Archives for posts with tag: Life

Saya tergelitik oleh sebuah lagu lama dari the Killers, Human.

Are we human, or are we dancer
My sign is vital my hands are cold
And I’m on my knees looking for the answer
Are we human, or are we dancer

Lagu ini mengingatkan saya kalau seringkali manusia tidak memperlakukan dirinya sebagai manusia. Hanya ikut arus apa yang terjadi. No vision, no values, and just trying to survive their selves. Lupa akan mencari makna dari apa yang dilakukannya sehingga melepaskan dirinya dari keunikan seorang manusia: sisi spiritual, yang tidak dimiliki makhluk lainnya.

That makes them a dancer, not a human. Doing everything by instruction. Or maybe by a reason provided by other people. Semua menjadi mindless, tidak mendalami apa yang dilakukan. Waktu akan cepat berlalu begitu saja, tanpa arti dari pencapaian.

Stop being a dancer. People have to find their desire. That makes them strong and unbeatable.

* Picture is taken from here

I just bought a new book: NLP for Rookies. This book has many interesting stuff related into NLP (Neuro-linguistic Programming), a methodology designed to study, model, and train individuals in human excellence – not related with computer programming, for sure!

One of them is about four stages of competencies. I think these stages really really show us the process of learning. I copied the four stages from Wikipedia below.

Unconscious Incompetence
The individual neither understands nor knows how to do something, nor recognizes the deficit, nor has a desire to address it.

Conscious Incompetence
Though the individual does not understand or know how to do something, he or she does recognize the deficit, without yet addressing it.

Conscious Competence
The individual understands or knows how to do something. However, demonstrating the skill or knowledge requires a great deal of consciousness or concentration.

Unconscious Competence
The individual has had so much practice with a skill that it becomes “second nature” and can be performed easily (often without concentrating too deeply). He or she may or may not be able teach it to others, depending upon how and when it was learned.

What do you think? Are you experiencing these stages while learning something?

* Picture is taken from here

Ada sebuah tweet menarik dari teman saya hari ini.

Life is about choices. You choose you act!

Begitu membaca ini, saya langsung ingat sebuah poin penting dari sebuah pilihan. Sesuatu yang saya pelajari dengan susah payah selama ini. Jadi saya mau coba revisi menjadi seperti di bawah.

Life is about choices. You choose, act, and forget all options you had before!

Pilihan adalah sebuah cut off. Ini berarti kita mendedikasikan diri kita untuk apa yang kita pilih tersebut. Dan itu berarti, kita mengabaikan semua alternatif yang pernah ada sebelum pilihan itu diambil. Misalkan kita punya opsi A, B, C, dan D. Begitu kita memutuskan memilih A, opsi lainnya yaitu B, C, dan D berarti sudah menjadi tidak ada lagi.

Mempertimbangkan pilihan lain – meski kita menyatakan sudah memilih – berarti belum memilih. Hidup dengan keputusan yang tidak kunjung diambil, menurut saya menyiksa diri. Kita tidak bisa berkonsentrasi untuk dua hal yang bertolak belakang, karena opsi-opsi itu merupakan pilihan. Indecision is suffering.

Jangan takut untuk memilih! Kita tidak akan pernah dapat informasi yang cukup untuk memilih. Jika kita memiliki sejumlah opsi dan bisa berpikir untuk mempertimbangkannya, itu berarti di antara semuanya tidak ada pilihan yang buruk bukan? Sebuah pilihan jauh lebih baik daripada tidak pernah memilih. Tidak memilih membuat kita jalan di tempat, sementara dengan memilih, kita melangkah maju dan memikirkan apa yang akan sebaiknya kita lakukan untuk pilihan tersebut.