="" width="170" height="199" align="right" />Sebentar lagi, harga BBM di negara kita naik. Berhubung BBM terkait hajat hidup orang banyak, reaksi yang ditimbulkannya sangat besar. Entah berapa demo yang saya lihat di berita kemarin. Mulai dari kalangan mahasiswa sampai rakyat miskin.</p>
<p>Masalah BBM ini pelik. Jika dinaikkan, rakyat kecil menderita. Kalau dipertahankan, negara yang menderita. Sebuah keputusan tidak akan bisa menguntungkan semua pihak. Harus ada yang dikorbankan. Kalau mau negara maju, pilih dinaikkan. Kalau mau rakyat sejahtera, pelihara harga BBM. Pusinglah pemerintah kita</p>
<p>Indonesia tadinya adalah anggota OPEC. Sekarang masih, tapi belum lama ini <a href="http://www.antara.co.id/arc/2008/5/6/indonesia-keluar-dari-opec-setelah-2008/">Presiden menyatakan bahwa Indonesia bakal keluar dari organisasi tersebut.</a> Kenapa? Biaya keanggotaannya tinggi, yakni 2 juta dollar per tahun. Sudah begitu, Indonesia sudah tidak murni mengekspor minyak lagi. Produksi kalah sama konsumsi. Produksi kita hanya 980.000 barel per hari. Pemakaian? lebih kurang 1.200.000 barel per hari. Kita malah jadi importir. Sudah diimpor, disubsidi pula. Kebayang betapa ruginya pemerintah?</p>
<p><span id="more-269"></span>Masalah itu diperparah dengan susahnya perusahaan-perusahaan minyak berinvestasi di Indonesia, sehingga ladang-ladang minyak mengering lebih cepat daripada pembukaan ladang minyak baru. Kok bisa perusahaan-perusahaan minyak itu susah berinvestasi? Birokrasi. Butuh bertahun-tahun buat perusahaan minyak membuka lahan minyak di Indonesia. Misalnya blok Cepu yang ditemukan tahun 2001 yang diperkirakan akan menghasilkan 165.000 barel per hari baru disetujui tahun 2006, setelah pergulatan antara Pertamina dengan ExxonMobil selesai. Sehingga baru bisa beroperasi 2009(*). Sekarang pun telah muncul masalah baru. Di mana penduduk setempat tiba-tiba mematok harga tinggi untuk tanahnya. Jadi makin sulitlah dimulai.</p>
<p>Di sisi lain, pemakaian BBM itu sendiri tidak efektif. Contohnya saja, tiap pagi terjadi kemacetan luar biasa di Jakarta dan sekitarnya. Setiap mobil memakai bensinnya masing-masing. Ada yang cuma sendirian naik mobil, berdua, dan cuma sedikit kendaraan yang diisi ramai-ramai. Belum gitu, berhubung macet, pemakaian bensin itu buat sang kendaraan sendiri tidak efektif. Energi banyak terbuang karena mobil diam di tempat, menunggu mobil depannya maju. Mereka, para pengguna mobil, tidak salah. Sebab transportasi umum kita emang tidak bagus, sehingga memaksa untuk memiliki kendaraan pribadi.</p>
<p>Selain dipakai buat kendaraan, Indonesia juga memakai untuk listrik. Dan kita tampaknya begitu boros sama listrik, sampai ada anjuran untuk mematikan lampu setiap sore hari. Pembangkit listrik kita sudah hampir tidak mampu menangani kebutuhan dalam negeri. Makanya listrik sempat digilir beberapa waktu lalu. Pemakaian besar, dari BBM pula.</p>
<p>Cerita di atas belum ditambah dengan kebiasaan-kebiasaan buruk yang ada di masyarakat. Misalnya adalah enggannya warga kita untuk berpindah dari minyak tanah ke gas. Dulu saya pernah mendengar cerita ada pemerintah yang memberikan kompor gas gratis ke masyarakat, untuk alternatif dari minyak tanah. Gas lebih murah. Jadi ini jelas-jelas menguntungkan. Tapi yang terjadi adalah, mereka kebanyakan tidak mau menggunakan kompor gas itu. Karena menganggapnya berbahaya. Jadilah misi pemerintah itu gagal. Minyak tanah butuh tetap ada, dan murah.</p>
<p>Apa yang bisa saya dapat dari semua cerita di atas? Sepertinya hanya beberapa pihak saja yang pusing untuk masalah BBM ini. Pertama, yang mengambil keputusan. Kedua, yang terkena imbas. Pihak-pihak lain yang berpeluang untuk menyelesaikan masalah ini, seperti pemerintah, yang bisa melancarkan investasi asing agar produksi kita jalan, pemerintah yang memperbaiki fasilitas transportasi umum, pembuatan pembangkit listrik alternatif, atau apapun yang bisa mengefektifkan penggunaan BBM. Kita, sebagai warganegara, juga mestinya bisa berperan. Manfaatkan fasilitas umum, hemat listrik, pakai mobil yang hemat BBM, dan mungkin ada banyak lagi solusi kreatif lainnya. Siapa tahu dengan segala tingkah positif kita, pemakaian BBM bisa menurun drastis. Jadi tidak perlu impor lagi. Ekstrim sih. Tapi tidak ada yang tidak mungkin bukan.</p>
<p>Selain itu, saya rasa kebanyakan kita menginginkan masalah ini selesai dengan merengek-rengek sambil menghina pemerintah supaya tetap hidup enak. Ya, sebagian mereka mungkin menyalahkan wewenang atau mengambil keputusan yang salah. Lebih baik kita menyelesaikan masalah ini dengan memulai dari lingkungan kita dulu saja. Bantu saja pemerintah kita, sementara mereka menjalankan tugasnya untuk mencari solusi kreatif menyelamatkan rakyat kecil yang paling menderita karena imbas kenaikan BBM.</p>
<p>Yah, sekian curahan hati saya terkait polemik BBM. Semoga bisa menjadi sesuatu yang membangun buat kita semua. Mari kita selesaikan masalah BBM ini secara bersama. Mulai dari diri sendiri.</p>
<p>(*) Sumber: Asia Future Shock, oleh Michael Backman</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://brahmasta.net/2008/05/14/polemik-bbm-mari-kita-selesaikan-bersama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
