Archives for category: Opinion

Do less, show more.

Tipu-tipu, atau biasa disebut aksi tipu-tipu, bisa ditemukan dalam setiap elemen kehidupan Anda. Pekerjaan, tugas, lomba, laporan pertanggungjawaban, diskusi, macam-macam. Pada awalnya kelakuan ini terlihat sangat bisa dimaafkan. Hanya sebuah kebohongan kecil, yang tidak dipikirkan oleh orang lain, atau si orang lain tidak memiliki kapasitas untuk itu. Kegiatan ini dilakukan untuk mencapai sesuatu dengan jalan pintas. Rasanya begitu nikmat di awal, sebab yang diraih banyak, usaha sedikit.

Menarik bukan? Tapi sayangnya dunia masih memiliki keadilan. Kita memang harus membayar apa yang kita dapatkan. Dan ketika mendapatkan sesuatu dengan bayaran yang tidak sepantasnya, kita akan sejajar dengan pencuri. Pencuri yang nantinya akan ketahuan secara perlahan-lahan.

Pada awalnya saya memandang kegiatan tipu-tipu ini hanya kebiasaan yang terjadi oleh sebagian orang, lalu orang tersebut malu mengakuinya, dan pada akhirnya tidak akan mengulanginya di masa yang akan mendatang. Tapi lama kelamaan saya mulai merasakannya sebagai budaya. Budaya yang dimiliki bangsa kita. Sesuatu yang sudah biasa dilakukan oleh semua orang di sini.

(more…)

Kemarin, saya mengikuti sebuah seminar yang diadain Kedutaan Besar Australia. Judulnya IT Job Myth, 21st Century Career in IT. Saya datang bersama beberapa teman, ada Ridwan, Yudi, Miri, Ronny, Febrian, Aulia, dan Helen. Kami juga ditemani oleh Kaprodi Informatika, Pak Sukrisno. Kok saya bisa ikut? Kebetulan waktu itu ada email yang nawarin delapan pendaftar pertama buat ikut cuma-cuma seminar ini. Iseng-iseng berhadiah, saya pun daftar aja, setelah diajakin Miri.

Ketika mendengar judul dari seminar itu pertama kali, saya punya ekspektasi tinggi. Saya membayangkan bakal ada sebuah pencerdasan kepada saya tentang mitos-mitos pekerja IT dan kemampuan apa saja yang harus dimiliki oleh orang IT saat ini. Terus saya membayangkan juga bakal ada gambaran trend perkembangan IT di masa depan seperti apa.

Tapi ternyata itu berlebihan.

(more…)

Beberapa hari lalu, terdengar sebuah berita mengejutkan dari Bandara Adi Sucipto Jogjakarta. Sebuah pesawat Garuda terbakar di landasan. Penyebabnya masih belum jelas. Bahkan ada yang bilang itu sabotase. Tapi pastinya, bencana ini mengingatkan saya akan bencana-bencana sebelumnya yang ada.

Ada apa negeri ini? Masih hangat kabar mengenai gempa di Padang dibicarakan, sudah terjadi musibah pesawat ini. Kemudian sebelumnya terjadi insiden tenggelamnya kapal Levina, yang belum diketahui penyebabnya. Sebelumnya lagi, ada bencana banjir yang melanda ibukota Metropolitan kita, Jakarta. Tak jauh dari bencana itu, sebelumnya kita memiliki kisah pilu lainnya mengenai hilangnya Adam Air, Jatuhnya Kereta Api, dan Tenggelamnya Senopati.

Saya sampai sudah lupa dengan bencana lainnya. Tapi rasanya sejak Tsunami menyapu Aceh pada Desember 2004, Indonesia tak henti dilanda bencana.

Pertanyaannya, siapa yang salah? Apakah Yang Mahakuasa sedang mengingatkan kita? Atau memang kita telah menuai dari segala tingkah yang kita buat sebelumnya?

Tsunami dan Gempa mungkin tidak bisa kita atasi. Itu kuasa Tuhan. Kita mungkin hanya bisa berdoa dan berlari jika itu terjadi pada kita.

Tapi bagaimana dengan insiden transportasi kita? Bencana longsor? Banjir? Itu sebuah bencana yang harusnya bisa kita hindari. Bukan begitu? Saya yakin semua orang juga tahu.

Saya jadi teringat sebuah pembicaraan makan siang bersama Ujay dan Weno beberapa hari lalu. Kami membahas masalah ketidaksempurnaannya kinerja masyarakat Indonesia dan tidak pedulinya bangsa kita ini terhadap prosedur-prosedur keamanan standar, yang jelas-jelas bakal menyelamatkan kita.

Mulai dari hal yang sederhana. Berapa orang sih yang memakai sabuk pengaman setiap saat? Memakai helm di jalan-jalan kecil yang tidak berpolisi? Menyebrang jalanan tidak melalui Zebra Cross? Berapa jumlah penumpang kereta ekonomi? Apakah melebihi daya tampungnya?

Beberapa hari lalu, di mana Presiden SBY mengadakan sidak ke beberapa kapal di pelabuhan entah di mana. Di berita tersebut diceritakan bagaimana kecewanya SBY karena kapal-kapal tersebut beroperasi tapi tidak mengikuti standar operasi.

Contoh kesembronoan yang lain juga ada di pesawat Adam Air, seperti pernah ditulis oleh Nofie Iman di sini. Ada salah satu kejadian ‘lucu’ yang dibahas di sana, yang mana ketika ada lubang di sayap, penanganannya adalah dengan menambal pakai isolasi.

Kejadian-kejadian di atas adalah bentuk nyata bahwa kebanyakan pekerjaan yang kita lakukan tidak dikerjakan dengan sempurna. Yang penting asal jalan aja. Soal kualitas ntarlah. Emang kualitas perlu ya?

Kualitas. Sesuatu yang sudah seringkali kita abaikan. Di saat seperti ini lah muncul kesadaran bahwa orang-orang yang perfeksionis diperlukan.

Ayo Indonesia, kerja yang bener dan jujur!

nb. gambar diambil dari sini.