<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>/brahmasta/journal &#187; taxi</title>
	<atom:link href="http://brahmasta.net/tag/taxi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://brahmasta.net</link>
	<description>What is most personal is most general – Carl Rogers</description>
	<lastBuildDate>Tue, 13 Jul 2010 13:49:17 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Kisah Hidup Supir-Supir Taksi</title>
		<link>http://brahmasta.net/2009/04/14/kisah-hidup-supir-supir-taksi/</link>
		<comments>http://brahmasta.net/2009/04/14/kisah-hidup-supir-supir-taksi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Apr 2009 22:04:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Brahmasta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesiana]]></category>
		<category><![CDATA[inspiration]]></category>
		<category><![CDATA[Life]]></category>
		<category><![CDATA[taxi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://brahmasta.net/?p=437</guid>
		<description><![CDATA[Kalau lagi naik taksi sendirian dan menjalani rute yang jauh, biasanya saya akan mengajak sopir taksi tersebut ngobrol ngalor ngidul. Mulai dari hal-hal yang sepele sampai serius. Biasanya yang keluar itu curhatan, kisah hidupnya, atau pandangan politik. Sampai sekarang, saya masih ingat beberapa yang menarik. Sampel pertama adalah seorang supir taksi yang sangat uzur. Ia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright size-medium wp-image-439" title="taksi_1" src="http://brahmasta.net/wp-content/uploads/2009/04/taksi_1-300x286.jpg" alt="taksi_1" width="210" height="200" />Kalau lagi naik taksi sendirian dan menjalani rute yang jauh, biasanya saya akan mengajak sopir taksi tersebut ngobrol ngalor ngidul. Mulai dari hal-hal yang sepele sampai serius. Biasanya yang keluar itu curhatan, kisah hidupnya, atau pandangan politik. Sampai sekarang, saya masih ingat beberapa yang menarik.</p>
<p>Sampel pertama adalah seorang supir taksi yang sangat uzur. Ia mengeluh kepada saya atas kesulitan ekonomi yang dia alami. Kemudian dia membandingkan masa-masa sekarang dengan orde baru dan orde lama. Dia tampaknya begitu bangga dengan Soekarno. Secara detil dia jelaskan bagaimana kehidupan masa kecilnya saat Soekarno masih berkuasa. Makan siang dan susu gratis di sekolah, sekolah libur kalau dia datang sepulang dari luar negeri untuk menyambut dia datang. Kemudian dia juga bercerita bahwa Soekarno-lah presiden terbaik, yang benar-benar memperjuangkan namanya rakyat. Terutama rakyat kecil. Soekarno tidak mau membuat rakyatnya menderita.</p>
<p>Sampel kedua, sopir taksi flamboyan. Dia punya tujuh istri dan berencana menambah lagi. Dia punya usaha sampingan penyewaan mobil, dan secara berulang-ulang menjelaskan kepada saya bahwa itu sangat menguntungkan. Kami sempat melakukan perhitungan berapa yang dia dapatkan sebulan dari bisnisnya itu. Satu hal yang cukup aneh adalah profesi sampingannya adalah penyanyi dangdut. Dia sempat menanyakan kepada saya apakah sudah pernah melihat video klipnya, dan sampai saya turun dari taksi pun, dia mengingatkan saya untuk melihat video klipnya.</p>
<p><span id="more-437"></span>Sampel ketiga adalah sopir taksi putus cinta. Ini agak panjang ceritanya, bahkan sampai berbuntut perjalanan saya tambah jauh karena nyasar. Dia cerita kalau dulu sebelumnya sempat bekerja di perusahaan asing dan memperoleh gaji cukup tinggi, sampai bisa beli mobil sendiri. Sayang dia terlibat masalah dengan bosnya hingga dipecat lalu mengalami kesulitan keuangan hingga menjual mobilnya. Dia tidak bercerita kepada orangtuanya mengenai masalah ini, tapi dia cerita ke pacarnya. Repotnya, pacarnya langsung mutusin dia begitu tahu dia sekarang jadi sopir taksi. Untungnya saat dia bercerita ke saya, minggu depannya dia akan menjalani wawancara dengan sebuah perusahaan, dan kata dia sih, kemungkinan besar bakal diterima. Tapi dia bersumpah tidak akan kembali ke pacarnya itu.</p>
<p>Sampel keempat, sopir taksi satu kampung. Pertanyaan standar saat mulai mengajak ngobrol itu adalah daerah asal. Dan ternyata sopir taksi itu besar di Duri! Kampung saya. Si Pak supir ini hidup sekitar tahun 60-an di sana. Berarti dia hidup saat Duri masih benar-benar kota kecil, meski sudah ada Caltex di sana. Dia tinggal di Simpang Padang, dekat sebuah bioskop terkenal di masa itu. Sekarang bioskopnya sudah menjadi ruko. Dia juga bercerita kalau orangtuanya bekerja di Caltex, sama seperti Bapak saya. Tapi sekitar tahun 70-an pensiun. Sudah lama sekali, jauh berbeda dengan Bapak saya yang mulai bekerja tahun 1984.</p>
<p>Sampel terakhir adalah supir taksi yang mengajarkan saya untuk bersyukur. Nah kalau yang ini oke banget. Saya baru malam ini bertemu dengan supir taksi seperti ini dan benar-benar merasa bersyukur bertemu dengannya. Hari ini saya sedang cukup kalut memikirkan hari esok di mana saya mulai bekerja lagi dengan setumpuk pekerjaan yang sudah menanti untuk diselesaikan. Tapi dia datang mengantarkan saya dengan berkali-kali ucapan syukur dan pasrah atas yang dia alami kepada Tuhan. Entah berapa kalimat Alhamdulillah yang keluar, meski yang dia dapat tidak seberapa. Saya mendapat cerita tentang anak-anaknya, berapa penghasilan yang dia dapat dari taksi, dan betapa dia tidak ada masalah dengan itu. Dia percaya Tuhan akan memberikan yang terbaik. Mengagumkan.</p>
<p>Sampel terakhir ini akhirnya yang mengantarkan saya untuk menulis cerita ini. Benar, kita harus bersyukur. Kita kadang tidak tahu kalau apa yang sudah kita sudah dipenuhi berkah. Kita terus melihat ke atas dan merasa kurang, tanpa mensyukuri segala nikmat yang sudah terlalu terbiasa untuk terasa.</p>
<p>Kenapa saya suka mengajak ngobrol mereka? Soalnya saya sering sekali mendapatkan sudut pandang baru setiap kali berbicara dengan mereka. Kadang kasihan juga, dari pagi sampai malam mengarungi jalan raya mengejar setoran. Ada yang ditarget harus mencapai lima ratus ribu rupiah sehari baru bisa dapat 20% dari itu, ada juga yang mendapat sebagian dari berapapun yang dia terima dari penumpang.  Jadi saya salut sama supir taksi sampel terakhir, yang tetap mensyukuri hidupnya.</p>
<p>Jadi itulah cerita yang saya punya dari naik taksi. Entah cerita apa lagi dari mereka yang saya dapat besok-besok. <img src='http://brahmasta.net/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://brahmasta.net/2009/04/14/kisah-hidup-supir-supir-taksi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
