Archives for category: Technology

Siang ini saya dapat sebuah email dari seseorang di kantor, lebih kurang isinya seperti di bawah.

… Bisa minta tolong nggak untuk membuat kompilasi video acara kemarin? Kan kamu orang IT, pasti jago lah untuk urusan gini. Mohon bantuannya ya? Nanti kamu akan dapat arahan dari …

Email di atas merupakan salah satu contoh, yang mungkin sering terjadi terhadap orang-orang berlatar teknologi informasi (IT). Kadang mereka dianggap jagoan flash, Photoshop, troubleshooter PC, helpdesk, dan pembasmi sekaligus pembuat virus. Rasanya baru kemarin juga saya ditanyain apakah kerjaan saya adalah mengurusi kepastian berjalannya printer dan CPU di kantor. Seseorang juga pernah mengatakan ke saya bahwa bidang teknologi informasi, yang saya geluti itu, sempit. Tidak fleksibel.

Kepada orang-orang seperti itu biasanya saya akan segera menjelaskan tentang bidang-bidang apa saja yang ada di dunia teknologi informasi bahwa semuanya lebih dari sekedar yang ada di laptop milik Anda.

(more…)

acf52c3.jpg

Perlahan tapi pasti, saya mulai pusing dengan namanya banyaknya informasi yang masuk ke kehidupan saya. Aggregator udah mulai jarang saya baca, televisi cuma kepakai buat siaran sepakbola dan film-film favorit, dan surat kabar kebanyakan cuma dibaca headlinenya. Plus Benny and Mice deh kalo lagi hari Minggu.

Salahkah saya? Saya sadar banyak membaca itu baik. Karena pasti akan menambah wawasan. Tapi ketika bacaan menjadi terlalu banyak. Saya jadi berhenti membaca.

Sekarang sumber informasi sangat beragam. Ada banyak media, seperti saya sebutkan di atas. Khusus internet, pertumbuhannya tidak terkendali. Setiap orang aja udah ngeblog. Situs berita ada banyak banget. Masing-masing situs bahkan bisa menghadirkan ratusan artikel per harinya. Menjelaskan bahwa setiap orang punya pandangan masing-masing dan setiap orang akan mengakses informasi yang berbeda. Beda banget kan sama jaman orde baru dulu, di mana semua orang nonton Dunia Dalam Berita?

Dengan adanya banyak informasi ini, banyak hal yang baik bermunculan. Dunia menjadi datar. Persaingan menjadi terbuka. Anda tidak perlu menyentuh banyak birokrasi untuk mendapatkan informasi. Anda bisa sama pintarnya dengan orang yang berada di seberang samudera.

Tapi akhirnya akan ada pertanyaan baru: Dari sekian banyak berita atau artikel baru yang muncul di dunia maya, yang mana sih yang akurat dan penting? Nggak semuanya kan? Masalah validitas dan akurasi itu yang jadi penting. Informasi juga jadi tersebar. Ada di mana-mana. Butuh usaha lebih untuk mengumpulkannya.

Saya jadi teringat suatu kalimat dalam tulisan Seno Gumira Ajidarma dari milis ITB yang berjudul Kematian Paman Gober. Tulisan lengkapnya dapat dilihat di blog ini. Tulisan itu nggak ada hubungannya sama artikel ini. Tapi ada sebuah kalimat di sana yang mengingatkan saya akan banjir informasi yang terjadi.

Donal segera membuang lagi Koran itu dengan kesal. Karena memang tiada lagi berita yang bisa dibaca di Koran. Banyak kabar, tapi bukan berita. Banyak kalimat, tapi bukan informasi. Banyak huruf, tapi bukan pengetahuan.

Terkadang saya merasakan perasaan yang sama dengan Donal ketika membaca koran-koran atau situs-situs berita tertentu. Isinya nggak penting semua.

Tapi di sisi lain ada orang yang bingung karena ketidaktahuan saya terhadap sesuatu. Misalnya tentang film ini, artis ini pernah main film apa kek, ga tahu game itu kek, dan banyak yang lain. Saya memang nggak tertarik buat cari tahu ke sana. Belakangan saya jadi percaya itu karena makin tingginya keberagaman saat ini (Bukan pembenaran ya…). Menguatkan konsep tentang Long Tail. Jadi apa yang saya anggap penting beda dengan yang Anda anggap penting. Apa yang saya suka juga beda dengan yang anda suka. Jaman sekarang semua selera terakomodir. Siapa tahu koran yang saya anggap ga penting jadi sangat penting buat anda.

Saya jadi pengen tahu. Dari mana saja anda mendapatkan informasi? Nonton TV? Baca koran? Internet? Ngobrol sama teman? Atau ikutan SMS selebriti? :D

Sebuah info menarik datang dari TempoInteraktif. BNI menerapkan Service-Oriented Architecture (SOA) untuk sistemnya. Katanya mereka merupakan bank pertama di Indonesia yang menggunakan arsitektur ini. Berikut cuplikannya:

BNI adalah bank pertama di Indonesia yang serius membangun infrastruktur TI-nya berdasarkan konsep SOA sejak akhir 2006. Mulanya, kata Wisnu, pihaknya mengembangkan sendiri konsep tersebut. Namun, pada akhirnya, Wisnu mempercayakan solusi SOA yang ditawari IBM. Selain itu, Sun Microsystems Indonesia juga berada di tahap awal implementasi SOA, di sebuah bank.

Tampaknya perlahan-lahan ada tren perkembangan ke arah SOA di Indonesia. Sebab belakangan arsitektur ini mulai saya lihat di media lokal. Kemarin saya melihat istilah ini muncul di iklan lowongan kerja. Berikutnya, hari ini, berita ini muncul. Sebelumnya SDA Asia Magazine juga sempat menjadikan SOA jadi topik utamanya.

IMHO, arsitektur ini sendiri memang bagus untuk integrasi dan manajemen proses bisnis. Dia sangat lintas platform, karena data yang dipertukarkan berbasis teks (yang dibuat dalam bentuk XML) dan proses bisnisnya dapat didefinisikan terpisah dengan fungsi-fungsi bisnisnya. Jadi kalo ada penyusunan ulang proses bisnis, bukan masalah besar.

Tapi SOA ini sendiri menurut saya masih banyak menimbulkan kerancuan. Jika anda membuka banyak buku, akan ada banyak definisi yang berbeda mengenai arsitektur ini. Modelnya pun beda-beda. Belum lagi pembahasannya yang meluas ke arah lain seperti IT governance, business process management, enterprise service bus, dan lain-lain. Saya kadang suka bingung. Ada yang mendefinisikan SOA itu sebagai teknologi, ada juga yang bilang itu pendekatan saja.

Tapi bukannya jadi ga ada pegangan. OASIS sudah membuat reference model untuk SOA. Saya juga pada akhirnya sih memilih mengacu ke buku Thomas Erl: Service-Oriented Architecture, Concepts, Technology, and Design. Di sana pembahasan SOA diawali dengan pembahasan dari sisi konseptual, mulai dari paradigma service-oriented itu sendiri. Baru dilanjutkan ke penggunaan teknologi secara global dan bagaimana membangun sistem yang berbasis SOA.

Oh iya kok saya semangat banget ceritanya sih? Habis jadi inget TA :p. Seneng karena pembahasan dan studi yang saya lakukan nggak sekedar sesuatu yang mengawang-awang dan ga penting.