<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>/brahmasta/journal &#187; pemilu</title>
	<atom:link href="http://brahmasta.net/tag/pemilu/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://brahmasta.net</link>
	<description>What is most personal is most general – Carl Rogers</description>
	<lastBuildDate>Tue, 13 Jul 2010 13:49:17 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Saatnya Mendukung Hasil Pemilu</title>
		<link>http://brahmasta.net/2009/07/08/saatnya-mendukung-hasil-pemilu/</link>
		<comments>http://brahmasta.net/2009/07/08/saatnya-mendukung-hasil-pemilu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Jul 2009 12:45:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Brahmasta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesiana]]></category>
		<category><![CDATA[pemilu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://brahmasta.net/?p=485</guid>
		<description><![CDATA[Sedikit uneg-uneg dan pemikiran dari hasil pemilu hari ini. Saya yakin semua orang Indonesia minimal memiliki kepercayaan di dalam hatinya bahwa pasangan capres no. 2, Susilo Bambang Yudhoyono – Budiono memiliki peluang terbesar untuk memenangi perebutan suara di pemilu presiden  hari ini. Kalau kita menilik hasil quick count dari keempat lembaga survei hari ini, kepercayaan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sedikit uneg-uneg dan pemikiran dari hasil pemilu hari ini.</p>
<p>Saya yakin semua orang Indonesia minimal memiliki kepercayaan di dalam hatinya bahwa pasangan capres no. 2, Susilo Bambang Yudhoyono – Budiono memiliki peluang terbesar untuk memenangi perebutan suara di pemilu presiden  hari ini.</p>
<p>Kalau kita menilik hasil quick count dari keempat lembaga survei hari ini, kepercayaan di atas semakin terbukti kebenarannya. SBY-Budiono meraih suara lebih dari 50% di keempat hasil quick count tersebut. Bahkan tiga di antaranya mencapai 60%. Megawati-Prabowo menduduki peringkat kedua dengan suara sebanyak 25%, sementara JK-Wiranto di tempat ketiga dengan kisaran suara 12-15%.</p>
<p>Mengherankan. In my humble opinion, hasil ini tidak mempresentasikan ekspektasi pribadi. Bagi saya. Mega-Prabowo bukan calon favorit. Saya rasa kita semua tahu bagaimana kualitasnya ‘terbanting’ di seluruh debat pilpres. SBY-Budiono memang favorit, tapi saya tidak melihat pasangan ini harus menang telak mengingat beberapa kali kampanyenya tidak mencerminkan kenyataan sebenarnya (dengan memaparkan hasil pemerintahan seolah-olah sukses) dan ulah tim suksesnya yang tidak simpatik. Di tengah situasi seperti itu, saya memandang JK-Win seperti sesuatu yang <em>fresh</em> di tengah carut marut contoh yang lain itu, meski banyak kekurangannya. Kampanyenya menarik, dia bisa menyelesaikan masalah-masalah dengan solusi yang praktis. Bukan konseptual dan mengawang-awang seperti calon lainnya. Dari hal-hal yang saya lihat itu, rasanya kok hasil calon Mega-Prabowo dan SBY-Budiono terasa terlalu tinggi, dan calon JK-Wiranto terlalu kecil.</p>
<p>Hasil yang mengherankan ini bagi saya seolah didukung dengan masalah-masalah yang muncul beberapa hari menjelang pemilu hingga hari ini. Kadang dalam hati ini bertanya-tanya. Apakah ada kecurangan dalam proses pemilihan kali ini? Apakah ada rencana besar yang tersembunyi di balik pemilu yang bersih dan demokratis?</p>
<p>Semua itu bisa membawa kita ke dalam kesimpulan kalau pemilu ini tidak sempurna. Ada pelanggaran terjadi, ada kecurangan terjadi. KPU sebagai penyelenggara juga tidak sempurna karena masih menyisakan masalah DPT hingga detik-detik terakhir.</p>
<p>Tapi di luar itu semua, saya cukup takjub dengan pemilu tahun ini. Sebuah kemajuan yang luar biasa nggak sih? Coba saja bandingkan dengan pemilu tahun 2004 kemarin. Sekarang ada debat capres.  Quick count dilakukan beberapa lembaga survei dan bisa menjadi acuan. Kalau kita melihat ke pemilu legislatif, kini setiap orang punya hak untuk mencalonkan diri dan mengkampanyekan dirinya untuk menjadi wakil rakyat. Selain itu ada fenomena menarik juga di dunia maya dengan hadirnya <a href="http://politikana.com">Politikana</a>, yang kini jadi sarapan saya setiap hari.</p>
<p>Negeri ini seperti sedang belajar, dengan berawal dari sesuatu yang awalnya tidak sempurna, penuh tambal sulam, dihadiri ketidakkompetenan, tapi on track. Pelan-pelan saya merasa proses ini akan bisa membawa Indonesia ke negara yang lebih demokratis. Asal kualitas prosesnya tidak jalan di tempat.</p>
<p>OK, kita boleh optimis melihat demokratisasi. Tapi hal lain saya rasa juga penting adalah dukungan ke presiden terpilih. Seperti apapun presidennya, sehebat apapun visi dan misinya, jika tidak ada dukungan dari seluruh elemen pemerintahan dan rakyat, bakal tidak ada artinya. Itu yang saya rasakan ketika debat capres kemarin. Calon-calon presiden kita itu punya konsep-konsep yang bagus untuk menyelesaikan masalah-masalah bangsa ini. Bahkan jika tidak terlalu bagus, minimal pasti ada perbaikan jika semuanya berjalan dengan baik. Tapi sayangnya, semuanya masih dalam tataran konsep. Siapa yang menjamin bisa berjalan benar saat eksekusinya?</p>
<p>Well.. that’s all. Selamat untuk SBY-Budiono karena memenangi quick count hari ini. Siapapun presiden yang terpilih, mari kita dukung dengan segenap hati. Karena negara kita tidak akan maju kalau kita tidak bahu membahu membangun negeri ini.</p>
<p>Sekian uneg-unegnya. <img src='http://brahmasta.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://brahmasta.net/2009/07/08/saatnya-mendukung-hasil-pemilu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Golput, Caleg, dan Pemilu Online</title>
		<link>http://brahmasta.net/2009/04/10/golput-caleg-dan-pemilu-online/</link>
		<comments>http://brahmasta.net/2009/04/10/golput-caleg-dan-pemilu-online/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Apr 2009 23:58:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Brahmasta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesiana]]></category>
		<category><![CDATA[caleg]]></category>
		<category><![CDATA[golput]]></category>
		<category><![CDATA[it]]></category>
		<category><![CDATA[online]]></category>
		<category><![CDATA[pemilu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://brahmasta.net/?p=432</guid>
		<description><![CDATA[Tahun ini, saya tidak ada di dalam daftar pemilih. Golput. Saya seharusnya terdaftar sebagai pemilih di Bekasi, karena KTP saya sekarang dari sana. Tapi katanya sih karena waktu disurvei tidak ada di tempat, saya tidak terdaftar. Sementara proses KTP di Jakarta masih butuh sekitar enam bulan lagi buat selesai. Jadilah kami sekeluarga tidak disurvei. Sekeluarga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright size-medium wp-image-433" title="logo_pemilu2009a" src="http://brahmasta.net/wp-content/uploads/2009/04/logo_pemilu2009a-201x300.jpg" alt="logo_pemilu2009a" width="201" height="300" />Tahun ini, saya tidak ada di dalam daftar pemilih. Golput. Saya seharusnya terdaftar sebagai pemilih di Bekasi, karena KTP saya sekarang dari sana. Tapi katanya sih karena waktu disurvei tidak ada di tempat, saya tidak terdaftar. Sementara proses KTP di Jakarta masih butuh sekitar enam bulan lagi buat selesai. Jadilah kami sekeluarga tidak disurvei. Sekeluarga golput.</p>
<p>Kemarin saya dan Bapak saya sempat mendatangi TPS dekat rumah untuk memastikan nama tidak ada di daftar. Kami nggak rela kalau ternyata kami terdaftar dan nggak ada yang memberitahu. Takut surat suaranya dipakai macem-macem. Tapi ternyata memang tidak ada. Kami lalu melihat foto-foto caleg yang ada di sana, dan mengambil kesimpulan tidak salah juga kalau golput. Satu-satunya calon yang kami kenal Wanda Hamidah! Padahal entah sudah berapa hari kami melalui hari-hari dengan berbagai poster, spanduk, dan baligo caleg di sepanjang jalanan. Saya jadi merasa effort semua caleg itu sia-sia.</p>
<p>Ada dua pihak yang salah mungkin di sini. Pertama saya yang apatis, kedua caleg yang tidak komunikatif. Sebagai warganegara, mungkin mestinya saya proaktif. Berusaha mendaftarkan nama saya jauh-jauh hari sebelumnya, mencari info visi dan misi caleg-caleg Jakarta Selatan, dan kemarin datang untuk mencontreng dengan yakinnya. Caleg juga mestinya nggak cuma pasang poster doang. Seorang caleg idealnya menurut saya pasti punya visi yang jelas. Turun dong ke daerah-daerah. Visinya yang menyebar, bukan fotonya. Tulis di selebaran misalnya, atau kalau mau lebih canggih lagi, bikin blog atau minimal Facebook lah. Dari sekian banyak poster yang ada di jalan, sedikit sekali yang menggunakan media internet untuk berkomunikasi. Padahal sebenarnya murah dan efektif. Meski jumlah yang membaca sangat sedikit.</p>
<p><span id="more-432"></span>Bicara mengenai internet, bagaimana kalau pemilu online ya? Kan penghematannya luar biasa tuh. Kita nggak perlu mencetak kertas sebesar-besar dan sebanyak-banyak umat, kirim surat suara ke luar negeri, bikin TPS di daerah-daerah beserta perlengkapannya. Pemilu menghabiskan 21,93 triliun  rupiah dan kalau dibagi-bagi ke jumlah pemilih yang mencapai 171.068.667 orang, setiap pemilih menghabiskan sekitar 128 ribu rupiah. Sangat mahal. Padahal saya rasa membangun sistem yang bisa diakses 170 juta orang tidak  sampai 1 miliar kali ya. Dan baik  di dalam atau luar negeri, semua bisa mengakses. Perhitungan bisa dilakukan oleh sistem. Malam hari hasilnya sudah bisa keluar.</p>
<p>Tapi untuk bermimpi seperti di atas sih saya nggak berani, karena membayangkan kesulitan luar biasa yang akan ditimbulkan. Berapa sih pengguna internet Indonesia? Tahun 2008 pengguna internet sekitar 25 juta, dan  tahun 2010 saja diperkirakan ada 57 juta, berapa 2014? Saya yakin tidak mencapai 200 juta. Belum lagi sebagian besar pengguna internet adalah generasi muda, yang belum memilih. Mensosialisasikan penggunaan komputer dan internet sudah jadi masalah sendiri. Belum infrastrukturnya. Bagaimana memungkinkan pengadaan komputer ke seluruh daerah di negeri yang luas ini? Nggak semua daerah semaju Jakarta, ada komputer di mana-mana. Belum lagi masalah sekuritas. Untuk pemilu tradisional saja saya salut dengan kreativitas kecurangan yang diberitakan hingga hari ini. Ada serangan fajar berupa duit atau beras, surat suara yang sudah dicontreng dengan sendiri, panitia TPS yang mengintimidasi pemilihnya, pemilih yang berusaha mempengaruhi pemilih-pemilih lain. Kalau pemilu dibuat online, tidak perlu ada serangan fajar, tinggal sistemnya yang diserang. Terdengar lebih murah. Dan karena sistem berada di dunia maya, pelanggaran dapat dilakukan seanonim mungkin.</p>
<p>Pusing kan? Jadi tetap harus kembali ke manusianya. Asal ada itikad baik dari kita semua, pemilu pasti berjalan lancar dan bersih. Apalagi kalau calon pemimpin kita punya itikad baik semua. Pasti Indonesia akan jadi negara yang lebih baik dari sekarang.</p>
<p>Kalau dilihat-lihat lagi, semua proses pemilu kita dari pendaftaran hingga penghitungan tidak ada yang sempurna. Semua bermasalah. Saya yakin memang nggak mudah ya. Penduduk sebanyak ini, partai dan calon juga segambreng-gambreng. Kita semua juga belum jadi orang yang sejahtera, jadi peluang untuk berbuat kecurangan semakin tinggi.</p>
<p>Sekarang saya pribadi akhirnya berharap saja. Semoga jajaran tuan-tuan wakil rakyat yang terpilih bisa memegang amanahnya dengan baik. Jadi wakil-wakil rakyat yang memikirkan rakyatnya lah. Do some  improvements bung! Anda dibayar mahal sama rakyat. Setidaknya buatlah kami nggak merasa rugi membayar pajak dan membuat laporan SPT akhir bulan kemarin. <img src='http://brahmasta.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://brahmasta.net/2009/04/10/golput-caleg-dan-pemilu-online/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
