Archives for category: Indonesiana

logo_pemilu2009aTahun ini, saya tidak ada di dalam daftar pemilih. Golput. Saya seharusnya terdaftar sebagai pemilih di Bekasi, karena KTP saya sekarang dari sana. Tapi katanya sih karena waktu disurvei tidak ada di tempat, saya tidak terdaftar. Sementara proses KTP di Jakarta masih butuh sekitar enam bulan lagi buat selesai. Jadilah kami sekeluarga tidak disurvei. Sekeluarga golput.

Kemarin saya dan Bapak saya sempat mendatangi TPS dekat rumah untuk memastikan nama tidak ada di daftar. Kami nggak rela kalau ternyata kami terdaftar dan nggak ada yang memberitahu. Takut surat suaranya dipakai macem-macem. Tapi ternyata memang tidak ada. Kami lalu melihat foto-foto caleg yang ada di sana, dan mengambil kesimpulan tidak salah juga kalau golput. Satu-satunya calon yang kami kenal Wanda Hamidah! Padahal entah sudah berapa hari kami melalui hari-hari dengan berbagai poster, spanduk, dan baligo caleg di sepanjang jalanan. Saya jadi merasa effort semua caleg itu sia-sia.

Ada dua pihak yang salah mungkin di sini. Pertama saya yang apatis, kedua caleg yang tidak komunikatif. Sebagai warganegara, mungkin mestinya saya proaktif. Berusaha mendaftarkan nama saya jauh-jauh hari sebelumnya, mencari info visi dan misi caleg-caleg Jakarta Selatan, dan kemarin datang untuk mencontreng dengan yakinnya. Caleg juga mestinya nggak cuma pasang poster doang. Seorang caleg idealnya menurut saya pasti punya visi yang jelas. Turun dong ke daerah-daerah. Visinya yang menyebar, bukan fotonya. Tulis di selebaran misalnya, atau kalau mau lebih canggih lagi, bikin blog atau minimal Facebook lah. Dari sekian banyak poster yang ada di jalan, sedikit sekali yang menggunakan media internet untuk berkomunikasi. Padahal sebenarnya murah dan efektif. Meski jumlah yang membaca sangat sedikit.

(more…)

Saya rasa Indonesia terlalu kaya akan tradisi unik, apalagi untuk merayakan berakhirnya bulan Ramadhan. Misalnya, tradisi mudik yang selalu bikin heboh tiap tahun, tradisi maaf-maafan, sampai keidentikannya dengan ketupat. Bahkan kata Minal Aidin Wal Faizin, yang biasa diucapkan saat lebaran, juga cuma ada di negeri ini.

Parsel juga tidak pernah mati. Seminggu terakhir sejumlah parsel datang ke kantor, ditujukan entah untuk salah satu orang atau perusahaan. Daripada jadi kasus karena menerima parsel, parsel tersebut pasti dibagi-bagi. Biasanya begitu dapat izin dari yang berhak, sang parsel diserbu oleh segenap orang di sekitarnya. Kalau udah ngelihat masing-masing orang rebutan memesan bagiannya, udah ga kelihatan yang mana trainee, pegawai senior, atau manajer.

Begitu juga dengan angpau. Saya nggak pernah ngeh tentang angpau, sebelum orangtua saya mengingatkan.

“Bram, kamu kan udah kerja sekarang. Kamu harus kasih angpau ke adik-adikmu.”

(more…)

Sebuah kejadian menarik di mana saya lepas dari tilang tanpa aktivitas sogok-menyogok.

Ceritanya terjadi minggu lalu. Saat itu saya dan Indi sedang berkendara pulang dari les bahasa Inggris menuju kantor. Karena si Indi malas nyetir, jadilah saya yang menyetir mobilnya. Saat menelusuri jalan Sudirman, tiba-tiba mobil kami dihentikan oleh seorang polisi. Ternyata saya lupa menyalakan lampu.

Kalau anda sudah biasa kena tilang, pasti sudah bisa menduga apa yang akan dilakukan oleh polisi. Dia akan mendatangi, menayakan tahu atau tidak kenapa saya diberhentikan, dan meminta surat-surat. Saya pada waktu itu mengakui saja, kalau salah karena lupa menyalakan lampu.

Sang polisi akhirnya memvonis untuk menahan STNK mobil. Dia meminta saya datang ke pengadilan tanggal 23 September besok untuk menjalani sidang. Saya jadi tidak enak dengan Indi, berhubung ini mobil miliknya. Karena itu, saya memutuskan untuk turun dari mobil dan bertanya seputar pelanggaran saya ke polisi tersebut, sambil mencari alternatif yang lebih ‘mudah’ untuk menyelesaikan masalah ini.

Melihat saya turun dari mobil, sang polisi langsung bertanya, “Kok turun Mas?”. Tampaknya dia sudah terbiasa dengan aktivitas ini. Saya juga sebenarnya sudah terbiasa. Tapi sangat tidak suka untuk melakukannya.

(more…)